Kopi TIMES

Manfaatkan Ramadhan sebagai Momentum yang Baik

Jumat, 08 Mei 2020 - 06:11 | 53.60k
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Bagi orang yang ingin maju dan terus dapat memenangkan persaingan, jangan pernah lupakan momentum. Kenapa demikian ? Karena inilah saat terbaik untuk mengambil keputusan dengan mendasarkan pada situasi dan kondisi yang ada. Prinsipnya momentum itu hanya datang sekali dan jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan ketinggalan. Orang orang yang ketinggalan jika tidak segera ambil langkah dan melompat, selamanya juga akan terus ada dibelakang. Tidak pernah ada di barisan pertama.

Mestinya prinsip dalam menjalani hidup ini juga selaras dengan pemikiran tersebut. Orang yang berhasil, salah satunya adalah orang yang menjadi pelopor. Untuk menjadi demikian, maka tidak ada pilihan lain kecuali harus tetap menjadi yang terdepan. Berfikirlah ketika orang lain lagi beristirahat. Berjalanlah ketika orang lain lagi berfikit, dan berlarilah ketika orang lain mulai mengambil langkah

Advertisement

Dengan menjadi pelopor, kita akan menjadi “trend setter” dan tidak akan menjadi “follower”. Kita akan menjadi bagian yang akan diikuti oleh banyak fihak yang menjadi pengekor. Ada seorang artis yang seringkali menjadi trend setter karena sering kali menjadi yang pertama. Bahkan produk tersebut diidentikkan dengan artis tersebut. Dulu ada baju blink blink yang orang menyebutnya sebagai “baju Syahrini”. Begitu juga sekarang ada mukena yang disukai banyak kalangan, baik yang muda muda maupun yang sudah ibu rumah tangga. Orangpun tak lupa menyebutnya sebagai “mukena Syahrini”

Kenapa ini bisa terjadi ? Karena Syahrini dengan nama besarnya sebagai penyanyi papan atas, mampu memanfaatkan dengan timing waktu yang tepat dan cara yang cocok. Kebiasaan artis ini yang glamour, akan menempatkan produk dalam kelas tersendiri dan berbeda dengan yang lain. Disamping itu, momentum ramadhan adalah saat yang tepat untuk mempromosikan produk produk yang ada kaitan dengan amal peribadatan dan keyakinan agama.

Semangat beragama dalam bulan ramadhan juga momentum yang tepat untuk meningkatkan keilmuan dan amaliyah agama. Banyak pesantren yang juga memanfaatkan ramadhan untuk memadatkan kegiatan keilmuan melalui kajian kitab kitab salaf secara marathon, Para santri digembleng dan ditingkatkan daya nalarnya mulai pagi sampai dini hari.

Para dai juga tidak ketinggalkan memanfaatkan bulan ini sebagai peningkatan kegiatan dakwah Islam dengan berkeliling ke masjid masjid dan mushola. Mulai dari kajian gama, kultum (kuliah tujuh menit) jelang berbuka, ceramah singkat saat antara sholat taroweh dan sholat witir, pengajian umum di malam hari, sampai kegiatan menziarahi maqom maqom orang alim untuk berdoa memohon agar hari ini dan kedepan lebih baik, dari hari hari sebelumnya.

Para wirausawahan dadakan juga ramai ramai berjualan bahan makanan untuk takjil, berbuka, dan sahur. Mereka menjajakan dagangan di tempat tempat strategis yang mudah dijangkau oleh calon konsumen. Momentum ini, karena belanja di bulan ramadhan melebihi anggaran anggaran rutin pada bulan bulan lainnya. Seorang pengusaha bahkan pernah berucap, begitu larisnya dagangan yang dijajakan dapat meningkatkan pendapatan yang setara dengan sebelas bulan lainnya.

Oleh karena itu, jika ingin sukses jangan pernah meremehkan yang namana momentum. Karena ini saat yang paling tepat untuk mendapat sesuatu yang lebih baik dalam urusan ibadah, amal baik, maupun amal lainnya seperti berdagang, dan sejenisnya. Ramadhan adalah momentum yang paling untuk berubah dan berusaha, sekaligus mendapatkan sesuatu yang lebih baik, yang tidak terdapat pada bulan lainnya. Bagaimana dengan anda ??

***

*) Oleh : Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES