Kesehatan

Vitamin Alami vs Vitamin Kimia, Mana yang Lebih Baik?

Jumat, 22 April 2022 - 13:54 | 59.53k
Sumber gambar: pexels.com
Sumber gambar: pexels.com

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Saat pandemi melanda, muncul fenomena masyarakat memborong suplemen vitamin. Suplemen vitamin ini biasanya berbahan dasar kimia untuk memenuhi kebutuhan pasar yang cepat dan mudah. Namun, ada juga suplemen vitamin berbahan dasar herbal.

Beberapa orang mungkin lebih memilih suplemen vitamin berbahan dasar kimia karena kepraktisannya, dan sebagian lainnya memilih suplemen vitamin berbahan dasar herbal karena alasan kandungan herbal alami yang ada di dalamnya.

Tapi, apa, sih, yang membuat dua jenis bahan suplemen vitamin ini berbeda jika dilihat dari sudut pandang kesehatan? Bersama Dr. O salah satu shipper Ninja Xpress, Simak info lengkapnya di bawah ini!
 
1.    Kandungan Mikronutrien

Kandungan mikronutrien saat mengonsumsi vitamin herbal cenderung lebih banyak dibandingkan jika mengonsumsi vitamin kimia. Komposisi pada vitamin kimia biasanya sudah diresepkan sedemikian rupa sehingga hanya memuat satu vitamin tertentu saja.

Misalnya, ketika seseorang mengonsumsi vitamin C dari produksi obat kimia, kandungan utama di dalamnya umumnya hanya vitamin C saja. Sedangkan, jika mengonsumsi vitamin C yang berasal dari tanaman herbal, misalnya daun kelor, senyawa seperti flavonoid dan antrakuinon serta mikronutrien lainnya juga ikut masuk ke dalam tubuh sehingga berbagai asupan zat yang bagus untuk tubuh, tidak hanya vitamin, bisa diperoleh tubuh.

Jadi, vitamin herbal tidak hanya memberikan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh tetapi juga mengandung lebih banyak zat antioksidan yang berguna untuk mengurangi kerusakan jaringan dalam tubuh.

2.    Tingkat Biovailabilitas

Di dunia farmasi, sering dikenal istilah bioavailablitias. Definisi istilah bioavailabilitas sendiri adalah jumlah relatif dan laju obat yang mencapai sirkulasi umum tubuh (sistem peredaran darah).

Terkait dengan vitamin herbal dan kimia, bioavailabilitas ini menjadi alat ukur apakah satu vitamin lebih cepat dan lebih mudah diserap oleh tubuh.

Beberapa vitamin kimia memiliki bioavailabilitas yang sama dengan vitamin yang berasal dari bahan herbal, misalnya vitamin C dan asam folat. Mengutip dari healthline.com, vitamin C dan asam folat yang diproduksi dari produsen kimia saat dibandingkan dengan vitamin C dan asam folat yang berasal dari bahan herbal memiliki bioavailabilitas yang mirip.

Namun, beberapa vitamin seperti B1, B2, B3, dan E yang berasal dari bahan kimia memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan vitamin yang berasal dari bahan alami dan herbal.

3.    Risiko Kelebihan Vitamin

Mengonsumsi vitamin dari bahan kimia memang lebih praktis karena hanya tinggal meminum satu tablet atau kapsul, tubuh sudah mendapatkan asupan vitamin.

Tapi, tahukah kamu kalau orang-orang yang biasa mengonsumsi vitamin dari bahan kimia biasanya memiliki jumlah kandungan vitamin lebih dari yang dianjurkan oleh ahli gizi? Jika dibiarkan, hal ini tentunya dapat mempengaruhi kesehatan seseorang dan dapat menyebabkan akibat berkelanjutan, yaitu keracunan.

Salah satu studi dari Annals of the New York Academy of Sciences di tahun 2019 menunjukkan bahwa orang-orang yang biasa mengonsumsi makanan fortifikasi dan suplemen vitamin yang berbahan dasar kimia cenderung memiliki kadar zat besi, asam folat, dan vitamin A yang melebihi batas asupan di dalam tubuhnya.

Kandungan vitamin memang baik untuk metabolisme tubuh, tetapi jangan sampai kadar vitamin yang ada terlalu tinggi dan justru malah mengganggu sistem kerja tubuh.

4.    Risiko Efek Samping

Tidak hanya risiko kelebihan kadar vitamin, sayangnya, vitamin yang berasal dari bahan kimia juga rentan dengan risiko efek samping negatif, yaitu timbulnya gangguan kesehatan tertentu.

Berdasarkan penelitian dari Advances in Nutrition di Amerika Serikat, konsumsi suplemen vitamin A dan beta karoten yang berasal dari bahan kimia memiliki hubungan dengan meningkatnya risiko terkena kanker tertentu. Bahkan, konsumsi vitamin A dari bahan kimia berisiko meningkatkan risiko terkena kanker hingga 16%.

Studi lain dari Molecules di Malaysia menemukan hubungan antara konsumsi suplemen vitamin A dosis tinggi yang berbahan dasar kimia dengan rendahnya kepadatan tulang pada perempuan, terlebih pada perempuan yang memiliki tingkat vitamin D yang rendah.

Emat poin di atas bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum memilih jenis vitamin yang akan kamu konsumsi. Vitamin yang berbahan kimia dan berbahan herbal memiliki keuntungannya masing-masing. Tetapi, jika kamu ingin mengonsumsi vitamin dengan risiko efek samping negatif yang lebih rendah, vitamin berbahan dasar herbal bisa jadi pilihan.

Dari sejumlah suplemen vitamin yang ada, suplemen vitamin BONEY bisa jadi pilihan yang tepat buat kamu yang ingin mengkonsumsi vitamin herbal berkualitas untuk merawat kesehatan tulang, mencegah osteoporosis, hingga menambah tinggi badan.
 
Kandungan bermanfaat dari BONEY ini bisa kamu peroleh dengan Rp 149.000 di sini atau kunjungi akun Shopee official dr.O  sekarang untuk mendapatkan produk BONEY!

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES