Kesehatan

Hati-Hati Wanita Muda Juga Berisiko Terkena Kanker Payudara

Senin, 31 Oktober 2022 - 16:11 | 12.59k
Hati-Hati Wanita Muda Juga Berisiko Terkena Kanker Payudara
Acara Pink Talk dengan Tema Love Your Breast di National Hospital. (Foto: Shinta Miranda/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYAKanker payudara masih banyak dialami oleh perempuan di Indonesia. Ada cara mudah untuk mencegah terjadinya kanker payudara yakni dengan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis). 

dr Andy A Sunanda, Sp.B (K) Spesialis bedah onkologi National Hospital Surabaya membeberkan keadaan penderita kanker payudara saat ini ada beberapa wanita muda di usia 20 tahun menderita kanker payudara. Menurut data yang paling banyak penderita penyakit ini wanita di umur 40 tahun. 

"Sekarang trendnya ke arah lebih muda daripada yang dulu ya, sekarang 20, 30 (tahun) sudah cukup banyak karena memang sudah ada faktor edukasi," ungkapnya pada acara Pink Talk di National Hospital pada Senin,(31/10/2022). 

Untuk mencegah terjadinya keparahan kanker payudara dibutuhkan deteksi dini. Sebelum memeriksakan diri secara medis, perempuan bisa mengecek sendiri secara mandiri dengan Sadari. Selain itu, pemeriksaan medis bisa dilakukan dengan alat mammogram. 

Deteksi dini adalah cara paling tepat untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut. Deteksi yang paling gampang adalah dengan periksa secara Sadanis. Standar WHO itu harus menggunakan alat mammogram. 

Kanker payudara masih menduduki angka kejadian kanker di Indonesia. Salah satu gejala yang sering diabaikan ialah munculnya benjolan tanpa rasa nyeri. 

Menurut dr Andy A Sunanda, masih banyak perempuan di Indonesia salah persepsi menganggap benjolan yang terasa nyeri lebih berbahaya dibanding yang tidak. 

"Padahal benjolan yang terasa nyeri itu biasanya karena infeksi. Yang harus lebih diwaspadai itu benjolan yang tidak terasa nyeri selama berbulan-bulan, karena gejala kanker awal-awal memang tidak ada rasa nyeri," terangnya.

Andy mengungkapkan kanker payudara merupakan tumor ganas yang ada di area payudara. Penyebabnya, 10 persen berasal dari keturunan atau genetika dan 90 persen masih belum diketahui penyebabnya. 

"Meningkatkan beberapa faktor risiko seperti tidak punya anak, tidak menyusui kemudian terapi hormonal seperti itu bisa menyebabkan risiko penyebab kanker payudara," paparnya. 

Untuk menurunkan risiko kanker payudara, wanita yang sudah memiliki anak wajib memberikan asi secara eksklusif selama 2 tahun. 

Pasalnya, salah satu faktor risiko penyebab kanker yakni adanya riwayat kanker dalam keluarga, menggunakan kontrasepsi hormonal, tidak mempunyai keturunan, hingga tidak menyusui. 

"Menyusui anak sampai 2 tahun itu sangat penting. Karena salah satu manfaatnya bisa menurunkan risiko terjadinya kanker 7-8 kali lipat," ungkapnya. 

Hal ini, bisa mengurangi keterpaparan seumur hidup seorang wanita terhadap hormon seperti estrogen, yang dapat meningkatkan pertumbuhan sel kanker payudara. 

Andy kembali mengingatkan agar para perempuan rajin melakukan upaya preventif sekunder Sadari. Sadari bisa dilakukan 7 sampai 10 hari setelah menstruasi. 

"Kanker payudara ini tidak bisa dicegah dengan upaya preventif premier, seperti 3M pada DBD atau pemberian vaksin HPV pada kanker serviks. Yang bisa dilakukan adalah upaya preventif sekunder, menemukan penyakit sebelum ada keluhan atau gejala," imbuhnya. 

Mengenai makanan yang dihindari untuk mencegah kanker menurut dokter Andy yaitu makanan yang banyak melalui proses seperti makanan yang diawetkan atau biasa disebut makanan kaleng dan beberapa olahan daging seperti sosis. 

"Boleh tapi dikurangi, termasuk asap yang menempel di makanan menjadi kasinogen yaitu zat yang mengakibatkan tumbuhnya kanker, jangan kepikiran tetap semangat insya Allah tidak kambuh lagi," ujarnya. 

Terakhir, ia juga berpesan bagi para survivor yang saat ini sedang berjuang melawan kanker payudara, untuk tetap fokus pada pengobatan yang dilakukan. 

"Semangat, pikiran jangan cemas dan yang terpenting jangan banyak dengarkan omongan orang lain. Sebab, emosi akan berpengaruh pada proses pengobatan yang dijalani, untuk itu penting tetap berpikir positif dan semangat," tandasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES