Gaya Hidup

Mengenal Lebih Dekat Sakura, Bunga Nasional yang Penting dalam Sejarah Jepang

Minggu, 08 Oktober 2023 - 06:04 | 106.05k
Festival Hanami Jepang yang memiliki makna melihat bunga dan di zaman modern ini diadakan untuk hal yang ramai dengan duduk-duduk berkumpul di antara pohon sakura (Foto: id.pinterest.com/TIMES Indonesia)
Festival Hanami Jepang yang memiliki makna melihat bunga dan di zaman modern ini diadakan untuk hal yang ramai dengan duduk-duduk berkumpul di antara pohon sakura (Foto: id.pinterest.com/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sakura merupakan sebutan untuk bunga yang tumbuh dari pohon bergenus prunus. Genus tersebut merupakan pepohonan yang umum dijumpai di Asia timur seperti Tiongkok, Korea dan terutama di Jepang. Istilah Sakura sendiri merujuk kepada pohon ceri hias yang buahnya tidak bisa dikonsumsi. Bunga Sakura dikenal juga sebagai bunga nasional Negeri Matahari Terbit (Jepang) yang akan mekar pada musim semi yaitu akhir Maret hingga akhir Juni. 

Bunga sakura di Jepang melambangkan awan karena mekar secara massal. Selain sebagai metafora keabadian untuk kehidupan yang sementara, bunga sakura juga menjadi bagian dari tradisi budaya Jepang dan dikaitkan dengan ajaran Shinto. Konsep mono no aware pun terwujud melalui bunga sakura dan sudah dipahami sejak abad 18 oleh cendekiawan Motoori Norinaga.

Sakura merupakan simbol penting yang kerap diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, simbol untuk mengekspresikan ikatan antar manusia, keberanian, kesedihan dan juga kegembiraan. Oleh karena itu, bunga sakura sangat sering digunakan sebagai simbol dalam seni Jepang seperti anime, manga, dan film serta pertunjukkan musik untuk menciptakan efek ambien. Salah satu lagu yang populer di Jepang yang sering dinyanyikan dan dikenal dengan nama shakuhachi adalah lagu yang bertajuk “sakura”.

Selama Perang Dunia II, bunga sakura dijadikan sebagai sarana motivasi bagi rakyat Jepang untuk meningkatkan nasionalisme dan semangat militer. Bahkan sebelum perang, bunga ini telah digunakan dalam propaganda untuk membakar semangat mereka, seperti yang tercantum dalam lagu "Song of Young Japan" yang menyerukan jiwa prajurit yang bergembira dengan berlimpahnya bunga sakura yang mekar.

Pada tahun 1932, Akiko Yosano menghasilkan puisi yang menyerukan tentara Jepang untuk menanggung penderitaan di Tiongkok dan membandingkan para tentara yang tewas dengan bunga sakura. Meskipun argumen yang mengatakan bahwa rencana pertempuran Teluk Leyte yang melibatkan seluruh kapal Jepang akan membahayakan negara jika gagal, namun permintaan untuk memperbolehkan angkatan laut mekar sebagai "bunga kematian" telah melenyapkan argumen tersebut.

Diketahui bahwa pesan terakhir bagi pasukan di Peleliu yakni sebagai "Sakura, Sakura". Pilot Jepang akan melukisnya di sisi pesawat mereka sebelum melakukan tugas bunuh diri, atau bahkan membawa dahan bunga sakura dalam tugas mereka. Lambang bunga sakura melambangkan kedalaman dan kefanaan hidup bagi mereka yang juga menjadi instruksi dalam semangat menghadapi misi tersebut.

Dalam upaya untuk menghormati kaisar dan para pemuda yang mengorbankan jiwa mereka dalam misi bunuh diri, asosiasi estetika sudah melakukan perubahan dengan menggunakan simbol kelopak bunga sakura yang jatuh. Unit kamikaze pertama, yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik, memiliki subunit yamazakura atau bunga sakura liar yang menjadi simbol pengorbanan mereka. Pemerintah bahkan mengajak masyarakat untuk percaya bahwa jiwa para prajurit yang gugur bereinkarnasi menjadi bunga-bunga indah yang mekar di musim semi.

Bunga berwarna merah muda yang populer dikenal sebagai Sakura tidak hanya sebagai simbol musim semi di Jepang, tetapi juga menjadi simbol umum dalam seni tato tradisional Jepang, atau irezumi. Biasanya, bunga ini dipadukan dengan simbol-simbol klasik Jepang seperti ikan Koi, Naga atau Harimau. Tak heran jika bunga satu ini dipilih sebagai maskot Paralimpiade Tokyo 2020.

Selain itu cerita rakyat yang berkembang di Jepang mengatakan bahwa ketika arwah Sakura melepaskan wangi harumnya saat musim semi, maka karunia kecantikan dan keanggunannya harus benar-benar dirayakan. Hal ini dikarenakan bunga Sakura yang hanya mekar setahun sekali dan kelopaknya yang lembut dan halus hanya mekar dalam waktu yang sangat singkat. Filosofi bunga tersebut mengajarkan manusia untuk menghargai waktu, dimana hidup ini singkat namun terasa indah.

Walaupun menjadi salah satu ikon negara Jepang, bunga Sakura ternyata berasal dari Pegunungan Himalaya yang merupakan perbatasan Eropa dan Asia sebelum kemudian bermigrasi ke Jepang, lalu ke Eropa dan Amerika yang juga memiliki empat musim dalam setahun. Di Jepang, Sakura dapat diperlihatkan dalam beraneka ragam barang-barang konsumen termasuk kimono, alat tulis bahkan peralatan dapur bagi warga setempat. 

Jepang setiap tahunnya rutin mengadakan Festival Hanami yang memiliki makna melihat bunga. Festival tersebut merupakan perayaan orang Jepang akan mekarnya kembali bunga Sakura. Tradisi tersebut sudah ada selama berabad-abad lamanya yang awalnya hanya ditujukkan untuk warga kelas atas seperti Samurai dan anggota kekaisaran. Sampai akhirnya di zaman modern ini diadakan untuk hal yang ramai dengan duduk-duduk berkumpul di antara pohon sakura.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES