Kesehatan

Dosen Unmuh Jember Sebut Kebiasaan Masyarakat Pakai Koran sebagai Alas Salat Id Berbahaya

Selasa, 02 April 2024 - 08:24 | 21.74k
Latifa Mirzatika, dosen Teknik Lingkungan Unmuh Jember yang menyoal alas koran untuk salat Id. (Humas Unmuh Jember for TIMES Indonesia)
Latifa Mirzatika, dosen Teknik Lingkungan Unmuh Jember yang menyoal alas koran untuk salat Id. (Humas Unmuh Jember for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JEMBER – Penggunaan koran sebagai bahan alas salat Idulfitri atau salat Id ternyata telah menjadi perhatian khusus sejumlah akademisi. 

Salah satunya Latifa Mirzatika yang merupakan dosen Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember.

Latifa mengatakan bahwa penggunaan kertas koran sebagai alas salat Id oleh masyarakat ternyata berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan, meski masih kerap dipandang sebagai hal yang remeh.

Dia mengatakan, kebiasaan masyarakat tersebut ikut menyumbang peningkatan sampah atau polusi kertas di kotanya dan di Indonesia pada umumnya.

Terlebih lagi, perempuan berjilbab tersebut menerangkan bahwa koran merupakan produk yang telah melalui berbagai proses produksi yang menggunakan bahan kimia. 

Saat dibakar, lanjutnya, koran melepaskan bahan kimia beracun ke udara, termasuk dioksin, yang merupakan polutan organik persisten.

“Ketika diproduksi, koran telah melewati serangkaian proses yang melibatkan bahan kimia, baik secara langsung dalam produksi kertas dan pulp atau dalam proses konversi (yaitu pencetakan, perekatan) yang mengikutinya. Maka dari itu, saat dibakar, koran akan melepaskan  bahan kimia beracun ke udara," kata Latifah di Jember, Selasa (2/4/2024).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa zat beracun seperti dioksin merupakan salah satu contoh yang sering dilepaskan saat pembakaran koran. 

Dioksin adalah kontaminan kimia beracun (polutan organik persisten) yang sangat berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia. 

Penumpukan dioksin dalam jaringan lemak hewan dan manusia dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk risiko kanker yang meningkat.

“Jika tubuh manusia terpapar dioksin secara terus menerus maka akan berpotensi menyebabkan kanker," ujarnya.

Karena itu, menurutnya perlu memikirkan langkah untuk mengurangi sampah kertas koran beserta dampak buruknya itu.

Salah satu cara adalah dengan mengganti penggunaan koran dengan bahan-bahan lain yang dapat didaur ulang atau memiliki siklus hidup yang lebih panjang.

Dalam hal ini Latifa mengenalkan sebuah konsep yang dinamakan Green Idul Fitri, sebuah gerakan mengganti penggunaan koran dengan alas lain yang tidak hanya sekali pakai dan langsung dibuang.

Alternatif-alternatif seperti tikar gulung, karpet, matras, atau alas lainnya dapat menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

“Alih-alih menggunakan koran, kita dapat menggunakan alas berupa tikar (mulai dari tikar gulung/lipat), karpet, matras, maupun alas-alas lainnya yang sekiranya dapat digunakan. Yang terpenting, tidak bersifat hanya sekali pakai langsung buang," jelas dia.

Selain itu, dirinya juga mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk melaksanakan salat Id dengan mengadopsi konsep Green Idul Fitri.

"Mari kita bersama-sama melakukan perubahan yang lebih baik dalam menyambut Idulfitri dengan mengadopsi Green Idul Fitri, salah satunya adalah dengan mengganti penggunaan koran dengan alas lain yang tidak sekali pakai-buang. Dengan demikian, kita dapat turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan kesehatan bersama," tutupnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dody Bayu Prasetyo
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES