Forum Mahasiswa

Faktor Pengangguran pada Generasi Z

Kamis, 23 Mei 2024 - 15:00 | 32.79k
Izza Afkarina Ulinnuha, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH, Mukhtar Syafaat
Izza Afkarina Ulinnuha, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH, Mukhtar Syafaat

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Generasi Z, yang terdiri dari orang-orang yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, saat ini menghadapi beberapa tantangan dalam hal mencari pekerjaan. Meskipun banyak dari mereka memiliki akses ke teknologi dan informasi yang luar biasa, beberapa faktor seperti persaingan yang ketat, perubahan dalam lanskap pekerjaan, dan kebutuhan akan keterampilan baru dapat membuatnya sulit bagi sebagian dari mereka untuk menemukan pekerjaan yang sesuai.

Pengangguran di kalangan Generasi Z memang menjadi perhatian serius, terutama di banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pernyataan dari Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang menyebutkan bahwa ada 9,9 juta pengangguran dalam Generasi Z menunjukkan bahwa ini adalah masalah yang signifikan.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di kalangan Generasi Z, termasuk kurangnya kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki oleh para lulusan dengan tuntutan pasar kerja, kurangnya pengalaman kerja, serta ketidakpastian ekonomi yang mempengaruhi keputusan perusahaan untuk merekrut karyawan baru.

Selain itu, penting bagi individu Generasi Z untuk mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja, memanfaatkan teknologi dan sumber daya online untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka, serta aktif dalam mencari peluang kerja dan membangun jejaring profesional.

Ketidakseimbangan antara tingkat pengangguran antara perempuan dan laki-laki adalah masalah serius yang perlu diperhatikan dalam upaya mengatasi pengangguran di kalangan Generasi Z. 

Fakta bahwa jumlah perempuan yang menganggur lebih tinggi daripada jumlah laki-laki menunjukkan adanya beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi akses perempuan ke pasar kerja.Top of Form Salah satunya pengangguran yang banyak pada perempuan muda mencapai 5,73 juta dan 4,17 oleh laki-laki muda.

Salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap tingginya tingkat pengangguran perempuan adalah ketidaksetaraan dalam kesempatan kerja dan akses pendidikan. Perempuan mungkin menghadapi hambatan dalam mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, atau mereka mungkin dihadapkan pada ekspektasi sosial atau budaya yang membatasi pilihan karir mereka.

Tingginya tingkat pengangguran di kalangan Generasi Z dapat menjadi hambatan serius dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai target tersebut, penting bagi Indonesia untuk memastikan bahwa setiap generasi memiliki kesempatan yang adil dan setara untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi dan sosial negara. Indonesia yang telah merencanakan indonesia emas 2045, tetapi apa bisa ketika saat ini masih ada 9,9 juta generasi Z yang masih pengangguran, ini juga kan menghambat kemajuan untuk menuju golden indonesia 2045.

Untuk mengatasi masalah pada Gen Z ini salah salah satunya untuk melaksanakan Peraturan Presiden No 68 Tahun 2022 yang mengarahkan Generasi Z untuk mengikuti pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi bisa menjadi langkah positif dalam mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan generasi tersebut.

Pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka sesuai dengan permintaan pasar kerja.
Melalui pendidikan vokasi, Generasi Z dapat memperoleh keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga meningkatkan peluang mereka untuk memasuki pasar kerja dengan persiapan yang lebih baik. Pelatihan vokasi juga dapat membantu mereka untuk mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan tren dan teknologi terbaru, memungkinkan mereka untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar kerja yang terus berubah.

Selain itu, program pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi yang didukung oleh pemerintah dapat membantu memperluas akses Generasi Z terhadap pendidikan dan pelatihan berkualitas, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu. Ini bisa membantu mengurangi kesenjangan dalam akses terhadap kesempatan pendidikan dan meningkatkan inklusi sosial dan ekonomi.

Penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa program-program pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi tersebut dirancang dan diimplementasikan dengan baik, dengan fokus pada relevansi dengan kebutuhan pasar kerja, kualitas pembelajaran, dan dukungan bagi para peserta untuk mencapai kesuksesan dalam karir mereka. 

Selain itu, penting juga untuk memastikan adanya kemitraan antara lembaga pendidikan, industri, dan sektor swasta dalam merancang kurikulum, menyediakan magang, dan menciptakan kesempatan kerja bagi para lulusan.

Izza Afkarina Ulinnuha, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH, Mukhtar Syafaat 

***

*) Oleh : Izza Afkarina Ulinnuha, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas KH, Mukhtar Syafaat. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES