Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Jangan Jadi Pemalas di Masa Pandemi: Belajar dari Sejarah Punahnya Homo Erectus

Minggu, 03 Mei 2020 - 13:29 | 55.16k
Khoirul Muttaqin, S.S., M.Hum. pernah menjadi wartawan dan saat ini menjadi dosen di FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA).
Khoirul Muttaqin, S.S., M.Hum. pernah menjadi wartawan dan saat ini menjadi dosen di FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Masa pandemi Covid-19 masih terus berjalan. Vaksin virus tersebut belum ditemukan. Dampak besar di berbagai bidang yang disebabkan oleh pandemi tersebut masih dirasakan. Hal itu memaksa orang harus berpikir keras untuk bertahan hidup disituasi sulit seperti ini. Bagi umat Islam ujian ini semakin terasa karena bertepatan dengan datangnya bulan Ramadan.

Situasi ini memang memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah. Hal ini membuat banyak orang di media sosial berpendapat bahwa dengan rebahan dapat membantu bangsa dan negara. Dalam artian lain dengan malas-malasan dapat menyelamatkan bangsa dan negara. Boleh dikatan, pendapat itu memang benar, karena dengan rebahan di rumah mampu sedikit memotong mata rantai penyebaran virus Covid-19. Akan tetapi, hal tersebut tentu bukan satu-satunya jalan.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kita harus belajar dari sejarah punahnya Homo Erectus. Menurut para peneliti Homo Erectus punah karena kemalasan mereka. Mereka hanya pasrah dengan keadaan tanpa mau berpikir maju. Mereka hanya tinggal di tempat yang dekat air, hanya menggunakan batu di sekitar tempat tinggal mereka yang ternyata hanya mempunyai kualitas rendah, dan tidak mau mencari tantangan baru yang membuat mereka maju. Hal tersebut menunjukkan mereka tidak punya keinginan untuk menghadapi keadaan. Mereka tidak mampu beradaptasi pada perputaran kehidupan yang terkadang berada pada situasi yang menyulitkan, seperti masa pandemi ini.

Dahlan Iskan pernah berpendapat bahwa dalam keadaan seperti ini tentu harus bisa berinovasi. Memang bidang yang paling terlihat jelas terdampak oleh virus ini adalah bidang ekonomi. Oleh karena itu, pelaku perekonomian harus berinovasi. Misalnya pedagang sayur harus bertransformasi sesuai keadaan saat ini. Tukang potong rambut juga harus menawarkan layanan potong rambut anti-Covid-19. Pengusaha perhotelan harus melihat situasi saat ini, seperti membuat paket karantina, dan lain sebagainya.

Salah satu cara manusia untuk bertahan hidup memang adalah dengan beradaptasi dengan segala macam keadaan dan lingkungan. Jika manusia mampu terus bertahan dari berbagai macam keadaan, keberlangsungan hidupnya akan tetap terjaga. Manusia merupakan makhluk yang dikaruniai akal untuk berpikir maju. Maka dari itu sepatutnya manusia mencari solusi untuk menghadapi setiap kondisi dan situasi.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Bertepatan dengan masuknya bulan Ramadan, pasti umat Islam yang taat akan menjalankan ibadah puasa. Jangan sampai berpikir, karena tidur adalah ibadah, maka sepanjang siang kita manfaatkan waktu kita hanya untuk tidur. Hal itu memanglah benar, tetapi harus juga dibandingkan dengan hal lain, semisal kita bekerja, mengaji, membaca, atau melakukan hal-hal baik lainnya. Tentu nilai ibadah pekerjan-pekerjaan itu jauh lebih besar daripada hanya sekadar tidur saja sepanjang hari.

Pendapat tidur di saat puasa adalah ibadah tentu dapat dikaitkan dengan pendapat rebahan di kala pandemi Covid-19 membantu bangsa dan negara. Memang jika itu kita lakukan kita sedikit akan dapat bernapas lega karena risiko penularan Covid-19 terhadap diri kita akan berkurang, yang tentu akan sedikit membantu pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Akan tetapi, risiko yang lain akan muncul, seperti menurunnya perekonomian, menurunya daya pikir, dan mungkin menurunnya kesehatan. Oleh karena itu, ketika dalam masa pandemi ini kita harus berinovasi, selalu berkreativitas, munculkan terobosan-terobosan baru dengan tetap berpegang pada imbaun pemerintah untuk melakukan physical distancing. Jangan puas bila tidak berkarya. Anda harus sedikit mengadopsi ungkapan populer dari seorang filsuf, Rene Descartes, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Dalam artian ini kita harus berkarya, maka keberadaan kita pantas diakui di muka bumi ini. 

Pada dasarnya masa pandemi ini memaksa kita untuk beradaptasi dengan keadaan. Jangan pasrah. Jangan hanya mengharap belas kasihan dari orang lain. Cobalah terus berpikir. Cari solusi agar keberlangsungan hidup tetap terjaga. Jangan menyerah serta mengalah pada perihnya kehidupan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Khoirul Muttaqin, S.S., M.Hum. pernah menjadi wartawan dan saat ini menjadi dosen di FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES