Forum Mahasiswa

Mengenal Tradisi Munggah Sesajen di Desa Pekalongan Banyuwangi

Minggu, 12 Mei 2024 - 09:49 | 27.87k
Sri Wahyuni, Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas KH Mukhtar Syafaat
Sri Wahyuni, Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas KH Mukhtar Syafaat

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Berawal dari daerah ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Kecamatan Gambiran, desa pelosok yang sering disebut dengan Pekalongan. Pekalongan merupakan desa terpencil di wilayah Banyuwangi yang begitu melek terhadap tradisi. Mungkin banyak orang menganggap bahwa Pekalongan adalah kota yang berada di Jawa Tengah. Ternyata di Banyuwangi sendiri juga terdapat desa yang bernama Pekalongan. Desa yang sangat dikenal akan kentalnya tradisi.

Mengenal istilah tradisi sendiri merupakan budaya yang sudah turun-temurun dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Hadirnya budaya tidak terlepas dari kebiasaan yang selalu dijalaninya. Kebudayaan akan selalu ada selama manusia mengadakannya. Dan kebudayaan akan selalu hidup selama manusia menghidupkannya. Maka dari itu tidak ada budaya tanpa manusia. Dimana manusia hidup disitu budaya lahir.

Mengenal Banyuwangi tentu tidak akan terlepas dengan mengenal budayanya. Budaya sudah melekat dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat Banyuwangi khususnya di wilayah Pekalongan. Budaya yang masih ada dan dilestarikan masyarakat Pekalongan sampai sekarang dan haram ditinggalkan salah satunya adalah tradisi Munggah sesajen.

Tradisi munggah sesajen atau peletakan sesajen adalah tradis berbentuk ritual yang memiliki keterkaitan dengan sebuah kepercayaan terhadap ilmu gaib. Munggah sesajen dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Seperti disiapkan dalam acara pernikahan, syukuran padi, khitan, petik laut, selamatan dan masih banyak lagi.
Menurut antrolopog Argo Twikromo menganggap sesajen adalah hal yang biasa dilakukan dengan tujuan menjalin hubungan manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.

Tradisi munggah sesajen yang dilaksanakan menjadi bukti bahwa masyarakat masih begitu kuat mempertahankan dan mempercayai tradisi yang dibawa oleh para leluhur. Masyarakat Pekalongan sangat meyakini terkait wajib adanya sesajen di setiap mau mengadakan acara. Menurut pandangan masyarakat sesajen tidak boleh ditinggalkan karena akan membawa malapetaka bagi yang tidak menjalankannya. Seperti halnya dalam acara pernikahan sesajen menjadi syarat terpenting yang tidak boleh terlewatkan.

Jika syarat sesajen tidak tersedia maka hal yang tidak diinginkan itu akan terjadi. Percaya atau tidak percaya itu akan terjadi. Maka dari itu, dalam melangsungkan acara pernikahan sangat diharapkan ke lancarannya agar tidak ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Pengetahuan terhadap sesajen menurut sebagian orang ternyata sangat bermacam-macam. Ada yang menganggap sesajen itu negatif, sesajen termasuk klenik, dan perbuatan musyrik.

Namun, lain halnya bagi masyarakat Pekalongan, mereka sangat menganggap itu adalah hal yang positif dan wajib adanya. Sesajen dalam pernikahan dianggap sebagai manifestasi bentuk dari sebuah doa dan menghormati roh nenek moyang. Dengan harapan dan keyakinan nenek moyang akan selalu mendokan hajat anak cucunya. 

Masyarakat pekalongan selalu mengingat ucapan dari orang jawa “Tradisi ngono kuwi (sajen) jane ngandung doa lan prengetan marang awake dewe, tapi lek wong sing ora ngerti nganggep bid’ah, jane bid’ah kan yo ono sing apik.” Atau Tradisi seperti itu (sesajen) sebetulnya mengandung doa dan peringatan kepada kita, tapi kalau orang tidak tahu pasti menganggap itu adalah hal yang musyrik.

Munggah sesajen atau peletaan sesajen bisa dibilang bentuk bernegosiasi spiritual antara manusia dengan kekuatan gaib agar dzat supernatural tersebut tidak membahayakan dan mengganggu kehidupan manusia. Sesajen dalam pernikahan dibagi menjadi beberapa macam: Pertama, sesajen pasang tarub atau tratag. Pemasangan tratag dilaksanakan tiga hari atau dua hari sebelum tanggal pelaksanaan hajatan tiba. 

Kedua, sesajen siraman dilaksanakan sehari sebelum dimulainya acara akad nikah. Perlengkapan yang dipakai dalam upacara siraman yaitu air yang diambil dari tujuh sumber mata air, cengkir gading, sehelai kain motif grompol, bunga sekar setaman, klasa kalpa, konyoh manca warna, sehelai kain motif nagasari, air asem, ron sapta warna, santan kanil dan landha merang.

Ketiga, sesajen midodaren yaitu sesajen yang dilaksanakan pada saat malam hari sebelum berlangsungnya acara ijab dan panggih dilakukan. Sesajen yang digunakan meliputi, rujak degan, kering yang disebut rasulan, tumpeng megana, kembang telon, sego gurih dan ingkung ayam, teh dan kopi pahit, pisang sanggan.

Keempat, sesajen panggih yaitu cukup hanya memakai sarana jawat asta yaitu pengantin wanita bersalaman dengan pengantin pria, dengan hanya memakai sarana melangkahi daun kluwi.

Menurut pendapat sebagian tokoh masyarakat seperti Mbah Boinem, “Sesajen kuwi syarat, dadi ojo dilanggar ongko nemu akibate.” 

Maka, sajen itu wajib, banyak peristiwa-peristiwa aneh terkait tidak disiapkannya sesajen, seperti juru masak ada yang tiba-tiba jatuh dan kakinya terkilir. Beragamnya kejanggalan-kejanggalan yang terjadi menjadikan semakin kuat keyakinan masyarakat terhadap sesajen. 

Kuatnya kepercayaan masyarakat Pekalongan akan sebuah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai motivasi khusus dalam menyikapi tradisi sesajen yang sudah menjadi adat istiadat. Dengan hal ini dapat kita lihat pentingnya menjaga warisan atau tradisi yang sudah ada untuk tetap dilestarikan ke generasi selanjutnya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak luntur dan tergerus oleh perkembangan budaya di setiap zaman.

***

*) Oleh : Sri Wahyuni, Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas KH Mukhtar Syafaat

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id.

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES