Gaya Hidup

8 Metode Kuno Mengawetkan Makanan di Berbagai Belahan Dunia

Senin, 29 Januari 2024 - 03:37 | 52.08k
Kangina, cara pengawetan makanan di timur tengah. (Foto: Outpost/Tangkapan layar)
Kangina, cara pengawetan makanan di timur tengah. (Foto: Outpost/Tangkapan layar)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kemajuan teknologi memang telah membawa revolusi dalam dunia pengawetan makanan, tetapi metode kuno yang masih dilestarikan di beberapa bagian dunia menawarkan pandangan unik tentang bagaimana manusia secara kreatif mempertahankan kelezatan makanan tanpa bantuan modern.

Cara-cara lama tersebut tidak kalah jika dibandingkan dengan proses atau alat pengawetan saat ini. Bahkan awetnya buah-buahan atau makanan tersebut bisa bertahan hingga 6 bulan. Yuk, simak selengkapnya cara pengawetan bahan makanan di dunia berikut.

1. Kangina di Mesir: Menggunakan Lumpur Basah

Kangina merupakan salah satu proses pengawetan yang terkenal di Timur Tengah. Metode ini bisa ditemukan di Mesir, Afganistan, dan beberapa negara tetangga lainnya. Biasanya, metode ini digunakan untuk mengawetkan buah-buahan terutama anggur.

Proses diawali dengan membungkus makanan atau buah dalam lapisan lumpur basah sebelum dikeringkan. Lumpur yang sudah terisi makanan kemudian akan dikeringkan di bawah sinar matahari.

Diduga proses pengeringan tersebut memberikan lapisan pelindung tambahan yang membuat makanan bisa tahan hingga enam bulan. Kangina menjadi metode andalan untuk menjaga makanan tetap segar di tengah kondisi lingkungan yang kering.

2. China: Mengubur Sayuran di Tanah untuk Musim Dingin

Di berbagai daerah di China, tradisi mengubur sayuran di dalam tanah menjadi cara efektif untuk menghindari kerusakan selama musim dingin. Suhu tanah yang stabil serta kelembaban yang cukup akan membuat sayur mereka awet.

pengawetan-makanan-2.jpgCara pengawetan sayur dengan dikubur di China. (Foto: Yenny di China/Tangkapan Layar)

Awalnya, petani akan menggali lubang di kebun dan menyimpan sayuran di dalam lubang tresebut. Mereka kemudian menutupnya dengan jerami dan plastik serta mengakhirinya dengan menimbunnya dengan tanah.

Metode ini digunanakan oleh para petani di pedesaan China agar sayur mereka tidak rusak saat salju turun. Kondisi ini memungkinkan mereka menjual sayuran yang sudah mereka panen saat musim dingin tiba. Metode ini bisa mmembuat sayuran bertahan hingga 3 bulan.

3. Kimchi di Korea: Fermentasi dengan Cabai dan Sayuran

Korea terkenal dengan kimchi. Makanan ini sudah menjadi laksana sambal bagi kehidupan mereka dan wajib disuguhkan setiap waktu makan. Merubah sayuran menjadi kimchi akan membuat sayuran tersebut awet selama beberapa minggu.

Metode fermentasi sayuran menggunakan campuran cabai, bawang putih, cuka, dan bahan-bahan lainnya. Bahkan ada keluarga yang menambahkan minyak ikan, rasa kimchi ini akan mirip sambal terasi.

Proses fermentasi ini akan memberikan cita rasa yang unik. Cara ini merupakan metode pengawetan alami yang dapat membuat kimchi dapat bertahan hingga beberapa bulan dalam kondisi penyimpanan yang tepat.

4. Pengasapan di Scandinavia

Bangsa-bangsa di wilayah Scandinavia telah menggunakan teknik pengasapan dingin untuk mengawetkan daging dan ikan. Proses ini melibatkan penggantungan makanan di atas asap sisa pembakaran saat memasak.

Metode tersebut memberikan rasa asap khas dan melindungi makanan dari bakteri dan mikroba yang dapat merusaknya. Pengasapan bisa dilangsungkan berhari-hari, minimal seminggu. Daging yang diasapkan akan terus ditaruh jauh di atas tungku hingga nanti digunakan untuk dimasak. 

Berbeda dengan ikan asap lokal yang hanya akan bertahan beberapa hari, daging atau ikan di Sandinavia ini bisa bertahan selama berbulan-bulan.

5. India: Menyimpan Buah dalam Gula (Murabba)

Praktik jadul di India melibatkan pembuatan murabba. Murabba merupakan buah-buahan yang disimpan dalam larutan gula. Proses ini melibatkan pemanasan buah bersama dengan gula dan rempah-rempah, menciptakan campuran manis yang tidak hanya enak tetapi juga berumur panjang.

6. Jepang: Fermentasi Tsukemono

Jepang memiliki tradisi pengawetan makanan dengan metode "tsukemono," yaitu fermentasi sayuran dalam larutan garam, air, dan bumbu lainnya. Hasilnya adalah acar yang tahan lama dan kaya akan probiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan. 

pengawetan-makanan-3.jpgAcar sayuran ala Jepang. (Foto: Flatart/Freepik)

Beberapa keluarga bahkan memiliki toples acar besar yang akan ditambahan dengan air cuka setiap kali membuat acar. Jadi air asli dari acar pertama yang dibuat bisa berumur hingga puluhan tahun sesuai dengan umur toples tersebut pertama kali dibeli. 

7. Italia: Pengawetan dengan Garam (Bottarga)

Di Italia, terutama di daerah pesisir, mereka menggunakan metode pengawetan dengan garam untuk menciptakan bottarga, yaitu telur ikan yang dikeringkan dan diasinkan. Proses ini menghilangkan kelembaban dan menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga bottarga dapat bertahan lama.

Metode ini juga bisa ditemukan di Indonesia. Sebut saja ikan asin yang sering kita temui dijual di berbagai pasar tradisional di Negeri Katulistiwa ini.

8. Meksiko: Mengeringkan Cabai menjadi Chipotle

Meksiko memiliki tradisi mengeringkan cabai untuk membuat chipotle. Cabai dijemur di bawah sinar matahari sebelum diasap untuk memberikan rasa pedas dan asap khas. Proses ini menjadikan chipotle memiliki umur simpan yang cukup lama.

Dengan melihat beragam metode pengawetan makanan ini, kita dapat menghargai kebijaksanaan nenek moyang dalam memanfaatkan sumber daya alam. Kita juga bisa menghargai betapa mudahnya hidup kita saat ini tanpa  tanpa harus bersusah payah seperti jaman dulu. 

Meskipun metode kuno pengawetan makanan ini sudah jarang dilihat namun beberap awilayah masih menggunakannya. Tradisi lama ini tidak hanya menggambarkan kreativitas manusia, tetapi juga relevan dan berharga dalam menjaga keberlanjutan dan keanekaragaman kuliner di dunia yang terus berkembang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khodijah Siti
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES