Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Menjaga Stabilitas Teologis

Kamis, 07 Mei 2020 - 19:58 | 50.02k
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada suatu pesan dari kalangan psikolog dan agamawan yang berbunyi semakin serius dan komplikasi problem yang dihadapi masyarakat, maka semakin rentan pulalah kondisi psikologisnya. Virus kejiwaan yang menyerang dan menghegemoni masyarakat modern atau milenialistik ini semakin tak terhindarkan, jika standar kemodernan atau kemilenialistiknya  direlasikan dengan pembentukan gaya hidup yang serba dipaksakan diluar batas kemampuannya, dan sebaliknya menyerahkan dirinya pada absolutisasi kemauan. 

Akibat pemaksaaan tersebut, masyarakat menjalani kehidupan dengan kondisi teralinasi (terasing) atau rentan kejiwaannya di ranah labilitsa. Saat kondisi psikologis rentan (labilitas) demikian ini, berbagai resiko buruk seringkali mengikuti atau menyrangnya. Beragam  virus akhirnya senang memilih dirinya sebagai tempat menarik untuk menjalani kehidupan (perkembangannya).

Advertisement

Kata Psikiater kenamaan Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari (1995), “banyak orang yang terpukau dengan modernisasi. Mereka menyangka dengan modernisasi itu serta merta akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap memukau itu ada gejala yang dinamakan  “agony of modernization” atau “azab sengsara karena modernisasi”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kehadiran pandemi Covid-19 ini dapat saja diposisikan sebagai cermin “agony of modernization”, jika manusia melihatnya dari sudut paradoksal, bahwa kondisi kehdupan sebelumnya atau yang dijalani sarat dengan kebahagiaan yang bertaburan, yang kemdian dikebahagiaan ini sepertinya lenyap dalam seketika akibat datangnya ”azab” yang merampasnya, sehingga sekarang yan dirasakan seolah atau identik sebagai hidup berbalt dengan penderitaan. Dalam ranah demikian, tentulah asumsi subyektif manusiawi dirinya yang dimenangkan, semenara nalar bening, bahwa hidupnya berelasi dengan kebertuhanan (teologis) diabaikan atau bahkan disingkirkannya.

Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan, bahwa orang yang menjadikan (memaksimalkan) dunia (materialisme-hedonisme) sebagai cita-cita (kepentingan) terbesarnya, ia akan terpisah (teralinasi) dari Allah, dan ditetapkan (ditimpakan azab) di hati orang itu empat perkara, pertama, kegelisahan tanpa henti, kedua, kesibukan yang tak kunjung berakhir, keti­ga, rasa kurang yang tidak pernah cukup, dan keempat, angan-angan yang tidak pernah sampai (terkabul)”.

Kehadiran puasa (Ramadan) merupakan pekan penyucian dan pemantapan kepribadian manusia itu. Manusia yang berpuasa (shaim) dikondisikan untuk berakrab-akrab, melekatkan dirinya dan menjernihkan rasionalitasnya kepada Allah SWT. Manusia dituntut untuk menikmati “pesta” penjernihan emosi, ambisi dan nafsu yang berlebihan.

Pada “pesta dzikrullah” (puasa) itu, manusia diingatkan untuk menyelamatkan ruhani dan psikologisnya. Kondisi psikologis yang labil, teralinasi, atau emosinya serba dipacu oleh tuntutan modernisasi dan hedonisasi gaya hidup, dapat disembuhkan atau direstabilisasi dengan cara memperbanyak dzikir.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Produktifitas dzikir selama bulan ramadan akan menentukan kualifikasi kepribadian seseorang. Semakin sering seseorang berdzikir, maka semakin banyak virus yang melekat di dalam dirinya yang berhasil dieliminasi (disembuhkan). Dalam ranah ini, manusia yang berpuasa identik ”mengeksistentikan” Tuhan ke dalam dirinya atau kehidupannya.

Saat berpuasa seperti itu, manusia disuruhNya mendiagnosis dan merawat kegersangan, dahaga dan kegamangan kejiwaannya dengan cara memperbanyak dzikir, membaca dan memahami kemu’jizatan Al-Qur’an, mau beramal saleh atau mensalehkan kepribadiannya.

Diingatkan oleh Allah SWT,  ”orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan dzikrullah. Ketahuilah dengan dzikrullah itu, tenang menenteramlah hati manusia”. (Q.S. Ar-Ra’du: 28)

Ayat tersebut sudah jelas menempatkan kedudukan orang yang berdzikir, bahwa seseorang yang berdzikir zama artinya dengan berusaha mendekatkan diri secara intens dengan Tuhannya. Orang seperti ini tetap punya keyakinan yang kuat bahwa sumber ketentraman dan kedamaian batin adalah dengan menjalin dan menguatkan hubungan vertilal denganNya. Tipe manusia ini paham  dengan jalan spiritualitas yang harus dilaluinya dan dampaknya terhadap pembentukan dirinya.

Dalam ranah itulah, seseorang atau sejumlah orang yang sedang berpuasa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh ketenagan batin atau  tersedia ruang menjaga stabilitas teologisnya, karena di bulan Ramadan, Allah memberikan penghargaan yang berlipat ganda kepada orang-orang yang mau “berdekatan” denganNya.

Masyarakat Indonesia yang berada dalam genggaman modernitas ini akan mampu menyetabilkan psikologisnya jika dalam dialektika dengan tuhannya tidak terjangkit kematian atau tetap mampu menjaga stabilitas teologisnya. Covid-19 oleh Allah ditempatkan sebagai bagian atau salah satu dari sekian banyak ujian untuk manusia yang sedang menjalankan puasanya supaya dirinya paham, yakin, dan teguh dalam konstruksi relasionalitasnya denganNya. Kalau sudah demikian, manusia tidak akan sampai “sangat” susah, apalagi menderita dengan Corona.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Penulis Buku Hukum dan Agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES