Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Pendidikan Jiwa

Kamis, 07 Mei 2020 - 15:55 | 69.76k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Kitab Mantiqu’t-Thair merupakan salah satu kitab puisi naratif yang ditulis oleh seorang sufi sekaligus penyair besar Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, dengan panggilan akrab Attar. Kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Musayawah Burung” mengisahkan perjalanan sekawanan burung dengan sifat khasnya masing-masing yang berkumpul di suatu tempat untuk mencari raja burung sejati bernama Simugh. Pertemuan burung-burung tersebut di pimpin oleh burung kepercayaan Nabi Sulaiman bernama Hud-Hud.

Demikian indah bahasa sastra yang dibuat oleh para penyair sehingga sastra tidak hanya sekedar kumpulan kata-kata indah melainkan sebagai naluri manusia untuk mencari kelembutan dan dan keindahan sekaligus kebenaran haqiqi. Dalam karya sastra sufistik, pengetahuan yang terdapat di dalamnya bukanlah sesuatu yang bersifat indrawi semata, melainkan pengalaman batin yang ditempa dengan jiwa. Meskipun tidak akan ditemukan kata untuk mewakili kesaksian pengalaman batinnya, tetapi diksi-diksi yang terdapat dalam larik-larik puisinya adalah saksi keindahan Tuhan yang tak menemukan kata-kata biasa.

Advertisement

Keindahan pengalaman seorang sufistik dapat dibaca dari narasi karya-karyanya. Terdapat ratusan sufi yang mengisahkan pengalaman batinnya dalam sebuah sajak atau puisi-puisi naratif termasuk Syekh Faridu'd-Din Attar. Kata Attar sendiri yang melekat dibelakang namanya merupakan metafor dari “Bunga Mawar”. Saat Attar memulai perjalaan spiritualnya menemukan cinta sejati Allah, dia didatangi oleh seorang Darwis yang tidak memiliki apa-apa dan saat itu sedang menangi di depan tokonya. Melihat hal tersebut Attar mengusirnya karena karena mengira seorang peminta-minta biasa. Lantas Darwis tersebut berkata pada Attar “Yang membuat aku sedih bukanlah isi dunia ini Attar, tetapi Aku sedih jika dalam hidupmu belum bertemu dengan Tuhanmu, lantas kamu sudah berpulang kepada-Nya”.

Mendengar hal tersebut Attar tertegun, kemudian dia mendengar perkataan Darwis Kembali. “Aku tidak keberatan meninggal tokomu, wahai Attar. Termasuk Aku tidak takut jika harus meninggalkan dunia ini dengan jubah aku miliki sekarang.” Beberapa saat setelah itu, Darwis itupun meninggal di depan Attar dan kisah Attar mencari jati diri dan Tuhannya dimulai. 

Dalam kitab Mantiqu’t-Thoir para burung adalah kisah ruh-ruh sufi yang mencari sejatinya ruh, yakni Rob. Para burung tersebut saling memperkenalkan diri sebagai burung yang indah sekaligus burung yang memiliki kekurangannya masing-masing. Hud-Hud mengilustrasi Raja Simugh sebagai raja burung yang paling berkuasa di alam semesta. Bagi Hud-Hud ilustrasi Simugh adalah metafora ketuhanan yang harus dicari oleh semua burung atau manusia sebagai hamba-hamba-Nya. 

Sang Raja burung yang tak lain adalah gambaran Rob diilustrasi oleh Hud-Hud kepada burung-burung yang lain. Bahwa raja tersebut sangat dekat dengan kita, tetapi kita sangatlah jauh dengan Dia. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tidak ada lidah yang dapat menyebut namanya secara sempurna. Di depannya tergantung seratus ribu tabir cahaya sekaligus kegelapan sehingga tidak akan ada satupun burung yang dapat menemuinya secara sumpurna. Dalam tuturan Hud-hud kepada burung yang lain, bahwa Simugh tak akan menampakkan diri meskipun di tempat persemayamannya. 

Demikianlah metafor yang dibuat oleh Attar tentang perjalanan spiritual manusia untuk mencari Tuhannya. Baginya, Tuhan yang teramat dekat dengan manusia, tetapi nafs kita sendirilah yang membuat kita sangat jauh dengan Tuhan. Perjalanan menuju Tuhan tidak dapat diilustrasi dengan kata-kata, demikian juga dengan jauhnya. Hal ini karena perjalanan menuju Tuhan membutuhan ‘riyadah’ yang sangat serius dan tidak cukup seratus bahkan ribuan cobaan. Perjalanan menuju cinta sejati Tuhan haruslah dimulai dari kebersihan jiwa dan harus ‘tazkiyatun nafs’.

Saat Hud-Hud mengilusrasi tentang Raja Simugh yang sehelai bulunya terjatuh di Negeri China. Lantas para Hud-Hud memberikan ilustrasi bahwa sehelai bulu yang Jatuh di China membuat banyak orang ingin nelukis bulu tersebut tanpa kepala dan tanpa ekor. Banyak orang yang melukis Simugh tanpa awal dan tanpa akhir. Demikian banyaknya lukisan di Negara itu, lantas para pemikirnyapun semakin banyak, dan kebudayaanpun semakin berkembang kemudian Nabi menyampaikan kepada umatnya “Carilah Ilmu sampai ke Negeri China”.

Demikian agung Raja Simugh yang digambarkan oleh Attar dibagian awal tulisannya yang tida lain adalah metafor tentang sifat-sifat ketuhanan. Tak ada yang menyerupai-Nya bahkan sendainya para pujangga berkumpul dan saling membantu membuat satu puisi yang paling indah sekalipun, tidak aka nada yang dapat menyerupai bahasa bahasa halus yang disampaikan oleh Simugh. 

Beberapa saat kemudian Hud-Hud tampil ke muka sebagai penggiat dari perjalaan suci yang hendak mereka lakukan. Paruhnya bertulisan bismilah. Dia meyampaikan bahwa perjalanan menuju Simugh Sang Raja burung harus meninggalkan kebanggan yang dimiiki oleh para burung, baik suara, atau pun sifat bulu-bulu indah yang mereka miliki. Begitulah pesan Hud-Hud, seorang yang arifpun tidak akan menemukan kearifanya jika dia masih berselendang kesombongan yang ada pada dirinya.

Simbol-simbol metafor yang terdapat dalam ilustrasi tersebut ialah bahwa kenenaran sejati Al Haq tidak dapat dimulai dengan perasaan keakuan atau merasa masih memiliki kelebihan dari yang lain. Untuk menuju kebenaran sejati harus betul-betul meninggalkan selendang kesombongan diri. Jiwa harus ditempat dengan zuhud sehingga perjalanan bertariqoh untuk menemukan kebenaran sejati dapat dimulai. Demikian pengantar dalam Kitab Mantiqu’t Thoir karya Sang Sufi Faridu'd-Din Attar.

***

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES