Kesehatan

Kenali Gangguan Bipolar, Ini Penjelasan Psikolog Klinis Untag Surabaya

Selasa, 07 Juni 2022 - 18:41 | 85.39k
Potret Aliffia Ananta Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. (foto: dok.pribadi)
Potret Aliffia Ananta Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. (foto: dok.pribadi)

TIMESINDONESIA, SURABAYAGangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Gangguan kesehatan mental ini bisa mengalami episode depresi, manik, atau hipomanik.

Hanya profesional kesehatan mental yang bisa mendiagnosis adanya gangguan bipolar pada seseorang. Dan Psikolog Klinis Untag Surabaya, Aliffia Ananta, SPsi MPsi mengatakan bahwa bipolar merupakan gangguan mood ekstrem.

"Jadi bisa mengalami mania atau kebahagiaan berlebih dan secara cepat berpindah menjadi stres, depresi dan kesedihan. Keduanya terjadi secara ekstrem," katanya. 

Dosen yang akrab disapa Ananta ini menjelaskan, mania merupakan kondisi yang terjadi saat pengidap gangguan bipolar merasa sangat bersemangat, baik fisik maupun mental. Terdapat perubahan energi pada orang yang mengalami bipolar.

"Saat mengalami kebahagiaan, energinya sangat besar. Jadi susah tidur atau jika sudah tidur maka gak bangun-bangun," sebutnya.

Ananta menambahkan, bipolar juga dapat mengganggu pola makan seseorang. "Ketika sedih atau depresi, misalnya, pola makan jadi meningkat," tambahnya. Bipolar dapat terjadi dalam tiga tipe berbeda.

Menurutnya, pada tipe satu terjadi manic episode, yaitu jika bahagia bisa sampai tujuh hari dan jika depresi atau sedih bisa berlarut selama dua minggu. "Adapun pada tipe dua terjadi hypomanic namun tidak separah mania," jelasnya.

Ananta menambahkan bipolar dapat terjadi dalam kurun waktu lama. "Ada siklus minimal dua tahun. Biasanya terjadi pada anak dan remaja," tambahnya. Disebutkan oleh Ananta, bipolar disebabkan oleh berbagai faktor.

"Kita berbicara resiko penyebab, jadi tidak saklek. Misalnya kondisi otak dan genetik beresiko membawa bipolar. Di samping itu, pengalaman hidup traumatis dan menyedihkan juga berpotensi," sebutnya.

Ananta juga menjelaskan, diagnosa bipolar tidak bisa didapatkan melalui self diagnosis. "Diagnosa awal tidak bisa dengan self diagnosis seperti gambaran umum dicocokkan dengan internet. Harus menemui Psikiater atau Psikolog untuk observasi dan wawancara," terangnya. 

Dosen Fakultas Psikologi ini mengatakan bahwa bipolar dapat diobati. "Betul, bisa diobati dengan terapi dan pemberian obat," katanya.

Terapi, sebut Ananta, harus disesuaikan dengan kondisi klien. "Misalnya cognitive behavior therapy mengajak orang klien meng-counter irrational believe. Selain itu, self talk juga bisa dilakukan dengan berbicara secara positif dengan diri sendiri," sebutnya.

Ananta mengaku bersyukur saat ini masyarakat lebih sadar akan kesehatan mental. "Orang jadi lebih aware, mereka peduli dan sadar butuh bantuan profesional," imbuhnya.

Meski demikian, Ananta berharap masyarakat lebih peka. "Peka terhadap diri sendiri ketika mengalami sesuatu dalam diri maupun peka ketika orang lain butuh pertolongan, apalagi bipolar ini terlihat," harapnya.

Tak hanya peka saja, namun menurut Ananta sebuah pertolongan dalam profesional juga dapat membantu penderita gangguan bipolar. "Kita harus peka dan mengarahkan untuk mendapat pertolongan profesional," tutupnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES