Resensi

Mengenal Lebih Dekat Kitab Miftahul Mannan, Perjalanan Spiritual Kiai Pacitan

Selasa, 26 Desember 2023 - 11:46 | 96.23k
Kitab Miftahul Mannan manuskrip KH Abdul Mannan Dipomenggolo yang ditulis oleh KH Muhammad Sholeh Tambakagung Bangkalan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Kitab Miftahul Mannan manuskrip KH Abdul Mannan Dipomenggolo yang ditulis oleh KH Muhammad Sholeh Tambakagung Bangkalan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Dalam rangka merayakan dua abad berdirinya Perguruan Islam Pondok Tremas, akan diluncurkan Kitab Miftahul Mannan fii Thariqah wal Haqiqah. Kitab ini merupakan warisan Syekh Abdul Mannan Al Tarmasi, yang diriwayatkan oleh muridnya, Syekh Muhammad Sholih, yang terkenal dengan gelar Kiai Pacitan.

Menurut salah satu keturunan KH Abdul Mannan Dipomenggolo yaitu Gus Muhammad Farkhi Asma, Kitab Miftahul Mannan ditulis oleh Mbah Sholeh Tambakagung, Bangkalan, Madura.

Mbah Sholeh sendiri adalah  murid Mbah Abdul Mannan, setelah mendapatkan pengajaran langsung di Tremas pada masa itu.

Selain itu naskah kitab Miftahul Mannan juga ditulis oleh Kiai Abdurrahman Padangan Bojonegoro. 

"Kitab Miftahul Mannan lebih kepada tasawuf, membahas Thariqah dan Hakikat. Isinya mencakup keutamaan dzikir, lafadz Laa ilaaha illallah, dan kalimat 'Hu'," ungkap Gus Asna, Selasa (26/12/2023). 

Kitab ini, lanjut dia, memiliki sejarah panjang, dengan dua naskah manuskrip awalnya yang menyebut versi Fathul Mannan. Namun, setelah proses muqabalah dan ditemukan empat manuskrip lain yang memperkuat nama Miftahul Mannan, diputuskan untuk menggunakan nama tersebut.

Kitab-Miftahul-Mannan-2.jpgKeturunan KH Abdul Mannan Dipomenggolo, Gus Farkhi Asna menunjukkan Kitab Miftahul Mannan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

"Paling kuat nama Miftahul Mannan, karena didukung oleh empat manuskrip," ujar Gus Asna. 

Sementara, pengumpulan manuskrip Kitab Miftahul Mannan, Pondok Tremas bekerjasama dengan Nahdlatul Turats. Tim Nahdlatul Turats membutuhkan setahun untuk mengumpulkan naskah-naskah ini, dengan proses penyuntingan dan lainnya memakan waktu hampir setengah tahun. 

"Peluncuran Kitab Miftahul Mannan dijadwalkan Rabu (27/12/2023) besok dan akan dihadiri oleh 15 tokoh nasional dan internasional dari kalangan ulama, serta 50 pesantren yang memiliki sanad keilmuan dengan Pondok Tremas," papar Gus Asna. 

Sebelum diluncurkan, Kitab Miftahul Mannan akan dibaca khatam dalam satu majelis, diikuti dengan pembagian syahadah sertifikat bagi yang hadir sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan. 

"Prediksi kehadiran mencapai lebih dari 20 ribu orang dalam acara tersebut. Peluncuran ini diharapkan menjadi awal kebangkitan penggalian karya manuskrip ulama yang selama ini terpendam, di sisi lain juga menjadi tonggak kemantapan ilmu tasawuf," jelas Gus Farkhi Asna. 

Biografi Syekh Abdul Mannan Dipomenggolo

Syekh Abdul Manan Dipomenggolo adalah ulama yang mempelopori terbentuknya Jaringan Ulama Nusantara pada tahun 1800-an silam. Ia merupakan pendiri Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan 1820-an.

Ulama besar yang lahir di Desa Semanten pada tahun 911 masehi itu memiliki jasa besar terhadap perkembangan Islam nusantara, khususnya pendidikan pesantren yang bisa kita jumpai hingga saat ini. 

Dalam Manaqib yang dibacakan oleh Pengasuh Pondok Tremas, KH Luqman Harits Dimyathi diceritakan bahwa pada tahun 1850-an telah ada komunitas yang bertempat tinggal di Ruwaq Jawi (tempat tinggal orang Nusantara) di Al-Azhar Kairo Mesir.

Dan Mbah Abdul Manan adalah generasi pertama orang Nusantara yang belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pada tahun 1850-an di komplek Masjid Al Azhar Kairo telah dijumpai komunitas orang Nusantara atau Indonesia saat ini.

"Dan Mbah Abdul Manan tercatat sebagai generasi pertama yang belajar di sana. Kemudian disusul puteranya, yakni KH Abdulloh hingga cucu-cucunya seperti Mbah Mahfudz At Turmusi, Mbah Dimyathi dan Mbah Dahlan Al-Falaki," katanya, secara terpisah. 

Secara keilmuan, lanjut pria yang disapa Gus Luqman, Mbah Abdul Manan belajar kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al Bajuri yang terkenal dengan kitab karangannya yakni Fathul Mubin syarah dari kitab Ummul Barahin dan dibaca di beberapa pesantren di Indonesia. 

"Dalam kitab Al-Ulama’ Al Mujaddidun karya KH Maimoen Zubair, Sarang, Rembang, Mbah Abdul Manan adalah ulama Ahlussunnah yang pertama kali mempopulerkan kitab Ithaf Sadat Al-Muttaqin, yaitu syarah dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali," terangnya. 

Selain itu, dari Mbah Abdul Manan lahir generasi cendekia muslim yang cukup populer karena sanad ilmu haditsnya yakni Syaikh Mahfudz At Turmusi. 

"Mbah Mahfudz merupakan cucu Mbah Abdul Manan. Di antara murid-muridnya adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri pendiri Nahdlatul Ulama pada tahun 1926," tutur Gus Luqman. 

Tak hanya itu, banyak lahir ulama yang akhirnya menyusun berbagai macam kitab dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dunia Islam, seperti Syekh Mahfudz Al-Tarmasi pemegang mata rantai terakhir Shahih Bukhari dan Muslim. 

Kini, berkat kegigihan KH Abdul Mannan Dipomenggolo, pondok pesantren yang cukup tua di Tanah Jawa ini telah melewati abad ke dua sejak awal berdirinya 1820-an silam. 

Kitab Miftahul Mannan sebagai wujud persembahan sekaligus mengabadikan karya intelektual para pendahulu, termasuk Kiai Pacitan. "Selamat datang di abad ketiga Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan," pungkas Gus Luqman. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES