Gaya Hidup

Menggali Pesan Tersirat di Balik 7 Motif Batik Khas Banyuwangi

Senin, 02 Oktober 2023 - 10:45 | 99.90k
Beragam kreasi fashion kain Batik Banyuwangi dengan sentuhan mewah dari desainer muda Bumi Blambangan. (Foto: Laila Yasmin/TIMES Indonesia)
Beragam kreasi fashion kain Batik Banyuwangi dengan sentuhan mewah dari desainer muda Bumi Blambangan. (Foto: Laila Yasmin/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Hari Batik Nasional adalah saat yang tepat untuk merayakan salah satu kekayaan budaya terbesar. Batik telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, uniknya setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan makna dalam batiknya. Salah satunya adalah Banyuwangi, yang memiliki ragam batik dengan motif dan filosofi yang sangat menarik jika diulik. Yuk, kita bahas 7 motif batik khas Banyuwangi yang paling populer dengan filosofi yang mendalam:

1. Motif Gajah Oling

Mari kita berkenalan dengan salah satu motif batik yang menjadi primadona di Banyuwangi yaitu motif Gajah Oling. Nama itu sendiri sudah mengundang rasa penasaran, bukan?.

Jika kamu perhatikan, motif Gajah Oling hadir dengan gambar yang menyerupai belalai gajah yang terlipat hingga membentuk seperti tanda tanya.

Namun, dibalik keindahan tersebut, ternyata Gajah Oling memiliki peran sebagai simbol kebesaran. Gajah, dengan ukurannya yang besar dan kuat, adalah hewan yang sering dianggap sebagai simbol keagungan.

Tapi tunggu, ada lagi makna yang lebih dalam. Kata "Oling" dalam masyarakat Suku Osing berasal dari kata "Eling," yang secara harfiah berarti pengingat. Jadi, ketika kamu melihat motif Gajah Oling, ini adalah pengingat kepada yang Maha Besar, kepada Sang Pencipta yang tak terukur kebesarannya.

Namun, juga ada gambar bunga kelapa dan kupu-kupu yang begitu indah. Bunga kelapa adalah simbol kebermanfaatan. Seperti pohon kelapa yang tiap bagian memiliki manfaatnya sendiri, kita juga diajarkan untuk bermanfaat bagi sesama.

Kupu-kupu, dengan transformasinya dari ulat ke kepompong hingga menjadi kupu-kupu, menggambarkan perubahan dan keindahan dalam hidup. Jadi, batik Gajah Oling adalah cerminan kebesaran, pengingat akan Sang Pencipta, dan ajakan untuk selalu bermanfaat serta bertransformasi menjadi pribadi yang lebih indah.

2. Motif Kangkung Setingkes

Dalam dunia batik Banyuwangi, ada satu motif yang simpel namun sarat dengan makna mendalam, yaitu motif Kangkung Setingkes. Goresan canting pada kain mori membentuk gambaran Kangkung yang diikat dalam satu ikatan, menghadirkan keindahan dalam kesederhanaannya.

Kangkung, sebagaimana yang kita tahu, adalah salah satu jenis sayuran yang tumbuh subur tanpa banyak gangguan hama. Ketahanan alami ini menjadikan Kangkung seringkali menjadi simbol kesuburan. Bagaimanapun juga, ini adalah gambaran yang lebih dalam daripada sekadar hasil panen yang melimpah.

Motif Kangkung yang diikat bersama melambangkan persatuan dalam masyarakat Banyuwangi. Seperti kangkung yang tumbuh berdampingan tanpa hambatan, begitu juga manusia diharapkan untuk hidup bersama dalam harmoni.

Ini adalah pengingat bahwa persatuan adalah kunci kesuksesan dalam kehidupan bermasyarakat. Terlepas dari perbedaan dan keragaman, seperti Kangkung yang berbeda dalam satu ikatan, kita dapat tumbuh bersama dalam kedamaian.

3. Motif Kopi Pecah

Gambaran biji kopi yang pecah ini sebenarnya mengandung pesan tentang perjuangan dan pengorbanan para petani kopi di Banyuwangi. Sebelum kita menyeruput secangkir kopi yang harum, ada banyak tahap perjuangan yang harus mereka lalui. Biji kopi yang pecah justru menghasilkan rasa dan aroma yang lebih kaya.

Lebih dari sekadar gambaran visual, motif Kopi Pecah juga mencerminkan peran besar Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil kopi robusta terkemuka di Indonesia. Di wilayah ini, kamu akan menemukan berbagai varietas kopi yang terkenal seperti Kopi Lanang, Kopi Jaran Goyang, Kopi Gombengsari, Kopi Kemiren, dan masih banyak lagi.

Batik-2.jpgBeragam kreasi fashion kain Batik Banyuwangi dengan sentuhan mewah dari desainer muda Bumi Blambangan. (Foto: Laila Yasmin/TIMES Indonesia)

Banyaknya area penghasil kopi di Banyuwangi menjadikan kopi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya lokal. Kopi adalah minuman yang mempersatukan orang-orang. Selain itu, kopi juga memberikan mata pencaharian bagi banyak petani di wilayah ini.

Jadi, ketika kamu melihat motif Kopi Pecah dalam batik Banyuwangi, ingatlah bahwa di balik keindahannya ada cerita perjuangan, keharuman, dan keberagaman yang memadukan orang-orang dalam cinta bersama terhadap kopi. Batik ini adalah penghormatan kepada para petani dan produk kopi yang membanggakan Banyuwangi.

4. Motif Galaran

Batik Banyuwangi memang kaya akan makna dan filosofi, motif Galaran adalah salah satu contoh yang menarik. Terlihat sederhana dengan gambaran bambu yang dipecah-pecah, tetapi di dalam sederet goresan itu, terdapat pesan yang dalam.

Dalam bahasa setempat, Galaran mengacu pada tempat tidur yang terbuat dari potongan bambu. Motif ini menggambarkan proses pembuatan alas tidur bambu dengan memecah bambu itu sendiri. Bambu, yang merupakan bahan dasar dari motif ini, adalah bahan yang sangat berguna di Banyuwangi.

Ketika bambu dipecah, serat-seratnya yang terhubung tetap bersatu. Ini adalah analogi yang indah untuk masyarakat Banyuwangi. Walaupun mungkin terlihat seperti individu yang berbeda-beda, tetapi mereka tetap terhubung sebagai satu kesatuan yang utuh.

Lebih jauh lagi, motif Galaran mencerminkan tingginya tingkat kreativitas masyarakat di Banyuwangi. Daerah Gintangan Rogojampi, contohnya, wilayah ini merupakansentra perajin bambu terkenal yang telah menciptakan hasil kreasi bambu yang mendunia.

Dengan demikian, Galaran adalah pengingat bahwa keragaman adalah sumber kekuatan. Dalam persatuan dan kreativitas, masyarakat Banyuwangi telah menciptakan keajaiban dari bahan sederhana seperti bambu. Dalam setiap goresan batik Galaran, terkandung semangat dan kekuatan persatuan yang membangun Banyuwangi.

5. Motif Paras Gempal

Paras Gempal secara harfiah menggambarkan bagian keras di dasar sumur atau sungai yang bisa pecah. Ini adalah pengingat kepada kita untuk saling menguatkan dan mempertahankan persatuan dalam masyarakat.

Dalam bahasa sehari-hari, Paras mengacu pada sesuatu yang keras, seperti batu. Sementara itu, Gempal merujuk pada sesuatu yang runtuh atau pecah.

Namun, ketika kita menggabungkan keduanya, Paras Gempal memiliki makna yang dalam, yaitu bahwa sekeras apapun hati manusia, pasti bisa diluluhkan dengan kasih sayang dan kesetiaan.

Batik-3.jpgBeragam kreasi fashion kain Batik Banyuwangi dengan sentuhan mewah dari desainer muda Bumi Blambangan. (Foto: Laila Yasmin/TIMES Indonesia)

Motif ini mengajarkan kita tentang pentingnya cinta dan persatuan dalam menjaga harmoni masyarakat. Bagian keras yang bisa pecah di dasar sumur atau sungai mencerminkan kerapuhan yang ada dalam hati manusia. Namun, dengan cinta dan kesetiaan, kita dapat merajut kembali hubungan yang retak.

Jadi, motif Paras Gempal dalam batik Banyuwangi, merupakan pengingat akan kekuatan cinta dan persatuan dalam menjaga keharmonian masyarakat. Dalam setiap goresan kain, terkandung pesan yang menginspirasi untuk saling mendukung dan menjaga persatuan di tengah kerapuhan kehidupan.

6. Motif Manuk Kecaruk

Dalam motif ini, kita melihat pertemuan dua burung yang penuh dengan makna. Pertama-tama, pertemuan dua burung mencerminkan kasih sayang dan persahabatan.

Ini adalah simbol dari hubungan yang erat antara individu, sebuah pengingat bahwa cinta dan persahabatan adalah nilai-nilai penting yang harus kita pelihara dalam hidup.

Selain itu, burung juga bisa diasosiasikan dengan kebebasan. Mereka melambangkan keindahan dan kebebasan alam yang harus kita jaga dan lestarikan. Pesan dalam batik Manuk Kecaruk adalah bahwa kita harus menjaga alam dan keanekaragaman hayati serta menghargai keindahan alam ini.

7. Motif Jajang Sebarong

Salah satu motif batik yang mencerminkan nilai-nilai penting dalam budaya Banyuwangi adalah Jajang Sebarong.

Batik ini menggambarkan gambar Bambu (jajang) yang disatukan (sebarong), dan dalam simpelnya bentuk ini, terdapat pesan luhur. Pertama-tama, penggabungan Bambu dalam satu motif adalah simbol persatuan. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan terbesar terletak pada persatuan.

Persatuan adalah pondasi bagi masyarakat yang kuat dan berkembang. Di tengah perbedaan dan keragaman, kita dapat mencapai lebih banyak hal saat kita bersatu.

Selain itu, Jajang Sebarong juga melambangkan perdamaian. Di dunia yang sering kali penuh dengan ketegangan, pesan perdamaian dalam batik ini sangat berharga. Bambu yang rukun dan bersatu mengingatkan kita bahwa perdamaian adalah hal yang kita semua harapkan dan perlu kita jaga.

Terakhir, keindahan dalam motif ini adalah cerminan dari alam yang subur dan nyaman di Banyuwangi. Alam yang indah ini adalah harta karun yang perlu dijaga. Keindahan alam dan persatuan masyarakat adalah dua hal yang sangat berharga bagi Banyuwangi, dan keduanya tercermin dalam Jajang Sebarong.

Motif-motif ini hanyalah beberapa dari lebih dari 40 motif batik khas Banyuwangi yang memiliki cerita dan makna mendalam. Tiap motif batik mengandung pesan filosofis tersendiri yang mengajarkan nilai-nilai penting tentang kehidupan dan persatuan.

Jadi, di Hari Batik Nasional ini, yuk kenakan batik Banyuwangi dan rasakan kekayaan warisan budaya yang menyatu dalam dunia fashion kekinian. Ini adalah cara yang sempurna untuk menghormati budaya dan mengenali lebih dekat kisah di balik batik yang kamu kenakan. Jadi motif yang mana nih pilihan kamu? (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES