Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Nasehat Ibnu Atha’illah As Sakandari di Tengah Pandemi

Sabtu, 25 April 2020 - 21:58 | 196.97k
Dr. Muhammad Fahmi Hidayatullah, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNISMA, Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran UNISMA.
Dr. Muhammad Fahmi Hidayatullah, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNISMA, Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran UNISMA.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Nuansa ramadhan tahun ini (1441 H), sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan itu tak dapat menafikan kegelisahan hati umat Isam sebagai pengejawantahan disstabilitas ibadah atas keberadaan wabah. Kondisi demikian pun dirasakan mayoritas umat Islam dunia khususnya kalangan ahlussunnah wal jama’ah yang memiliki spirit tinggi dalam melaksanakan amaliah ibadah sunnah di bulan penuh berkah.

Berbagai macam multi tafsir muncul dengan keragaman perspektif lintas disiplin ilmu pengetahaun. Ada yang menggunakan pendekatan ekonomi, sosial, bahkan politik, termasuk penafsiran dalam kaca mata agama dengan menafsirkan corona sebagai ujian. Ada pula yang menafisrkan musibah dan lain sebagainya. Namun dalam tulisan ini, al faqir mencoba berpendapat dalam kaca mata ilmu tasawuf atau yang dikenal dengan thariqah (jalan) menuju ridha Allah,

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kondisi pandemi seperti saat ini memerlukan penjelasan dalam perpektif sufistik (orang yang mendalami ilmu tasawuf). Belajar dari para sufi yang memiliki kejernihan hati serta ketenangan jiwa dan kebersihan akal pikiran dalam keadaan senang maupun susah. Belajar dari KH. Luqman Hakim direktur Sufi Center. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam menjaga stabilitas pada kondisi pandemi. Namun al faqir hanya menjelaskan satu poin yang akan disambung pada tulisan selanjutnya. Salah satunya adalah berprasangka baik atau disebut dengan husnudzan.

Husnudzan, yakni berprasangka baik kepada Allah SWT. Pentingnya melakukan husnudzan tanpa mengeluh yang menyebabkan hati manusia menjadi kabur dirundung kegelapan dan tertutup dengan nur (cahaya). Tertutupnya hati manusialah yang mengakibatkan pernik-pernik perilaku kejahatan muncul dan membelenggu dirinya untuk berbuat sesuatu yang merugikan orang lain.

Yang perlu kita catat adalah mengeluh berbeda dengan berdoa, mengeluh juga berbeda dengan munajah. Berdoa artinya meminta pertolongan kepada Allah, dan munajah adalah permohonan yang disertai keintiman kepada Allah SWT. Sementara arti mengeluh adalah ungkapan perasaan susah tanpa disertai rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.

Mengeluh tidaklah menyelesaikan masalah, akan tetapi justru menjadikan manusia tersiksa karena keadaan dirinya. Pendapat Ibnu Atho’illah Assakandari dalm kitab Hikam menjelaskan laa tastaghrib waquu’al akdaari maa dumta fii haadzihi ddaari. Artimya, janganlah anda merasa asing atau ruwet dengan kekeruhan yang anda alami selagi anda hidup di dunia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kekeruhan merupakan kondisi buramnya suatu keadaan, entah pikiran maupun hati. Jadi segala peristiwa yang ada di dunia ini tidak perlu dijadikan sebagai beban kehidupan, karena sifatnya hanya sementara, dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam melaksanakan ibadah di tengah kondisi pandemi ini? Salah satunya adalah berprasangka baik kepada Allah SWT, bahwa kondisi demikian merupakan cara Allah mencintai dan menyayangi kita sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia dengan penciptaan yang sempurna.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW, inna rahmati tsabaqat ghadabi artinya sesungguhnya kasih sayang-Ku (rahmat-Ku) lebih kuat dari pada amarah-Ku. Artinya kasih sayang Allah mendahului dari amarah-Nya. Sehingga, tidak perlu kita memandang bahwa Allah sedang marah dengan memberikan ujian sebagaimana pandemi saat ini. Akan tetapi,  kondisi ini merupakan bentuk kasih sayang Allah yang sangat dalam kepada kita semua sebagai manusia yang beriman.

Pelajaran inilaah yang menjadikan manusia lebih berhati-hati dan stabil dengan keadaan. Artinya, tidak mudah berbangga diri dengan nikmat yang didapat dan sebaliknya, tidak gundah dengan ujian yang melanda. Akal dan hati yang sehat, senantiasa berdzikir mengingat Allah dalam kondisi apapun. Sehingga setiap ujian yang merundung, senantiasa mengedepankan sikap berprasangka baik kepada Allah SWT.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. Muhammad Fahmi Hidayatullah, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNISMA, Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran UNISMA.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES