Resensi

Cerita di Balik Haul Nun Kalim Genggong yang Dibanjiri Ribuan Jemaah

Kamis, 11 Juli 2024 - 15:22 | 39.50k
Gus Haris saat sambutan mewakili keluarga besar Ponpes Baitus Sholihin Genggong. (FOTO: Ryan H/TIMES Indonesia)
Gus Haris saat sambutan mewakili keluarga besar Ponpes Baitus Sholihin Genggong. (FOTO: Ryan H/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Ribuan jemaah memadati halaman Pondok Pesantren Baitus Sholihin Genggong (BSG), Desa Temenggungan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Kamis (11/7/2024).

Mereka hadir untuk memperingati haul KH Sholeh Nahrawi, sebuah acara tahunan yang rutin digelar setiap 5 Muharram.

Acara ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari santri, masyarakat umum, hingga tokoh agama dan pejabat setempat.

Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembacaan doa bersama dan dilanjutkan dengan ceramah agama dari beberapa ulama terkemuka, termasuk KH. Mas Muslim Ikrom dari Pasuruan.

Jemaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti rangkaian acara, yang juga diisi dengan dzikir, salawat, serta doa penutup oleh Habib Hadar pada pukul 12.15 WIB.

Diketahui, KH Sholeh Nahrawi, atau yang lebih dikenal dengan julukan Nun Kalim, adalah sosok ulama kharismatik yang memberikan kontribusi besar dalam perkembangan Pondok Pesantren Genggong.

Beliau dikenal memiliki banyak karomah dan keistimewaan.

Mewakili keluarga besar Ponpes Zainul Hasan Genggong, Gus Haris dalam sambutannya mengisahkan beberapa karamah KH Sholeh Nahrawi, termasuk kemampuannya menguasai tujuh bahasa meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Dulu saat Nun Kalim ditanya belajar di mana, Beliau menjawab, belajar ke Nabi Hidir,” ujar Gus Haris. 

Menurut Gus Haris, Nun Kalim dapat memahami bahasa Latin, Arab, Inggris, Jerman, bahkan bahasa China.

“Beliau itu seperti merasakan, kita itu seperti ditelanjangi,” tambahnya, mengungkapkan jika Nun Kalim dapat mengetahui apa yang ada di hati dan pikiran orang-orang di sekitarnya.

Nun Ahsan Qomaruzzaman juga menceritakan pengalaman spiritual Nun Kalim yang sering bermimpi bertemu Rasulullah dan Nabi-Nabi lainnya.

"Pernah saat Beliau enam hari di Madinah, selama itu Nun Kalim bermimpi Rasulullah setiap malam," ujar Nun Aka, sapaan akrabnya.

Selain itu, diceritakan ada seorang tamu dari Kediri yang pernah mengunjungi Nun Kalim mendapat isyarat, ia akan berangkat haji dalam setahun, meskipun belum ada rencana saat itu. 

Ternyata, ramalan tersebut benar adanya, dan tamu tersebut benar-benar melaksanakan ibadah haji setahun kemudian.

KH Sholeh Nahrawi atau Nun Kalim lahir pada tahun 1940 dari pasangan KH Ahmad Nahrawi dan Nyai Marfu’ah, dan wafat pada tahun 2001. Selama hidupnya, beliau dikenal dengan doanya yang mustajabah. 

Acara haul ini menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mengenang jasa dan keteladanan KH Sholeh Nahrawi, yang telah memberikan banyak inspirasi dan ilmu bagi masyarakat luas. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ryan Haryanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES