Gaya Hidup

Black Friday: Sejarah dan Fenomena Diskon Belanja Global

Kamis, 09 November 2023 - 04:00 | 64.76k
Ilustrasi: para wanita berbelanja saat Black Friday. (FOTO: Rawpixel/Freepik)
Ilustrasi: para wanita berbelanja saat Black Friday. (FOTO: Rawpixel/Freepik)

TIMESINDONESIA, JAKARTABlack Friday adalah salah satu peristiwa tahunan yang dinanti-nantikan di seluruh dunia. Hari ini bukan hanya tentang berbelanja, tetapi juga tentang menikmati diskon luar biasa dan mengejar penawaran terbaik.

Namun, tahukah Anda bahwa ada sejarah panjang di balik fenomena Black Friday? Mari kita eksplorasi asal-usul dan perkembangan festival perbelanjaan yang mengubah cara kita memandang penawaran diskon.

Asal Usul Black Friday

Black Friday berawal di Amerika Serikat, dan sejarahnya memiliki akar yang panjang. Pada awalnya, istilah "Black Friday" tidak memiliki konotasi belanja.

Istilah ini muncul pada tahun 1869 ketika dua spekulan saham, Jay Gould dan Jim Fisk, berusaha memonopoli pasokan emas dan mendorong harga emas naik. Namun, upaya mereka gagal pada Jumat, 24 September, yang kemudian dikenal sebagai "Black Friday."

Penggunaan pertama istilah "Black Friday" dalam konteks belanja adalah di Philadelphia pada tahun 1960-an. Di sana, istilah tersebut digunakan oleh polisi dan petugas lalu lintas untuk menggambarkan kekacauan yang terjadi pada hari setelah Thanksgiving.

Karena banyak orang berlibur panjang, pusat perbelanjaan dan jalan-jalan di Philadelphia menjadi sangat ramai, dan polisi harus bekerja keras untuk mengendalikan lalu lintas yang padat.

Perjalanan Menuju Festival Perbelanjaan

Seiring berjalannya waktu, konsep Black Friday mulai beralih dari kerumunan di jalan-jalan menjadi hari penawaran diskon besar. Hari setelah Thanksgiving menjadi awal resmi musim perbelanjaan liburan di Amerika Serikat.

Pengecer mulai menawarkan penawaran khusus untuk menarik pengunjung ke toko mereka. Black Friday membantu mereka mengubah angka-angka merah dalam buku akun mereka (yang dikenal sebagai "the red" dalam dunia akuntansi) menjadi angka-angka hitam (yang dikenal sebagai "the black").

Selama tahun 1980-an, konsep Black Friday mulai menyebar ke seluruh negara, dan menjadi lebih dari sekadar penawaran diskon. Kesempatan ini menjadi simbol dimulainya musim belanja Natal dan waktu bagi keluarga untuk bersama-sama berbelanja setelah Thanksgiving.

Di samping toko-toko fisik, perkembangan teknologi dan e-commerce memperkenalkan konsep "Cyber Monday," hari belanja online setelah Black Friday.

Black Friday di Era Digital

Dalam era digital, Black Friday menjadi lebih global daripada sebelumnya. Internet memungkinkan pengecer dari seluruh dunia untuk menawarkan penawaran kepada pelanggan mereka, dan e-commerce semakin memengaruhi bagaimana kita berbelanja. Situs web belanja online menampilkan diskon besar, pengiriman gratis, dan penawaran khusus lainnya untuk menarik pelanggan.

Di seluruh dunia, negara-negara seperti Inggris, Kanada, dan bahkan Indonesia telah merayakan versi mereka sendiri dari Black Friday. Toko-toko besar dan toko kecil bergabung dalam perayaan ini untuk menawarkan diskon besar kepada pelanggan mereka.

Hal ini juga menjadi momentum yang dinantikan oleh banyak orang untuk memulai belanja liburan mereka.

Black Friday bukan sekadar hari belanja, tetapi juga sebuah festival yang mempengaruhi cara kita berbelanja, merayakan musim liburan, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Dengan sejarah yang panjang dan perkembangan pesat dalam era digital, fenomena ini terus berkembang menjadi peristiwa global yang tidak hanya diikuti oleh orang Amerika, tetapi juga oleh seluruh dunia.

Bagi banyak orang, Black Friday adalah hari yang dinantikan, di mana mereka dapat mengejar penawaran terbaik dan merayakan awal musim liburan dengan penuh semangat.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khodijah Siti
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES