Indonesia Positif Universitas Islam Malang

Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Unisma Malang Teliti Risiko Usahatani Apel di Kota Batu

Rabu, 12 Juni 2024 - 14:08 | 10.63k
Pengambilan data di lapangan oleh tim Dosen Fakultas Pertanian Unisma Malang di kebun petani apel Desa Tulungrejo. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Pengambilan data di lapangan oleh tim Dosen Fakultas Pertanian Unisma Malang di kebun petani apel Desa Tulungrejo. (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Holtikultura merupakan salah satu subsektor dibidang pertanian yang memiliki peranan penting dalam peningkatan perekonomian nasional. Salah satu komoditas holtikultura yang memiliki peranan yang sangat besar dan memiliki nilai ekonomis tinggi adalah buah-buahan. Melalui target prioritas komoditas holtikultura tahun 2015-2019, Direktorat Jendral Holtikultura mengemukakan bahwa pemerintah menjadikan buah apel sebagai salah satu buah terpilih menjadi target prioritas pengembangan komoditas holtikultura. Kebijakan ini dilakukan untuk menekan impor apel agar mendorong produksi apel nasional, sehingga dapat menggeser apel impor bahkan bisa diekspor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, Provinsi Jawa Timur menduduki posisi pertama di Indonesia yang menghasilkan produksi apel sebanyak 509,367 ton. Daerah yang menjadi sentra produksi apel di Provinsi Jawa Timur adalah Kota Batu. Adapun Kecamatan Junrejo, Bumiaji, dan Batu yang menjadi fokus utama dalam usahatani apel. Ketiga daerah tersebut dapat memproduksi lebih dari 350.000 kwintal apel dalam satu tahun dan Kecamatan Bumiaji menjadi daerah yang paling banyak memproduksi apel di Kota Batu. Namun, produksi apel di wilayah tersebut dari tahun ke tahun jumlahnya semakin menurun.

Penurunan produksi apel sejalan dengan penyusutan lahan usahatani apel. Pernyataan tersebut didukung dengan data Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2015 luas lahan tanaman apel yang ada di Kecamatan Bumiaji mencapai 1.768,27 hektar. Tahun 2016 mulai sedikit menyusut menjadi 1.765,57 hektar dan tahun 2017 menjadi 1.759,69 hektar. Kemudian, pada tahun 2018 terdapat penambahan luas lahan sehingga menjadi 1.765 hektar. Akan tetapi kondisi tersebut tidak bisa bertahan, karena pada tahun 2019 mengalami penyusutan secara drastis hingga mencapai 1.092,8 hektar. Data tersebut juga didukung dengan data luas lahan tanaman apel di Kecamatan Bumiaji Tahun 2021 yang mengalami penyusutan hingga 866,6941 hektar.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dulkamar selaku Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kecamatan Bumiaji menyatakan bahwa tingkat produktivitas apel menurun disebabkan oleh biaya produksi yang tinggi, harga jual apel yang tidak sebanding dengan biaya produksi, umur pohon apel yang sudah tua, dan menurunnya kualitas tanah yang disebabkan karena pemakaian pupuk kimia secara berkepanjangan. Selain itu penurunan produksi yang tinggi juga dikarenakan manajemen risiko yang kurang baik ataupun adanya kemungkinan konversi lahan dari apel menjadi komoditas lainnya.

Adanya fenomena mengenai usahatani apel di Kota Batu, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Lia Rohmatul Maula, SP., MP. dan Dr. Dwi Susilowati, SP., MP.) tertarik mengkaji hal tersebut melalui sebuah penelitian dengan topik “Analisis risiko usahatani apel pada petani apel di Kota Batu Jawa Timur”.  Penelitian ini juga merupakan hibah institusi unisma (HI-ma tahun anggaran 2024). Penelitian tersebut dilakukan kepada 30 petani apel Desa Bulukerto dan 49 petani apel Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Sementara itu, hasil analisis risiko usahatani apel terbagi menjadi risiko harga, risiko produksi, dan risiko pendapatan.

Pertama, analisis risiko harga dalam usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu mencakup beberapa faktor yang mempengaruhi pendapatan dan ketahanan usahtani apel. Penelitian yang dilakukan di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo oleh Lia Rohmatul Maula, SP., MP. dan Dr. Dwi Susilowati, SP., MP., menunjukkan bahwa harga jual apel memiliki pengaruh signifikan terhadap total penerimaan petani. Kenaikan harga jual akan meningkatkan pendapatan, tetapi fluktuasi harga yang tidak menentu menjadi tantangan utama. Petani perlu memastikan bahwa produksi mereka tetap kompetitif dan memiliki daya saing tinggi dibandingkan buah lain untuk mempertahankan stabilitas pendapatan.

Adapun hasil olah data yang telah dilakukan mengenai risiko harga usahatani apel, menunjukkan bahwa harga rata-rata 1 kg apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah sebesar Rp 7.557,-. Harga jual apel bergantung pada kualitas buah, dimana responden menjual apel langsung pada tengkulak tanpa melihat ukuran buah. Semakin tinggi harga akan mempengaruhi penerimaan. Nilai simpangan baku pada harga apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo sebesar Rp 2.551,-.

Sementara itu, hasil perbandingan antara nilai simpangan baku dengan nilai rata-rata harga didapatkan koefisien variasi sebesar 0,34. Hasil perhitungan koefisien variasi tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien variasi harga apel dari petani apel yaitu < 0,5. terdapat peluang risiko harga kategori rendah yang akan diterima oleh petani apel. Hal tersebut ditunjang dengan nilai batas bawah harga (L). Nilai batas bawah harga (L) merupakan harga paling rendah yang mungkin diterima oleh petani yang melakukan usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Nilai batas bawah harga apel pada penelitian ini yaitu sebesar Rp 6.282,-/kg.

Untuk mengatasi risiko harga, petani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo menggunakan beberapa strategi seperti diversifikasi produk dan peningkatan kualitas apel. Petani juga dapat melakukan pemantauan pasar secara rutin dan bergabung dengan kelompok tani untuk mendapatkan informasi pasar yang lebih baik dan strategi penjualan yang efektif.

Secara keseluruhan, risiko harga dalam usahatani apel di kedua desa tersebut dapat diatasi dengan strategi manajemen yang baik, termasuk pengelolaan biaya, diversifikasi produk, dan peningkatan kualitas serta akses informasi pasar yang memadai. Dengan pendekatan ini, petani dapat meningkatkan daya saing apel mereka di pasar dan mengurangi dampak negatif dari fluktuasi harga

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kedua, risiko produksi usahatani apel merupakan risiko yang muncul akibat ketidakpastian jumlah hasil panen apel yang diperoleh dari usahatani itu sendiri. Adanya risiko produksi mempengaruhi perilaku petani dalam mengambil keputusan kedepannya. Pada hasil penelitian Lia Rohmatul Maula, SP., MP. dan Dr. Dwi Susilowati, SP., MP., menyebutkan bahwa rata-rata produksi apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah sebesar 2.607 ton/tahun. Nilai simpangan baku pada produksi apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo sebesar 7.402 ton/tahun. Hasil perbandingan antara nilai simpangan baku dengan nilai rata-rata produksi didapatkan koefisien variasi sebesar 2,84. Hasil perhitungan koefisien variasi tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien variasi harga apel dari petani apel yaitu > 0,5. Artinya, tingkat risiko yang dihadapi petani tinggi sehingga terdapat peluang kerugian yang akan diderita oleh petani apel. Hal tersebut ditunjang dengan nilai batas bawah produksi (L). Nilai batas bawah produksi (L) merupakan nilai produksi paling rendah yang diterima oleh petani yang melakukan usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Nilai batas bawah produksi usahatani apel pada penelitian ini yaitu sebesar 1.094 ton/tahun.

Tingginya risiko produksi usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu ini berkaitan dengan semakin banyak petani apel yang beralih ke komoditas lain. Hal tersebut akan berdampak pula terhadap menurunnya tingkat produktivitas apel. Hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa petani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo mengungkapkan alasan petani apel beralih ke komoditas lain yaitu disebabkan oleh biaya produksi yang tinggi, harga jual apel yang tidak sebanding dengan biaya produksi, umur pohon apel yang sudah tua, dan menurunnya kualitas tanah yang disebabkan karena pemakaian pupuk kimia secara berkepanjangan.       

Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh petani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu untuk mengatasi risiko yang berdampak pada penurunan produksi usahatani apel, antara lain: 1) revitalisasi pemanfaatan lahan usahatani apel berdasarkan kesesuaian tanaman apel dengan kondisi lingkungan; 2) menggunakan benih apel dengan varietas unggul yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim terutama perubahan suhu dan curah hujan, seperti apel anna, apel manalagi, atau apel rome beauty; 3) meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida yang mengarah pada upaya konservasi lahan dan pertanian ramah lingkungan; dan 4) rehabilitasi penanaman apel dengan mengganti tanaman apel yang sudah tua (tidak produktif) dengan apel yang masih muda.

Ketiga, setiap petani pasti memiliki tujuan untuk memaksimalkan pendapatan dalam kegiatan usahataninya. Pendapatan yang dimaksud merupakan nilai yang diperoleh petani (penerimaan) dikurangi dengan biaya usahataninya. Risiko pendapatan perlu diketahui petani dalam menentukan keputusan untuk mengelola suatu usahatani. Hasil penelitian Lia Rohmatul Maula, SP., MP. dan Dr. Dwi Susilowati, SP., MP., menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan dari usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah sebesar Rp 13.810.727,-. Nilai simpangan baku pada pendapatan apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo sebesar Rp 16.803.504,-.

Sementara itu, hasil perbandingan antara nilai simpangan baku dengan nilai rata-rata pendapatan didapatkan koefisien variasi sebesar 1,22. Hasil perhitungan koefisien variasi tersebut menunjukkan bahwa nilai koefisien variasi harga apel dari petani apel yaitu > 0,5. Artinya, tingkat risiko yang dihadapi petani tinggi sehingga terdapat peluang kerugian yang akan diderita oleh petani apel. Selain itu, hasil tabel 1 juga menunjukkan nilai batas bawah pendapatan (L). Nilai batas bawah pendapatan (L) merupakan pendapatan paling rendah yang mungkin diterima oleh petani yang melakukan usahatani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Nilai batas bawah pendapatan usahatani apel pada penelitian ini yaitu sebesar Rp 5.408.975,-.

Tingkat pendapatan petani apel di Desa Bulukerto dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah produksi, harga jual, dan biaya yang dikeluarkan dalam setiap produksi. Biaya produksi yang tinggi termasuk biaya tenaga kerja, pupuk, dan pestisida, dapat mengurangi keuntungan petani apel. Pengelolaan biaya yang efektif dan efisiensi dalam penggunaan input produksi menjadi kunci untuk meningkatkan pendapatan bersih. Berdasarkan hasil analisis risiko pendapatan usaha tani apel didapatkan hasil bahwa tingkat risiko pendapatan 79 petani apel tinggi.

Hal tersebut berkaitan dengan jumlah produksi yang kian menurun, harga jual yang didapatkan petani rendah, hingga pendapataan yang diterima tidak sebanding dengan biaya produksi. Hal ini apabila tidak dilakukan perumusan solusi akan berdampak pada kerugian yang akan dialami oleh petani apel pula dan semakin meningkatkan peluang petani apel beralih pada komoditas lain. Secara keseluruhan, risiko pendapatan dalam usahatani apel di kedua desa tersebut dapat diminimalkan dengan upaya yang sama saat menghadapi risiko harga usahatani apel. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES