Forum Mahasiswa

Memberantas Doktrin: Tujuan Pendidikan untuk Gaji Tinggi

Kamis, 16 Mei 2024 - 22:42 | 65.90k
Abdur Rohman, Mahasiswa STF Al-Farabi Kepanjen dan Santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Abdur Rohman, Mahasiswa STF Al-Farabi Kepanjen dan Santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah

TIMESINDONESIA, MALANG – Semakin tinggi pendidikan seseorang, seyogianya kian luhur pula etikanya. Atau kalau kata Pak Fakhruddin Faiz “orang tambah pinter itu pasti tambah baik, kalo jahat berarti belum pinter.” Walhasil, tingginya pendidikan seseorang bukan malah mengharapkan gaji yang tinggi, karna itu soal lain. Entah paradigma yang demikian siapa pencetusnya, kalau saja Socrates tau mungkin orang itu akan di debat sampai pingsan.

Namun pertanyaan sederhananya, apa arti pendidikan? Apa sih sebenarnya yang mula-mula diharapkan dari pendidikan? Pekerjaan dengan gaji besar kah? Mendapat gelar? Atau bahkan supaya mendapat pasangan idaman menurut nafsu khayalan? 

Kita ambil contoh, umpamanya seseorang dilahirkan dari keluarga kaya, direktur perusahaan rokok, misalnya. Sangat boleh jadi ada konsepsi di kepalanya kala beranjak dewasa bahwa “kalau tujuan dari pendidikan adalah mendapatkan derajat yang lebih tinggi dan mencari profesi bergaji besar, maka saya nggak perlu sekolah tinggi dengan membayar uang gedung dan segala tagihan yang biayanya bisa untuk beli rumah di komplek ternama lengkap dengan perabotannya! Kan saya anak orang kaya!”.

Oleh karena itu, mispersepsi demikian perlu ditumbangkan bahkan diceraikan sejauh-jauhnya lantaran sesat menyesatkan. 

Mungkin tulisan ini terkesan idealis, tapi jika dogma ini didiamkan akan berkonsekuensi pada karakter yang materialis dan individualis. Tentu itu jauh panggang dari kebudayaan Indonesia.
Aktor Utama di Balik Penyelewengan 

Makna Pendidikan

Tak lain aktor utama dibalik paradigma demikian adalah (oknum) pendidik itu sendiri. Loh kok bisa? Tentu saja sangat bisa!

Sedikit bercerita, saya adalah seorang mahasiswa salah satu kampus swasta di Kabupaten Malang. Pada suatu mata kuliah yang saya ikuti, dosen secara gamblang memaparkan praktik untuk menjadi kepala sekolah. Tentu, dia berkisah dengan volume yang direndahkan terkait alasan masifnya praktik demikian. Kepala sekolah memiliki integritas untuk mengalokasikan dana BOS mau ke mana anggaran itu diarahkan, Katanya. 

Berduyun-duyun orang mendaftarkan untuk menjadi kepala sekolah, tak tau alasannya apa. Sangat boleh jadi tergiur dengan anggaran pendidikan yang tinggi.
Secara tersirat, pak dosen (yang terhormat) itu menanamkan benih-benih materialistik dalam kisahnya. Seolah tujuan utama dari seorang mahasiswa hanya dilandaskan oleh “to have” dan “to be”, “dapat apa” dan “jadi apa” begitu mahasiswa lulus nanti, ini menurut Erich Fromm.

Jika melihat data berdasarkan laporan di laman Kementrian Keuangan, jumlah anggaran yang dialokasikan untuk anggaran pendidikan pada tahun 2023 senilai Rp608,3 triliun rupiah. Nah, dari sini terang, bagaimana seorang kepala sekolah tidak tergiur? Pun hanya tingkat sekolah dasar.

Selain pendidik, ada aktor utama lainnya yakni orang tua itu sendiri. Tentunya, kebanyakan dari orang tua. Doktrin bernarasikan “semakin tinggi pendidikan, gaji makin tinggi” terus digaungkan ke telinga anak nya. Sehingga dogma itu sudah semakin mengkristal dalam sanubari sang anak, kian mengendap hingga membudaya di tengah-tengah masyarakat kita.

Kalau doktrin ini sudah terlanjur menjadi commone sense (pembicaraan umum) dan sah-sah saja, maka anak orang kaya tidak perlu berpendidikan tinggi dan menjadi terpelajar jika orientasi pendidikan hanya sebatas itu.

Merepresentasikan Makna Pendidikan

Kalo kita pandang pendidikan secara etimologi atau bahasa berasal dari kata “didik”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah derivasi “pelihara” dan “latih”.

Sementara dalam bahasa Inggris pendidikan dikenal dengan istilah “education” yang mana dalam bahasa Indonesia berarti “edukasi”. Namun, dalam bahasa Arab pendidikan disebut tarbiyyah berasal dari akar kata Rabbun yang berarti “pembimbing” atau “perawat”.

Nah, kita lihat secara bahasa saja sudah selangkah mendapati arti dari pendidikan. Bukan maknanya sebagai “profesi”, “gaji tinggi” bahkan “adu gengsi”.

Sedangkan secara terminologi, banyak diantara para pakar pendidikan mengistilahkan makna dari pendidikan dengan berbagai sudut pandang.

Elok rasanya memandang maksud pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, karena kita hidup dalam kebudayaan Indonesia. Menurut beliau pendidikan mempunyai makna yang begitu dalam dan luas. Beliau membedakan makna dari “pendidikan” dan “pengajaran”. 

Suhu pendidikan kita itu bilang bahwa “pengajaran” hanya berfokus pada sisi kognitif saja tanpa memoles sisi batin pelajar. Sedangkan “pendidikan” itu menuntun kodrat anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat kolektif supaya mendapati keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya.

Lebih jauh dan mendalam lagi kata beliau, bahwa manusia tidak hanya menjadi makhluk yang memiliki sisi lahir saja, melainkan memiliki sisi batin, sehingga pengajaran berimplikasi pada kehidupan lahir sedangkan pendidikan jauh ke dalam sanubari seorang manusia.

Nah, dari sini bisa kita lihat kenapa banyak fenomena guru atau pun dosen yang hanya sekadar menggugurkan kewajiban, masuk ke dalam kelas cuma menyampaikan materi saja. Atau fenomena mahasiswa yang bunuh diri dengan motif dan alasan yang beragam. Padahal beberapa dari mereka itu termasuk anak orang berduit. Bahkan, kasus siswa yang melawan guru dengan parang dan guru yang mencabuli muridnya sendiri bagai cendawan di musim hujan, banyak!

Menentukan Sikap

Pendidikan seharusnya terus mendapatkan ruang yang luas nan dalam untuk manusia. Setiap orang bisa secara bebas dan serampangan memaknai arti dan orientasi dari pendidikan. Namun, yang patut dikhawatirkan adalah berbagai dampak negatif ke depan jikalau berorientasi pada materi semata. Kesehatan mental misalnya, yang juga sekarang sedang hangat diperbincangkan oleh para kandidat capres-cawapres. Hal tersebut tak lain adalah dimensi jiwa dan batin dalam diri manusia.

Kalau kita merenung-insyafi, terutama kaum milenial dan lebih khusus mahasiswa, perlu kiranya menjadikan Tridarma Perguruan Tinggi menjadi prinsip untuk menjalani proses pendidikan. Secara sadar menjalani proses pendidikan, melakukan penelitian dan mengabdi kepada masyarakat. Minimal untuk mengupgrade kualitas diri sendiri, lebih-lebih cakupan yang lebih luas lagi.

Sudah barang tentu sulit untuk memulainya, bahkan hampir mustahil apalagi untuk generasi pecinta rebahan. Tapi terlepas dari itu semua, Ki Hadjar Dewantara menyentil lambung kita dengan sebuah pesan “Ketahuilah bahwa ‘budi’ itu berarti ‘fikiran-perasaan-kemauan’, dan ‘pekerti’ itu artinya ‘tenaga’. 

Dengan adanya ‘budi pekerti’ itu tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri (mandiri). Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.”. Bukan berorientasi pada materi atau slip gaji, bukan?! Sekian semoga berbudi.

***

*) Oleh: Abdur Rohman, Mahasiswa STF Al-Farabi Kepanjen dan Santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES