Kopi TIMES

Puasa Dimensi Khawasul Khawas

Senin, 27 April 2020 - 02:29 | 155.06k
Imam Safi’i, S.Pdi, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam, Kabag Keagamaan UNISMA.
Imam Safi’i, S.Pdi, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam, Kabag Keagamaan UNISMA.

TIMESINDONESIA, MALANG – Manusia yang beriman mempunyai kewajiban untuk menunaikan puasa Ramadhan, sesuai dengan perintah dalam al Quranul Karim. Dasar perintah menjadi satu spirit yang dipegang untuk menjalankannya.

Akan tetapi masih ada ummat Islam masih tidak menunaikan dengan alasan tidak mampu menahan lapar, dahaga karena pekerjaannya membutuhkan tenaga. Ada juga  memang tidak pernah berlatih puasa dari kecil hingga sudah dewasa dan lebih miris lagi karena tidak mengerti ilmunya puasa serta keutamaan puasa di bulan Ramadhan.

Advertisement

Kemampuan menunaikan puasa tidak hanya diukur dari kekuatan fisiknya manusia,bisa dilihat sekeliling kita masih banyak manusia yang mempunyai kondisi fisik sehat tapi tidak mampu menunaikan puasa, semua bisa terjadi karena batinnya lemah. Tidak adanya daya dorong dari batin disebabkan iman yang sangat lemah pada dirinya. 

Keyakinan yang kuat dalam batin menjadikan mudah melakukan perintah-perintah Allah SWT. Maka dari sini sangat penting sekali untuk terus mengasah kekuatan batiniah dengan cara riyadah.

Bisa kita intip kehidupan para waliyullah mempunyai kekuatan batin yang istimewa, dari situ muncul sikap yang sangat yaqin kepada Allah dan tidak ada sedikitpun keraguan dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sampai hal ini digambarkan dalam al Quran surat Yunus,ayat 62: “Bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu tidaklah ada rasa ketakutan atas mereka dan tidak ada pula rasa susah atau bersedih hati”.

Puasa tidak serta merta membahas tentang dhohiriah yang kelihatan mata, tapi membicarakan sesuatu ketidaknampakan. Andaikan manusia di luar rumah kelihatannya menunaikan puasa tapi andaikan dia pulang ke rumah dan melakukan makan, minum tidak satupun manusia yang tahu. Namun mengapa hal itu tidak dilakukan oleh para shoimun karena disebabkan keyaqinannya bahwa puasa Ramadhan ini untuk Allah bukan untuk selainnya.

Oleh karenanya, pemahaman bahwa puasa harus ditunaikan dengan semata-mata karena Allah, melakukan pengekangan di dalam batin untuk tidak sedikitpun berpaling kepada selain Allah SWT, dalam kondisi seperti apapun, tetap harus dilakukan.

Bersihkan penyakit-penyakit batin seperti riya’ (beribadah tidak karena Allah swt tapi ingin dipuji  orang lain), ujub (membanggakan dirinya), sum’ah (suka menceritakan kebaikannya kepada orang lain agar mendapat pujian ). Dengan membersihkan kotoran batin akan mampu melakukan puasa dalam tingkatan tertinggi yaitu pPuasa khawasul khawas.

Derajat puasa khawasul khawas inilah sesungguhnya yang didambakan seluruh umat Islam yang beriman, walaupun untuk menuju ke situ sangat sulit harus melewati tangga-tangga penyucian dhohir dan batin dari semua kemaksiatan. Tidak hanya menahan lapar, haus dan berhubungan suami istri di siang hari, akan tetapi menghindar dari semua yang dilarang oleh Allah SWT, dan dalam batinnya selalu terisi dengan Allah tidak terisi selainnya.

Dengan menunaikan puasa Ramadhan ditingkat khawasul khawas maka akan membentuk manusia yang muttaqin dan hidupnya selalu dalam lindungan Allah SWT.

***

*)Penulis: Imam Safi’i,S.Pdi,M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam, Kabag Keagamaan UNISMA.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Adhitya Hendra

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES