Kopi TIMES

Puasa Hati dari Iri dan Dengki

Senin, 27 April 2020 - 07:54 | 180.53k
Noor Shodiq Askandar (Grafis: TIMES Indonesia)
Noor Shodiq Askandar (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Disamping menahan makan dan minum, hakekat puasa adalah menahan dan menjaga diri dari segala amaliyah yang mengakibatkan berkurangnya kesempurnaan ibadah kita kepada ilahi robbi (Allah swt). Karena jika ini yang terjadi, maka kita akan masuk dalam bagian orang orang yang merugi. Sungguh ini jangan sampai terjadi.

Semua orang akan menginginkan ibadahnya lebih sempurna dan lebih baik dari hari ke hari, bulan ke bulan berikut, dan seterusnya. Pendek kata tidak ada yang mau hari ini sama dengan hari kemarin, atau bahkan lebih buruk. Mesti ada peningkatan yang terjadi. Prinsip hidup hari ini harus lebih baik dari hari sebelumnya, harus selalu ditanamkan pada diri pribadi.

Advertisement

Memang tidak mungkin kita menjadi sempurna. Akan tetapi harus ada upaya untuk menuju kearah tersebut dengan melakukan perbaikan yang terus menerus. Tidak boleh lagi ada kesalahan yang sama berulang, karena itu hanya dilakukan oleh keledai yang bodoh saja. Tidak boleh amal ibadah kita justru mengalami penurunan. Bisa jadi secara fisik mengalami pengurangan kekuatan, akan tetapi dengan hati harus selalu ada peningkatan. Makin ke belakang, hati makin baik dan terus berubah menjadi lebih baik.

Begitu juga dalam berpuasa. Disamping menjaga fisik dari lapar dan dahaga, manusia juga dianjurkan menjaga indera dari segala keburukan dunia. Keburukan itu biasanya terlihat indah dimata, namun di kemudian hari akan terbukti bahayanya. Dengan demikian, menjaga non fisik terkait dengan hati juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Bahasa bijak yang muncul adalah saat kita berpuasa diri, jangan lupa juga untuk selalu menjaga menjaga hati dari iri dan dengki.

Masing masing manusia sudah ada catatan keberhasilan dan ketidakberhasilannya. Rizqi adalah ketentuan Allah swt yang harus diupayakan oleh ummat manusia. Rizqi tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi harus melalui sebuah usaha. Tidak mungkin rizqi didapat hanya dengan doa saja. Akan tetapi dalam satu paket usaha dan doa serta berserah diri atas segala keputusan Allah swt. Karena itulah yang terbaik. Oleh karenanya kita tidak diperkenankan iri atas keberhasilan orang lain. Yang diperbolehkan adalah berusaha atas kekuatan sendiri agar sukses dan jika bisa lebih dalam meraih kesuksesan. Setiap usaha akan memperoleh keberhasilannya dan setiap hasil tidak akan pernah menghianati prosesnya.

Yang kedua, manusia diajarkan untuk menghindarkan kedengkian kepada manusia lainnya. Seburuk buruk orang lain, belum tentu lebih buruk dari kita sendiri. Begitu juga sebaik baiknya kita, belum tentu lebih baik dari orang lain. Yang terlihat seringkali tidak bisa menjadi penggambaran utuh seseorang sehingga tidak bisa dijadikan dasar penilaian kalau kita tidak tahu permasalahan yang sebenarnya.

Puasa kita akan menjadi lebih baik, manakala fisik, fikiran, dan hati sejalan dalam menjalankan ibadah wajib ini. Sinkronisasi tiga komponen tersebut harus selalu diupayakan, meski terkadang terasa sulit. Jika ketiganya tidak dapat berjalan seiring, maka dapat dipastikan akan mengurangi keutamaan amal ibadah kita semua. Saat kita yakin dan berusaha, insyaallah pasti bisa. Yakinlah bahwa Allah swt pasti akan menunjukkan jalan terbaik. Jalan yang mendapatkan ridloNya dalam segala hal. Hanya kuasa Allah swt jualah yang akan menuntun ummat manusia menemukan jalan untuk menjadi lebih sempurna. Bagaimana dengan anda ??. (*)

***

*) Penulis Adalah Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim, Wakil Rektor 2 Unisma Malang dan Ketua Dewan Pembina DPW SAHI Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES