Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Buku Sebagai Media Diseminasi dan Edukasi

Kamis, 23 April 2020 - 09:00 | 104.41k
Husain Latuconsina, Associate Professor pada Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Husain Latuconsina, Associate Professor pada Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer). Salah satu pernyataan yang cukup terkenal dari seorang sastrawan terbaik Indonesia ini dapat menjadi motivasi bagi siapa saja untuk dapat mengimplementasikan buah pikiran melalui menulis. Dengan menulis maka kita berupaya melakukan transformasi dari tradisi lisan yang mudah hilang oleh waktu, menjadi tradisi literasi yang akan abadi sepanjang masa.

Pembuktian eksistensi suatu peradaban di masa lalu hanya bisa terdeteksi melalui mansukrip maupun prasasti dan sejenisnya yang mengulas perjalanan sejarah peradaban tersebut. Begitu pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dalam sejarah peradaban manusia, dikarenakan adanya tradisi literasi yang berkembangan sebagai manifestasi dari keinginan kuat manusia untuk dapat mewujudkan eksistensi diri melalui transformasi gagasan menjadi hasil karyan dalam bentuk manuskrip, buku atau kitab untuk dapat dimanfaatkan dari generasi ke generasi.

Advertisement

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat di abad ke-21 sekarang ini, tidak terlepas dari kontribusi besar peradaban Islam pada periode tahun 750 - 1258 M (Abad ke-8 sampai awal abad ke-13 M), sebagai masa transformasi ilmu pengetahuan (“jembatan emas”) dari era Yunani dan Romawi kuno menuju era masyarakat modern hingga kini.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Para filusuf dan ilmuwan dari dunia Islam berkontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan melalui riset dan inovasi yang sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan dikolaborasikan dengan manuskrip Yunani dan Romawi kuno. Selanjutnya tradisi ini dilanjutkan melalui kebangkitan peradaban Eropa modern pada era Renaissance di abad ke-13 M, melalui kajian riset dan inovasi banyak terinspirasi dari manuskrip hasil riset dan inovasi peradaban Islam masa lalu. Dengan demikian, periodesasi kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia sangatlah terkait dengan tradisi literasi yang salah satu pilarnya utamanya adalah tradisi menulis.

Tradisi menulis dapat diimplementasikan dalam bentuk buku, karena buku berisi kumpulan tulisan dari suatu objek atau permasalahan yang dikaji. Dengan membaca buku maka pengalaman dan pegetahuan dapat kita peroleh sekaligus. Buku dapat melatih imajinasi alam bawah sadar kita dan memperluas cakrawala berfikir kita. Maka tidaklah mengherankan jika buku disebut sebagai “jendela ilmu pengetahuan”.

Karakteristik Ideal sebuah Buku

Buku adalah salah satu karya sebagai kumpulan tulisan yang dapat dibaca khalayak dan secara sistematis berisi kumpulan gagasan dari penulisnya. Buku memiliki banyak tipe dan dapat ditinjau sebagai sebuah karya ilmiah yang ditulis atau dicetak dengan halaman yang dicetak atau hasil karya yang ditujukan untuk penerbitan.

Sebuah buku dapat dianggap bermanfaat luas jika mampu menggugah minat khalayak sasaran dalam memahami isi buku tersebut secara utuh. Buku yang menarik bukan sekedar tampilan fisik dan judulnya, namun harus memiliki isi yang menarik dan merepresentasikan gagasan original penulisnya.

Berbagai jenis buku  seperti novel dan komik sebagai bentuk karya fiksi atau seperti karya non fiksi berupa monograf, buku ajar maupun buku referensi, tentunya memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri yang ulasannya disesuaikan dengan kompetensi penulis dan diperuntukkan kepada khalayak yang tepat. Meskipun buku hadir dalam beragam tipe dan karakternya, namun memiliki tujuan yang sama yaitu menjadi media diseminasi gagasan dan edukasi dari penulis ke khalayak pembaca, sekaligus menjadi media transformasi masyarakat dari tradisi lisan menuju tradisi literasi.

Buku non fiksi bukan sekedar kumpulan pengetahuan ilmiah yang terangkum menjadi satu kesatuan yang utuh dan sistematis, namun juga harus merepresentasikan gagasan dari hasil sintesis suatu objek kajian yang dilakukan oleh seorang penulis, melalui berbagai telaah kepustakaan dan juga dapat berisi kajian hasil riset dari penulisnya, sehingga buku non fiksi akan menjadi media promosi terkait kompetensi keilmuan penulisnya.

Sedangkan buku berbentuk karya fiksi akan merepresentasikan cakrawala berfikir yang luas, fleksibel, dan kreatif dari seorang penulis yang mampu mengajak pembaca untuk terlibat langsung dalam setingan alur cerita. Novel sebagai salah satu karya fiksi yang baik jika mampu menggiring alam pikiran dan emosi pembacanya seakan terlibat langsung dalam sebuah alur cerita yang telah diseting oleh penulis, sehingga para pembaca akan tertarik dan seakan tidak mau berhenti membacanya sebelum dituntaskan, bahkan ingin selalu membacanya berulang kali.

Meskipun dengan penyampaian yang berebeda pada setiap tipe buku, namun tentunya sebuah buku yang ditulis harus mampu menghadirikan penulisnya seakan sedang berbicara dan menjelaskan kepada khalayak pembaca. Artinya sebuah buku harus memiliki alur yang jelas, sistematis, mudah dan menarik untuk dibaca. Sehingga penulis mampu membawa alam pikiran khalayak pembaca sesuai keinginannya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Jika penulis tidak mampu membuat tulisannya menarik untuk dibaca dan dikemas apik dalam sebuah buku, maka khalayak pembaca tidak akan mampu dan bahkan tidak akan tertarik untuk tuntas membacanya. Dalam hal ini khalayak pembacalah yang menentukan kualitas sebuah buku untuk layak atau tidak layak dibaca.

Tidak sedikit penulis yang gagal untuk menghidupkan atau menghadirkan dirinya secara tidak langsung dalam buku hasil karyanya saat dibaca oleh khalayak. Dikarenakan buku yang ditulisnya dianggap kurang menarik, hambar dan tidak mudah difahami dengan baik oleh pembacanya. Dengan demikian, buku bukan sekedar manifestasi penulis untuk menginformasikan pengetahuan ilmiah dan atau pengalaman yang dimilikinya dalam bentuk tulisan, namun dipastikan harus berhasil mentransformasikan gagasan original seorang penulis dan mampu menggugah nalar kritis khalayak pembaca.

Pentingnya Menulis Buku bagi Seorang Dosen

Kewajiban dosen untuk menulis buku diatur dalam UU No. 14 Thn 2005 tentang Guru dan Dosen, dan juga UU No. 12 Thn 2012 tentang Perguruan Tinggi, serta sejumlah regulasi yang di keluarkan dan diatur oleh Kemenristek Dikti dan Kemendikbud. Secara spesifik, Pasal 12 UU No. 12 Tahun 2012 menyebutkan bahwa dosen secara perorangan atau kelompok wajib menulis buku ajar atau buku referensi, yang diterbitkan oleh perguruan tinggi atau publikasi ilmiah sebagai salah satu sumber belajar.

Dengan demikian, menulis buku merupakan salah satu kewajiban dosen dan bagian dari tri dharma perguruan tinggi sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang. Untuk dapat menulis buku karya non fiksi berupa monograf, buku ajar maupun buku referensi yang baik, maka seorang dosen sudah harus memiliki kemampuan literasi dan didukung dengan pengalaman riset yang mumpuni dan semuanya ini harus sesuai dengan komptensi yang dimilikinya.

Sebuah buku ideal yang wajib dihasilkan oleh seorang dosen dapat dinilai dari dua aspek penting, yaitu: 1) aspek ulasan buku (konsep keilmuan), dan 2) aspek marketable (dapat dipasarkan). Untuk itu, seorang penulis yang baik selain mampu menulis buku yang sesuai kompetensinya, juga wajib  mempertimbangkan sisi marketable, karena buku yang baik bukan saja bermutu dari sisi keilmuannya namun juga memiliki nilai pasar sebagai cerminan kebermanfaatan yang luas bagi khalayak pembaca.

Dengan menulis buku maka seorang dosen telah menunjukkan kompetensi keilmuannya, sekaligus membuktikan kemampuan literasi dan pengalaman pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yang mumpuni, sehingga buku hasil karyanya mampu menjadi media diseminasi gagasan kepada khalayak, dan tentunya siap untuk dikritik dan didiskusikan pada ruang-ruang publik.

Jadikanlah buku hasil karya kita sebagai media diseminasi gagasan dan edukasi untuk ikut mencerdaskan kehidupan bermasyarakat, bebangsa dan bernegara, sekaligus menjadi media transformasi masyarakat dari tradisi lisan menuju tradisi literasi. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang kritis, cerdas, berpengetahuan luas dan lebih beradab. Menulislah, agar buah pikiran dan pengalaman ilmiah kita dapat dibaca oleh orang lain dan agar nama kita tetap abadi dalam karya yang kita hasilkan. “Happy World Book Day, 23 April 2020.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Husain Latuconsina, Associate Professor pada Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES