Glutera News

Tatkala Emosi Digunakan untuk Mengambil Keputusan

Rabu, 21 Februari 2024 - 16:50 | 36.98k
Ilustrasi
Ilustrasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Seringkali orang memberi nasihat agar jangan mengedepankan emosi di dalam mengambil keputusan. Sebab keputusan yang hanya didasarkan pada emosi, maka hasilnya tidak akan menguntungkan, dan bahkan akan mencelakakan. 

Keputusan yang diambil oleh seseorang yang tatkala sedang sedih, marah, sedang perasaannya tersinggung, atau hatinya sedang gundah, maka yang dihasilkan bukan menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya, justru melahirkan masalah baru.

Keputusan merupakan salah satu hal yang mengarahkan jalan hidup seseorang. Pengambilan keputusan merupakan proses individu dalam menentukan alternatif pilihan pada situasi tertentu. Dalam mengambil sebuah keputusan, seseorang harus sangat berhati-hati. Emosi yang menyertai dalam pengambilan keputusan juga harus diperhatikan. 

Saat mengambil sebuah keputusan, kondisi emosi harus stabil agar pikiran dapat berfikir dengan jernih. Sehingga keputusan yang diambil tidak berdasarkan emosi saja namun merupakan hasil pemikiran yang matang. Hal ini dapat menghindarkan seseorang dari penyesalan.

Dapat dibilang, pola pikir bisa menjadi salah satu alasan yang memicu terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan. Secara lebih rinci, berikut sejumlah faktor yang bisa membuat kita cenderung salah mengambil sebuah keputusan.

Terlalu terburu-buru

Untuk bisa mempertimbangkan berbagai pilihan serta membuat sebuah keputusan, otak mesti bekerja dengan ekstra keras. Namun, proses ini tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.
Hal ini karena dalam melakukan hal-hal tersebut, otak perlu menelaah masalah, mencari berbagai solusi, mempertimbangkan bagaimana baik dan buruknya tindakan tersebut secara akurat, hingga memberikan penilaian atau evaluasi terhadap yang telah dilakukan.

Apabila kita merasa terburu-buru dan salah satu proses tersebut terlewati, maka keputusan yang diambil bisa jadi merupakan pilihan yang buruk. Kamu juga bisa mempertimbangkan masukan dari orang-orang yang ada di sekitarmu.

Optimistis yang berlebihan

Menjadi orang yang optimis itu memang baik, namun ternyata tidak selalu menguntungkan di sejumlah situasi. Terlebih jika rasa optimis tersebut sudah kelewat batas dalam diri kamu sehingga membatasi logika dalam mempertimbangkan segala konsekuensi.

Hal ini termasuk mengabaikan risiko yang mungkin saja terjadi dalam sebuah keputusan dan terlalu yakin bahwa segala hal buruk tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi, orang yang terlalu optimis cenderung akan menyalahkan faktor internal dari orang lain.

Sedang multi-tasking

Tidak jarang, multi-tasking bisa membuat seseorang salah mengambil suatu keputusan. Terlebih hal ini disebabkan karena kurangnya fokus sehingga tidak dapat berpikir secara mendalam sebelum memutuskan suatu hal. Akhirnya ini membuat seseorang kurang bisa mengetahui cara mencegah salah ambil keputusan.

Oleh karenanya, pada saat akan mengambil keputusan penting, ada baiknya kamu mengalokasikan waktu-waktu khusus untuk mendalami keputusan seperti apa yang akan diambil sekaligus konsekuensi yang bisa saja terjadi. Selanjutnya, ambillah keputusan pada saat tidak mengerjakan yang lain.

Adanya distraksi

Salah satu faktor dari pembuatan keputusan yang salah juga dapat diketahui dari adanya distraksi yang dialami seseorang. Misanya kamu sedang berpikir untuk mengambil keputusan lalu tiba-tiba malah mengecek handphone dan membuka sosial media.

Tentunya hal tersebut akan mengganggu kinerja otak untuk tetap fokus. Bisa saja karena langsung mengecek handphone, kamu akan langsung lupa dengan apa yang tadinya ingin dilakukan atau diputuskan.

Kurang bisa membuat pro dan kontra

Begitu banyak pilihan juga akan membuat seseorang menjadi ragu untuk menentukan keputusan mana yang sekiranya baik. Oleh karenanya, membuat daftar pro dan kontra dari setiap pilihan yang dipertimbangkan adalah hal yang perlu kamu lakukan.

Sayangnya, tidak semua orang mau dan mampu mengambil langkah ini. Sebagai contoh dengan cara mengambil catatan dan menuliskan semua pilihan dalam daftar lalu merenungkan kembali pilihan mana yang benar-benar terbaik.

Kondisi emosi yang kurang stabil

Kondisi emosi seseorang juga bisa menjadi penyebab terjadinya kesalahan dalam pengambilan suatu keputusan. Sebagai contoh ketika kondisi emosi sedang negatif, kamu akan cenderung lebih impulsif, dan bertindak secara tiba-tiba tanpa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi.

Kurang stabilnya emosi pada saat pengambilan keputusan tentunya kurang baik karena kamu sedang tidak dalam kondisi positif atau netral. Emosi yang sedang positif akan mendorongmu mengambil keputusan secara langsung, sedangkan saat netral atau stabil, kamu akan jauh lebih berhati-hati dan memahami risiko yang kemungkinan akan terjadi.

Bagaimana mengantisipasinya?Penyesalan memang akan selalu datang terakhir. Untuk itu sangat penting buat kamu mengetahui cara mencegah salah ambil keputusan sehingga keputusan apapun yang akan dijalankan dapat berdampak baik buatmu maupun orang lain ke depannya.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari penyesalan dan mengantisipasi terjadinya kesalahan. Berikut beberapa hal yang dimaksud.

Fokus dan jangan terjebak distraksi

Sebagai faktor terpenting dalam pengambilan keputusan, sifat fokus harus selalu kamu miliki. Kalau seseorang sedang fokus, berbagai pertimbangan bisa dilihat secara mendalam tanpa harus terjebak dalam distraksi yang mengganggu.

Berlatih mengambil keputusan sederhana

Kamu sebaiknya juga mulai berlatih mengambil keputusan-keputusan sederhana. Caranya dengan mengalokasikan waktu untuk berpikir secara fokus dan sebelum mengambil keputusan tersebut. Selanjutnya, kebiasaan ini bisa dijalankan pada keputusan yang lebih besar.

Membuat list hal positif dan negatif dari setiap keputusan

Kamu juga bisa membuat list hal positif dan kemungkinan negatif dari keputusan apa yang akan kamu ambil. Pahami kembali mana yang memang sedang dibutuhkan. Dan pastikan kamu sudah yakin dan berani mengambil keputusan dengan konsekuensi tersebut. (*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES