Forum Mahasiswa

Pendidikan Agama Islam (PAI) Integratif dan Learning Agility di SMP Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya

Selasa, 14 Mei 2024 - 17:23 | 22.43k
Ahsan Hakim, Mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang
Ahsan Hakim, Mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seharusnya menjadi sumber inspirasi dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, sering dilihat hanya sebagai pembawa ajaran yang kaku, konservatif, dan terfokus pada ritual semata.

Keterbatasan dalam pemahaman terhadap PAI sering kali mengakibatkan implementasinya terperangkap dalam rutinitas dan kekakuan yang membuatnya sulit untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang terus berubah.

Oleh karena itu, penting untuk mengubah pandangan terhadap PAI agar dapat dianggap sebagai sumber inspirasi yang dinamis dan relevan, yang dapat membimbing manusia dalam menghadapi tantangan kompleksitas dan ketidakpastian di era modern ini.

Dengan demikian, diperlukan upaya yang lebih besar dalam menyempurnakan dan mengadaptasi pendekatan pembelajaran PAI agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat yang berubah dengan cepat.

Di sisi lain, perkembangan pesat dunia di era modern telah mengubah secara signifikan cara manusia dalam menjalani kehidupan. Para pakar sering kali menggunakan istilah VUCA untuk menggambarkan kompleksitas dunia saat ini yang mencakup ketidakstabilan (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan ambiguitas (ambiguity).

Dalam hal ini, learning agility menjadi tuntutan kemampuan pada generasi saat ini untuk dapat survive dan bersaing di dunia modern. Learning agility merupakan kemampuan menyesuaikan diri dengan cepat pada kondisi yang baru, sulit dan berbeda.

Kemampuan tersebut hasil dari kompetensi yang didapatkan melalui pembelajaran pengalaman. Learning agility telah diakui sebagai komponen kunci keberhasilan kepemimpinan. Dalam konteks pendidikan, learning agility memiliki hubungan yang sangat kuat dengan keberhasilan para pemimpin lembaga pendidikan, para pengajar, juga bagi para pembelajar.

Berdasarkan hal tersebut, Ahsan Hakim mengeksplorasi model Pendidikan Agama Islam (PAI) integratif dan pembelajaran learning agility yang diaplikasikan ke dalam semua aspek pembelajaran, baik pada program intrakurikuler, kokurikuler, maupun pengembangan diri di SMP Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya.

Melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen, mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini menemukan bahwa SMP SAIM melakukan integrasi PAI ke dalam semua pembelajaran, baik di program intrakurikuler, kokurikuler, dan pengembangan diri, yang kedalaman integrasinya bergantung pada kemampuan guru pelajaran masing-masing.

Terdapat enam model integrasi yang diaplikasikan di SMP SAIM, yang diklasifikasikan menjadi dua bagian. Pertama, tiga model utama yang diberlakukan pada pembelajaran reguler di kelas, yaitu (1) the shared model, (2) the nested model, (3) the sequenced model. Kedua, tiga model berikutnya yang diberlakukan dalam proyek-proyek besar yang bersifat tematis, yaitu (4) the connected model, (5) the webbed model, dan (6) the integrated model.

Penerapan model yang bervariasi tersebut dijiwai oleh semangat inovasi SMP SAIM yang terdapat pada konsep pendidikannya. Dengan integrasi tersebut, PAI menjadi lebih leluasa dalam membentuk karakter dan kepribadian Islam siswa karena tidak terbatasi pembelajarannya hanya pada pelajaran agama semata.

Di samping itu, pembelajaran di SMP SAIM dominan menggunakan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pengalaman langsung guna mengasah berbagai keterampilan hidup (life skills), yang pada praktiknya identik dengan upaya mengembangkan learning agility.

Terbukti bahwa pembelajaran di SMP SAIM tersebut telah mengisi keempat kerangka konseptual learning agility sekaligus, yaitu (1) people agility, (2) mental agility, (3) change agility dan (4) results agility.

Pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung tersebut dilakukan untuk menyiapkan kesiapan para siswa menghadapi berbagai kondisi di masa depan mereka. Kemampuan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi siswa dalam hal gaya belajar, melainkan juga sebagai bekal persiapan karir di masa depan agar terbiasa beradaptasi pada perubahan dan tantangan perkembangan zaman.

Dari kedua hasil penelitian tersebut, ia mengungkap relevansi antara model PAI integratif dan pembelajaran learning agility. yang telah diidentifikasi ke dalam lima aspek, yaitu: (a) keduanya bersifat fleksibel, yaitu diterapkan dalam program intrakurikuler, kokurikuler dan pengambangan diri; (b) menekankan pembelajaran aktif; (c) merangsang jiwa kreatif; (d) mengoptimalkan kegiatan kolaboratif; dan (e) mendorong kegiatan reflektif. Relevansi tersebut dapat dilihat dari lima aspek: (1) penerapan keduanya bersifat fleksibel, yaitu diterapkan dalam program intrakurikuler, kokurikuler dan pengambangan diri; (2) menekankan pembelajaran aktif; (3) merangsang jiwa kreatif siswa; (4) mengoptimalkan kegiatan kolaboratif siswa; dan (5) mendorong kegiatan reflektif siswa. (*)

 

* Oleh Ahsan Hakim, Mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES