Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Hikmah Pendidikan dari Ramadhan

Sabtu, 02 Mei 2020 - 11:42 | 65.07k
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Peringatan Hari Pendidikan, 2 Mei 2020, kali ini berada di Ramadhan 1441 H. Satu sisi juga berada pada era pandemi covid-19. Dalam hal ini penulis tidak terlalu tertarik membicarakan Covid-19 dalam peringatan hardiknas, semakin tidak sering dibicarakan, semakin tidak popoler dengan demikian semoga covid-19 segera diangkat Allah SWT karena sudah tidak menarik lagi untuk dibicarakan. Menarik untuk dikaji adalah ketepatan Hardiknas ini dibulan Ramadhan, di hari ke-9.  Angka tertinggi dari deretan angka yang ada.

Pendidikan seringkali diartikan sebagai usaha sadar membimbing manusia agar ia berkembang secara maksimal. Manusia memiliki dua tugas utama; sebagai hamba dan sebagai khalifah. Berarti mendidik manusia berkembang secara maksimal agar dapat menjadi seorang hamba yang sholeh, yang benar, dan menjadi seorang khalifah, mengurus dunia ini dengan benar pula. Rumusan ini dalam system pendidikan nasional Indonesia dikenal dengan penguasaan tiga kompetensi; kompetensi sikap (spiritual dan social) dalam rangka menjadi seorang hamba yang sholeh, kompetensi pengetahuan dan keterampilan dalam rangka menjadi khalifah yang cerdas dan benar.

Advertisement

Lantas apa kaitannya dengan ramadhan ini. Bulan Ramadhan bulan didalamnya mewajibkan orang beriman berpuasa (QS Al-Baqarah: 183). Tujuannya mengantarkan orang beriman tersebut menjadi orang yang bertaqwa (muttaqien). Orang yang bertaqwa adalah indicator seorang hamba yang benar, hamba yang sholeh. Derajad manusia disisi Allah swt bergantung dari kualitas taqwanya, berapa tinggi dan bagus dibanding orang beriman lainnya. Tidak ditentukan oleh kedudukan, tingginya ilmu, luarnya kemashuran, dan kekayaan dunia yang dimilikinya.

Tujuan menjadi seorang hamba yang sholeh yakni menjadi muttaqien sebagaimana tujuan dari puasa telah menjawab dari tujuan pendidikan dari aspek sikap. Lantas bagaimana dengan aspek pengetahuan dan keterampilan, apakah puasa Ramadhan ini mampu memberikan jawaban atas itu.

Pada ayat berikutnya setelah perintah berpuasa di bulan Ramadhan, Allah berfirman pada ayat 185 yang artinya “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” Allah menurunkan Al Quran pada bulan ini sebagai petunjuk,penjelas, dan pembeda bagi manusia. Inilah manual kehidupan. Pegangan hidup untuk ummat manusia agar mampu menjalankan hidup dalam kehidupan ini.

Al Quran perlu dibaca, dikaji, dipahami, diresapi, dirasakan, dan diamalkan. Sehingga akan terbentuk pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari Al Quran. Al Quran tidak hanya berisi tentang hokum-hukum agama tetapi juga pengetahuan dan rahasia yang harus dipecahkan oleh manusia selama hidup di dunia ini.

Al Quran turun pertama kali dengan perintah Iqra (membaca). Maka membaca adalah perintah Allah yang pertama harus kita lakukan. Membaca adalah proses mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Tanpa membaca maka pengetahuan dan akhirnya melahirkan keterampilan tersebut tidak akan dapat diraih. Olehnya membaca harus dijadikan kebiasaan kita, baik sebagai guru ataupun sebagai murid. Kemajuan suatu bangsa karena tingkat kebiasaan membaca yang tinggi. Sebaliknya rendahnya kualitas membaca, apalagi sampai rendahnya kebiasaan membaca akan membawa keterbelakangan dari suatu Negara tersebut.

Maka hikmah pendidikan dari ramadhan ini dapat dijadikan momentum untuk mensukseskan pendidikan nasional kita. Pendidikan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 diartikan "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara." Maka dengan berpuasa yang sungguh-sungguh, mengkaji Al Quran dengan membaca, memahami dan mengamalkan akan tercapailah tujuan pendidikan nasional tersebut yakni insan manusia, anggota masyarakat, yang memiliki spiritual keagamaan yang sholeh yang otomatis akan mampu mengendalikan diri (hawa nafsu), cerdas dengan pengetahuan yang mumpuni, terampil, dan berakhlakul karimah yang itu pasti akan membawa kemanfaatan kepada dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. (*)

***

*)Oleh: Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES