Kesehatan

Tips Pemkab Banyuwangi Turunkan Angka Stunting pada 2024

Kamis, 01 Februari 2024 - 17:14 | 30.95k
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, memberikan asupan nutrisi kepada penerima manfaat dalam menangani Stunting. (FOTO: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, memberikan asupan nutrisi kepada penerima manfaat dalam menangani Stunting. (FOTO: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur menargetkan penurunan angka stunting sebesar 50 persen pada 2024. Dalam mencapai target tersebut beberapa inovasi dan program unggulan digeber demi mengentaskan stunting masyarakat Bumi Blambangan.

Menurut catatan terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, saat ini ada kurang lebih 2.300 anak stunting yang terdata di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini pada 2023. Dari jumlah tersebut diketahui adanya penurunan signifikan dari tahun 2022 yang tercatat sebanyak 2.780 anak stunting.

Dalam menangani stunting, Pemkab Banyuwangi cukup telaten mengentaskan hingga ingin menjadikan kabupaten dengan Zero stunting. Diketahui pada 2021 saja sebanyak 4.371 anak stunting turun hingga 50 persen dan menjadi 2780 kasus anak stunting pada 2022.

“Jadi sekitar 400 anak stunting yang telah terentaskan selama satu tahun,” ucap Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, Kamis (1/2/2024).

Amir mengatakan, untuk tahun 2024 Pemkab Banyuwangi, melalui Dinkes menargetkan turunkan angka stunting sebanyak 50 persen dari total anak stunting yang tercatat pada 2023.

“Sebenarnya stunting di Banyuwangi turun sangat signifikan, namun kendala lainnya adalah muncul bayi stunting baru dengan berat badan rendah, nah itu yang perlu diantisipasi,” katanya.

Untuk itu beberapa inovasi baru juga di tahun 2024 juga diharapkan dapat mengurangi angka stunting dan melebihi target. Di antaranya yaitu inovasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Asuhan Spesialistik (Pas), hingga menguatkan Banyuwangi Tanggap Stunting (BTS). 

Dijelaskan Amir, Inovasi PAS akan lebih menyasar untuk untuk penanganan ibu hamil dengan resiko tinggi stunting, yaitu adanya konsultasi terkait tumbuh kembang kehamilan dan lainya dengan minta Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi atau Obgyn untuk mendampingi Bidan dan Dokter di Puskesmas.

Sedangkan untuk program BTS sendiri, ada sedikit perubahan dari tahun sebelumnya. Amir memaparkan, untuk program BTS tahun lalu hanya menyasar masyarakat yang terindikasi stunting dengan pemberian asupan nutrisi kepada anak stunting dan ibu hamil resiko tinggi.

“Untuk BTS sekarang ditambah menjadi 5 kelompok yaitu anak stunting, ibu hamil resiko tinggi, Wasting (gizi kurang atau gizi buruk), Underweight atau berat badan kurang dan terakhir yakni stunting yang sudah parah dengan indikasi penurunan saraf motorik,” jelas Amir.

Adanya Program baru seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) Berbagi yang baru dilakukan Soft Launching saat Bunga Desa pada 31, Januari lalu juga diharapkan bisa membantu mengurangi angka stunting. Amir menerangkan, jika setiap ASN dibagi untuk membantu warga miskin. 

“Dimulai bulan Februari, setiap seminggu sekali, minimal setiap ASN memberikan protein hewani sebanyak 1 Kilogram (kg) berupa telur, daging ayam, atau ikan,” paparnya.

“Sementara itu program tanggal cantik diganti konsepnya, setiap yang diampu diberikan protein senilai Rp35.000 per minggu, termasuk bagian dari ASN asuh keluarga miskin,” imbuh Amir. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES