Kopi TIMES

Hadapi Covid 19 dengan Terus Berkarya

Jumat, 17 April 2020 - 11:51 | 65.37k
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim, Wakil Rektor 2 Unisma Malang (Grafis: TIMES Indonesia)
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim, Wakil Rektor 2 Unisma Malang (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada pameo yang baik : saat senang ataupun susah, jangan pernah berhenti berkarya. Dengan karya keberadaan kita akan terasa lebih nyata. Dengan karya pula, banyak manfaat yang tercipta. Karya juga membuat diri kita terasa ada dalam kurun waktu yang sangat lama. Kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis Imam Ghozali ribuan tahun keberadaannya masih nyata. Dikenal dan dipelajari, bahkan dicintai banyak orang, meski tidak tahu secara fisik Imam Ghozali.

Begitulah dasyatnya sebuah karya. Keberadaannya bisa dirasakan sampai waktu yang tak terhingga. Hal ini juga pernah disampaikan guru besar Prof. Dr. M. Tolchah Hasan : buatlah monument dalam hidup ini yang berjangka panjang. Monumen itu bukan hanya gedung yang mewah, bukan masjid yang megah, akan tetapi buah karya pemikiran yang tak akan lekang oleh perubahan zaman. Beliau bahkan sampai umur delapan puluh (80) tahunan, masih terus aktif berkarya dengan fikiran fikiran besar yang orisinal, terutama di bidang pendidikan. Bahkan di akhir hayat, beliau masih menyampaikan bahwa yang membuat bertahan adalah buah karya yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

Advertisement

Rasulullah saw menyampaikan penghargaan yang tinggi atas sebuah karya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menyampaikan bahwa manusia yang paling baik itu adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Tentu dalam hidup, jika ingin bermanfaat pasti juga harus ada karya yang memberikan nilai tambah dalam kehidupan ummat manusia, sesuai dengan keahlian masing-masing. Hal ini juga mendapatkan peringatan dalam bentuk kalimat yang disampaikan Rasulullah saw, bahwa jika kita punya ilmu, maka ilmu itu harus diamalkan dalam bahasa aslinya “ilmu yang tidak diamalkan, bagai pohon yang tidak berbuah”. Kalimat ini menunjukkan betapa pentingnya karya dibuat sebagai pengejawantahan pengamalan ilmu agar mampu memberikan hasil yang lebih baik. Jika masyarakat memperoleh yang lebih baik, maka pembuat karya tentu akan dapat menerima hasil yang lebih besar.

Oleh karena itu, menghadapi bencana covid 19 kita tidak boleh berpangku tangan, ongkang kaki, dan berharap terjadinya keajaiban. Harus mulai difikirkan apa yang mesti kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita semua. Yang berprofesi sebagai dokter, berkaryalah untuk berusaha menyembuhkan orang yang terkena serangan sakit, Yang ahli informasi teknologi , buatlah karya yang memudahkan orang untuk  terhubung satu sama lain tanpa harus tatap muka secara langsung. Pemimpin gunakan ilmu, kemampuan dan kekuasaannya untuk tidak henti hentinya berusaha mengayomi masyarakat agar problem yang terkait dengan covid 19 dapat teratasi dengan baik, dan lain sebagainya.

Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan. Jadi, jangan pernah berhenti membuat karya dalam kondisi apapun, karena pasti ada manfaat yang tercipta dan memberikan nilai lebih dalam kehidupan masyarakat. Sekecil apapun karya, pasti ada manfaatnya. Kalau sudah demikian, kenapa kita mesti keberatan untuk memberikan karya bagi sesama. Toh dengan membuat karya, kita tidak akan mengalami kerugian apa apa. Bahkan keuntungan yang diperoleh bisa tidak terhingga, tanpa ada batasnya.   Bagaimana dengan anda ??. (*)

***

*) Penulis Adalah Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim, Wakil Rektor 2 Unisma Malang dan Ketua Dewan Pembina DPW SAHI Jawa Timur

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Malang

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES