Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Merawat (Literasi) Budaya

Selasa, 07 April 2020 - 13:12 | 93.22k
Abdul Halim Fathani (Penulis resensi, Dosen Pendidikan Matematika Unisma, Penggagas Forum Literasi Matematika)
Abdul Halim Fathani (Penulis resensi, Dosen Pendidikan Matematika Unisma, Penggagas Forum Literasi Matematika)
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – MANUSIA dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling terkait, namun tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-harinya, sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, manusia menciptakan kebudayaan dan melestarikannya secara turun menurun. Pendek kata, kebiasaan yang dilakoni manusia dalam kesehariannya, itulah kebudayaan.

Budaya merupakan salah satu kebiasaan cara hidup dalam suatu kelompok yang terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya yang ada pada saat ini terbentuk dari beberapa komponen yang berbeda pandangan ataupun kebiasaan termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya seni, dan bangunan.(https://www.gurupendidikan.co.id).

Advertisement

Ahmad Fuad Effendy (2016) dalam laman https://www.caknun.com, menjelaskan hubungan agama dan budaya, yang menyatakan bahwa agama itu bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama adalah “karya” Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia. Dengan demikian, agama bukan bagian dari budaya dan budaya pun bukan bagian dari agama. Ini tidak berarti bahwa keduannya terpisah sama sekali, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dalam perspektif Sosiologi, manusia dengan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal. Artinya, walaupun keduanya berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan kebudayaan itu tercipta oleh manusia. Jadi, manusia dan budaya itu merupakan dua hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan.

Kebiasaan kita yang dalam kehidupan sehari-hari secara rutin kita lakukan, akan membentuk budaya kita masing-masing. Bagaimana kita melakoni hidup pagi hari di rumah, bagaimana kebiasaan belajar anak kita, bagaimana kebiasaan kita dalam menerima tamu, bagaimana kebiasaan menghormati dan menghargai tetangga dan orang lain di sekeliling kita. Dan, termasuk kebiasaan-kebiasaan kita dalam keseharian.

Resensi-Buku-Sense-of-Culture.jpg

Bisa jadi, kebiasaan kita sekarang ini, berbeda dengan kebiasaan zaman orang tua kita dahulu. Kebiasaan saat ini, tentu akan berbeda dengan kebiasaan generasi mendatang, seiring dengan perkembangan zaman teknologi. Generasi sekarang, tentu harus belajar dari ‘budaya’ masa lalu. Sedangkan budaya masa kini, harus menjadi pijakan generasi masa depan. Inilah pentingnya arti belajar dari sejarah. Sebagaimana yang dipesankan The founding father NKRI, Dr. Ir. Soekarno, mengingatkan bahwa “never leave history”, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah:, atau yang sering dikenal dengan singkatan “Jas Merah”. Inilah yang saya sebut sebagai komitmen untuk merawat literasi budaya.

Dalam laman Gerakan Literasi Nasional Kemdikbud (https://gln.kemdikbud.go.id), dijelaskan bahwa literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Literasi budaya (dan kewargaan) menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21. Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa, kebiasaaan, adat istiadat, kepercayaan, dan lapisan sosial. Sebagai bagian dari dunia, Indonesia pun turut terlibat dalam kancah perkembangan dan perubahan global. Oleh karena itu, kemampuan untuk menerima dan beradaptasi, serta bersikap secara bijaksana atas keberagaman ini menjadi sesuatu yang mutlak.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ng. Tirto Adi, penulis buku ini mencoba merawat budaya melalui gerakan literasi. Tirto yang dikenal sebagai sosok pribadi yang telah malang melintang di dunia pendidikan ini sangat intens untuk menelorkan gagasan-gagasan kreatifnya tema kebudayaan dalam konteks yang lebih luas. Buku ini sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari gagasan yang dikaryakan penulis. Yang jelas buku ini dapat menjadi pelecut bagi kita semua untuk sadar akan pentingnya memiliki perhatian lebih terhadap budaya-khazanah Indonesia.

Gagasan penulis yang dipublikasikan dalam buku ini, terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama diberi judul catatan inspiratif, yang memuat berbagai tulisan yang berhasil dimuat di berbagai media massa, yang bahasa pengantarnya menggunakan bahasa tulis populer. Sementara, bagian kedua, pemikiran analitik berupa artikel ilmiah yang pembahasannya relatif lebih mendalam disertai rujukan ilmiah.

Sebagai penutup, saya berkesimpulan, memang buku ini merupakan kumpulan gagasan penulis yang tersebar di berbagai media publikasi dan lintas tahun (1990 hingga 2019), namun secara subtansi pembahasan tetap relevan untuk dikaitkan dengan konteks zaman sekarang. Meski secara teks terjadi pada masa waktu yang relatif lama, namun pesan tulisan masih relevan dengan kondisi sekarang. Pendek kata, buku ini akan menginspirasi pembaca untuk dapat meruwat budaya, dengan tanpa meninggalkan jejak budaya silam. [ahf].

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Halim Fathani, Dosen Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA), Penggagas Forum Literasi Matematika (forLIMA).

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES