Gaya Hidup

Tradisi Pasola di Sumba Barat, Pemerhati Budaya Menyebutnya Sebagai Alat Pemersatu

Sabtu, 02 Maret 2024 - 03:07 | 34.76k
Tradisi Pasola di Sumba Barat. (FOTO: Pesona wisata Daerah Sumba)
Tradisi Pasola di Sumba Barat. (FOTO: Pesona wisata Daerah Sumba)

TIMESINDONESIA, SUMBA TIMUR – Tradisi Pasola di Sumba Barat adalah tradisi permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas kuda antara dua suku yang berlawanan. Pasola merupakan bagian dari upacara ritual Marapu. 

Tradisi Pasola bagi masyarakat adat Marapu di Sumba Barat, adalah bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini juga sebagai perekat jalinan persaudaraan dalam bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.

“Adat tradisi Pasola itu untuk mempersatukan antara satu suku dengan suku lainnya tanpa adanya perbedaan yang mendasar satu sama lain,” kata pemerhati budaya Sumba, Umbu Andreas Jumat (1/3/2024). 

Tradisi-Pasola-2.jpg

Umbu Andreas menambahkan tradisi Pasola juga merupakan upacara penghormatan arwah leluhur yang sudah mendahului yang telah mewariskan adat Pasola..

“Tujuan dari upacara itu adalah untuk meminta keberkahan dan restu dari Sang Pencipta agar panen yang dilaksanakan di musim panen mendapat berkah yang melimpah. Jadi kata kuncinya bahwa adat Pasola sebagai alat pemersatu menuju keberkahan,” ungkapnya.

Pasola biasanya diadakan sekali dalam setahun. Yakni pada permulaan musim tanam di Kecamatan Lamboya, Wanokaka dan Lamboya Barat atau Gaura di Kabupaten Sumba Barat. Pasola bisanya digelar pada bulan Februari.

Ia menyebut, Pasola juga ditentukan oleh para Rato berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang dengan melihat tanda-tanda alam satu bulan sebelum Pasola. Warga harus mematuhi sejumlah pantangan sebelum mengahadapi Pasola. Seperti tidak boleh mengadakan acara pesta, bangun rumah dan lainnya.

Salah satu prosesi untuk menentukan tanggal Pasola adalah dengan melakukan tradisi “Nyale”. Tradisi ini berupa upacara mencari cacing laut yang dilaksanakan pada sore hari di pinggir pantai. Tradisi upacara Nyale ini dipimpin oleh seorang Rato.

“Kalau upacara Nyale ini pada bulan purnama karena saat itu cacing laut akan keluar di pinggir pantai maka para Rato memprediksi saat Nyale keluar pada pagi hari. Jika Nyale tidak keluar, maka Pasola tidak dapat dilaksanakan, Itu pun dianggap sial,” tuturnya.

Umbu menambahkan, tradisi Pasola memang sering memakan korban luka. Bahkan ada yang sampai meninggal dunia karena terkenan lemparan lembing kayu. Namun mereka tetap junjung tinggi sportivitas.

“Yah, aturan itu mereka patuhi. Usai pertandingan mereka tidak saling dendam sesama bahkan dalam pertandingan tidak boleh keluar dari arena permainan. Kalau mau membalas nanti pada Pasola yang akan datang lagi,” jelasnya.

Umbu mengungkapkan, dalam tradisi Pasola setetes darah binatang atau manusia yang tumpah dianggap sebagai pertanda baik bahwa hasil panen akan melimpah dan akan membawa kemakmuran bagi mereka di masa mendatang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES