Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Menempatkan Harta

Jumat, 08 Mei 2020 - 10:02 | 68.66k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Memaknai satu larik dari puisi terkadang tidak cukup dengan sepuluh halaman kertas HVS. Hal ini karena karya sastra adalah representasi dari kompleksitas pengalaman seseorang. Kompleksitas kandungan yang terdapat dalam karya sastra adalah saripati dari pengetahuan, pengalaman, keyakinan, sekaligus imajiasi seseorang. Imajinasi yang menjadi bingkai dari tulisan dapat menjadikan berbagai pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan menjadi sebuah mutiara tulisan yang sangat estetik.

Estetika dalam kitab ‘Mantiqu’t Thoir’ pada bagian dua ini dapat dilihat dari simbol-simbol estetik yang digunakan. Simbol-simbol burung yang dijadikan tokoh oleh Syekh Faridu'd-Din Attar merupakan ilustrasi jiwa-jiwa manusia dengan jenis yang beranika ragam. Saat burung Hud-Hud memulai musyawarah kepada burung-burung yang lain. Dia melihat Elang dengan kekuatan dan ketajaman mata yang tidak dimiliki oleh burung-burung lainya. Sang Elang berkata kepada Hud-Hud “Kenapa saya harus mencari Simugh, padahal saya sudah hidup enak di istana dan selalu bertengger di tangan seorang raja?”

Advertisement

Mendengar pertanyaan Elang yang sangat percaya diri dengan kekuasaan yang dimilikinya, Hud-Hud menyampaikan jawabannya dengan sederhana. “Bukankah sesuatu yang tidak kekal selalu akan dikatakan demikian. Setiap saat kamu selalu dihantui rasa takut kehilangan. Sebenarnya kamu burung yang sangat bebas namun di istana kamu adalah burung yang tidak merdeka dengan kaki yang selalu dirantai.” Demikianlah ilustrasi kedua tentang orang-orang yang sudah tertarik dengan keindahan dunia dan tidak mau mencari sesutu yang lebih hakiki melebihi harta benda.

Sejatinya setiap diri kita adalah Elang yang dapat bergerak ke mana saja dengan kecerdasan pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah yang lain. Namun, seketika kita terlena dengan berbagai keberhasilan dunia yang telah kita dapatkan, terkadang kita enggan meninggalkannya. Kekhawatiran ditinggalkan oleh harta yang kita miliki mulai ada termasuk harus menjadi penjaga harta kita sendiri. Keterpesonaan terhadap kehidupan yang mestinya dianggap biasa-biasa saja telah mengubah citra kefitrahan kita. Dengan demikian, simbol perjalanan ritual yang dibuat oleh Syekh Faridu’d-Din untuk mencari sejatinya kebenaran terkadang kandas dalam sekedip mata.

Tidak ada yang salah dengan kemegahan yang kita miliki, tetapi akan menjadi bermasalah ketika tidak berkeinginan untuk mengenal Sang Pencipta dunia sendiri. Pada intinya Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sukses di dunia pun juga di akhirat nanti. Dunia yang kita genggam mestinya tetap di tangan tidak sampai disimpan di dalam pikiran apalagi di dalam hati. Namun, ketika kekayaan yang kita miliki sudah disimpan di dalam pikiran dan di dalam hati, terkadang kita akan sakit karena memikirkannya. Hal inilah yang tidak dianjurkan dalam agama apapun.

Ibnu Shina dengan kecerdasan yang ia miliki telah menjadikan dirinya orang yang sangat kaya. Namun harta kekayaan yang dimiliki oleh Ibnu Shina, tidak pernah menutupi semua ilmu yang dia miliki. Dalam berbagai kesempatan, akhir pelajaran yang disampaikan kepada murid-muridnya ialah bagaimana cara berperilaku zuhud. Suatu ketika, salah satu muridnya mencari tempat tinggalnya. Saat ditanya kepada masyarakat setempat tentang tempat tinggal orang yang mangajarinya zuhud tersebut, dia sangat kaget karena semua orang menunjuk ke rumah yang sangat mewah di kota itu.

Melihat rumah mewah Sang Guru, timbulah perasaan marah kepada gurunya. Seketika itu, dia ingin segera bertemu Sang guru tersebut. Dia ingin bertanya bagaimana dia menyuruh zuhud kepada orang lain, sementara dirinya tidak pernah melakuan hal tersebut. Ketika dia berada di rumahnya dan dipersilahkan masuk ke ruang tamu yang sangat istimewa, hatinya semakin berkecamuk dan rasa tidak percaya kepada gurunya yang tidak lain adalah Ibnu Shina. Seketika gurunya keluar sambil mengucapkan salam dan tersenyum, hati Sang Murid masih terlihat kurang bersahabat.

Sebelum muridnya bertanya tentang berbagai hal kepada Ibnu Shina, lantas dia semakin tersenyum. Hal ini semakin menimbulkan rasa penasaran di hati muridnya. “Wahai guru setiap kali engkau mengajarkan aku pengetahuan, yang selalu engkau utamakan adalah kezuhudan. Lantas kenapa guru bermegah-megahan dengan harta?” dengan santai Ibnu Shina berkata, “Saya sebenarnya memiliki harta yang sangat banyak, namun sedikitpun harta tersebut tidak pernah menyentuh pikiran apalagi hatiku. Sementara kamu memiliki harta sedikit, namun sedikitnya harta tersebut telah engkau tempatkan dalam pikiran dan hatimu.” Mendengar ujaran gurunya tersebut. Hati Sang Murid menjadi luluh. Dia betul-betul merasa bahwa pengetahuan yang selama ini disalah-artikan. 

Demikian juga dengan puisi-puisi yang dibuat oleh Syekh Faridu'd-Din Attar dalam kitab tersebut memiliki pesan implisit bahwa kecerdasan yang kita miliki jangan sampai terbelenggu oleh keberadaan harga benda atau apapun yang menghalang-halangi kita mencari kebenaran yang haqiqi. Tetaplah mencari nilai-nilai kebenaran tentang kesejatian diri dan Tuhan. Di pertengahan bulan Ramadhan ini, semoga kita tetap dijadikan hamba-hambanya yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

***

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES