Benarkah Sayuran Seperti Brokoli dan Wortel Bisa Cegah Uban? Ini Temuan Peneliti

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Uban sering kali dianggap sebagai tanda alami penuaan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa senyawa tertentu dalam makanan bisa berperan dalam menekan pertumbuhan rambut putih.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Antioxidants Desember 2024 lalu mengungkap bahwa luteolin, senyawa yang ditemukan dalam brokoli, wortel, dan bawang, dapat menghambat proses timbulnya uban pada tikus.
Advertisement
Dilansir dari Health pada Kamis (20/2/2025), Joe McCord, PhD, pensiunan profesor kedokteran dari University of Colorado Anschutz Medical Campus, menyebut temuan ini menarik karena luteolin adalah senyawa yang umum dalam makanan sehari-hari manusia.
“Senyawa ini bisa menjadi kandidat potensial dalam penelitian anti-penuaan lebih lanjut, meskipun belum tentu efeknya sama pada manusia,” ujar McCord.
Luteolin dan Pengaruhnya pada Pigmentasi Rambut
Luteolin adalah polifenol, yakni senyawa tanaman yang dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan. Ahli diet terdaftar Toby Amidor, MS, RD, CDN, menjelaskan bahwa luteolin dapat ditemukan dalam makanan seperti seledri, paprika hijau, brokoli, wortel, serta minyak zaitun.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa luteolin memiliki sifat anti-inflamasi, membantu mengatur penuaan kulit, serta mencegah degenerasi makula terkait usia. Dalam studi terbaru ini, para peneliti ingin mengetahui apakah luteolin juga berpengaruh terhadap proses tumbuhnya uban.
Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki efek positif pada protein endotelin yang membantu menjaga melanosit, sel yang bertanggung jawab atas pigmentasi rambut. Semakin banyak melanosit yang dipertahankan, semakin besar kemungkinan rambut mempertahankan warnanya lebih lama.
Bisakah Luteolin Mencegah Uban pada Manusia?
Meskipun hasil penelitian pada tikus menunjukkan efek luteolin terhadap pigmentasi rambut, para ahli menegaskan bahwa sistem folikel rambut manusia bekerja dengan cara yang berbeda. Dr. Kristina Collins, seorang dokter kulit, menyatakan bahwa faktor genetik tetap menjadi penentu utama kapan seseorang mulai beruban.
“Melihat pola pertumbuhan uban pada orang tua dan kakek-nenek Anda mungkin menjadi indikator terbaik untuk mengetahui kapan Anda akan mulai beruban,” jelas Collins.
Selain faktor genetik, stres oksidatif, kekurangan nutrisi, dan stres kronis juga berkontribusi terhadap munculnya uban lebih awal. Oleh karena itu, meskipun terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa luteolin dapat mencegah uban secara langsung, mengonsumsi makanan kaya antioksidan tetap memberikan manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan.
“Diet yang kaya antioksidan tidak hanya membantu menekan peradangan tetapi juga berkontribusi pada kesehatan mikrobioma usus, yang berperan dalam kesejahteraan tubuh secara menyeluruh,” tambah Collins.
Perlukah Menambah Asupan Luteolin?
Meski penelitian ini masih dalam tahap awal, tidak ada salahnya untuk mulai memperkaya pola makan dengan makanan yang mengandung luteolin. Konsumsi sayuran seperti brokoli, wortel, dan bawang, yang juga kaya akan nutrisi lainnya, dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara umum.
Meskipun belum ada bukti konkret bahwa luteolin dapat mencegah uban pada manusia, penelitian ini membuka peluang bagi studi lebih lanjut tentang peran nutrisi dalam memperlambat tanda-tanda penuaan.(*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Imadudin Muhammad |
Publisher | : Rizal Dani |