Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Pembumian Spiritualitas Sosial

Selasa, 12 Mei 2020 - 13:05 | 63.65k
Dr. Moh. Muhibbin, SH.MH, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis sejumlah Buku.
Dr. Moh. Muhibbin, SH.MH, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis sejumlah Buku.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Kita (kaum beragama) memang banyak yang paham, bahwa kezaliman merupakan perilaku yang bercorak menista, menyakiti, menyulitkan, dan mengakibatkan terjadinya kesengsaraan pada orang lain. Orang lain atau komunitas yang sedang menderita atau dibikin sengsara ini disebut dengan mustadh’afin, yang diterjemahkan oleh Jalaluddin rahmat dengan “orang-orang yang telah dibuat menderita”  atau orang-orang kecil yang sedang dibikin sengsara.

Jika yang melakukan itu individu dan sekelompok orang, maka kesewenang-wenangannya ini berupa kezaliman personal dan kolektif. Perilaku  demikian inilah yang bisa mengakibatkan seseorang atau sejumlah orang menderita kelaparan. Mereka ini  menjadi obyek dari orang kaya atau elitis ekonomi, yang tidak mau berbagi atau ”mengembalikan” sebagian haknya, padahal di dalam harta orang kaya itu sudah digariskan oleh Allah terdapat eksistensi hak orang lain, yang wajib ditegakkannya.  

Advertisement

Firman Allah menyebutkan, ”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian” (QS. Adz-Dzariyat: 19). Dalam ayat lainnya disebutkan “Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah/nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al-Baqarah: 267).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Hal itu menunjukkan, bahwa harta yang merasa menjadi miliknya orang kaya atau elitisme ekonmi, sejatinya terdapat haknya orang miskin. sayangnya, banyak elitisme ekonomi yang merasa berat membumikan kewajiban spiritualitas sosialnya itu.  Mereka larut dalam pemujaan kalau harta yang dianigerahkan Allah mutlak menjadi miliknya.

Kalangan elit tersebut bermakna kehilangan komitmen moral dan kewajiban spiritualitas sosialnya, terdistorsi kebeningan nuraninya, dan mentolelir berlakunya tindakan-tindakan yang tidak berbasiskan nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, keadilan, dan egalitarianisme. Mereka tergelincir dalam pembenaran gaya hidup eksklusif-individualis, sementara wilayah pengabdian humanitas dipinggirkannya. Dinisinilah kemudian dampak sosialnya  terbaca dengan mudah.

Mudahnya membaca dampak itu dapat dijumpai dalam kehidupan sebagian anggota masyarakat kita yang terimbas Covid-19. Ada sejumlah orang kehilangan pekerjaan, banyka pula yang daya belinya terhadap kebutuhan pokok menurun drastis, dan tidak sedikit pula yang masuk dalam zona ketidakberdayaan berlapis.

Kalau mau belajar dari nurani kenabian yang ditawarkan Nabi Muhammad SAW, tentulah di tengah masyarakat akan banyak ditemukan  suasana kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan. Beliau mengajarkan “kalau kalian ingin menemukanku dengan cara yang gampang, maka carilah aku diantara orang-orang kecil”. 

Tawaran beliau tersebut menunjukkan, bahwa nurani kenabian terletak pada kehidupan orang-orang yang hidupnya sedang kesulitan atau mengisi ”wilayah akar rumput”. Mereka yang hidup dalam balutan kesulitan dengan stigma sebagai orang-orang kecil, diantaranya  adalah kumpulan orang-orang yang kehilangan keberdayaan ekonomi, ditimpa bencana alam, dan sedang tertindas. Kalau nurani ini sudah diarahkan untuk membeningkan perilaku, maka masyarakat akan memiliki bangunan kehidupan berbingkai keharmonisan dan kedamaian.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Di dalam bulan ramadan ini, manusia dituntut untuk lebih mengasah ketajaman dan membumikan empatinya kepada sesama manusia secara egaliter, tidak berdasarkan derajat status sosial, tetapi berdasarkan alasan kepentingan kemanusiaan. Melihat, membaca, memahami, dan memperlakukan kehadiran orang lain secara arif, demokratis, inklusif, dan manusiawi merupakan bentuk empati sosial, yang dapat menghadirkan ”surga” bercorak menyenangkan dan membahagiakan.

Itu menunjukkan, bahwa dalam bulan puasa ini, manusia dituntut berpacu membumikan empati dan karitas sosialnya. Banyaknya saudara kita yang menjalani kehidupan dalam ketidakberdayaan, wajib kita tempatkan sebagai ”lahan” pengabdian, tanpa membedakan etnis, golongan, partai, dan agama.

Kebersamaan atau semangat bersatu melawan Covid-19 bukanlah slogan, melainkan gerakan pembumian spiritualitas sosial, dimana bagi siapapun yang berkemampuan ekonomi memadai, baik itu kalangan elit kekuasaan maupun koporasi (pemilik modal kuat), wajib mengharuskan dirinya menelorkan bukti jiwa kemanusiannya.

Apalah artinya bertabur banyak uang (kekayaan) kalau hanya bisa memberikan manfaat individualistik. Jika ranah manfaatnya masih demikian, maka puasa yang dijalaninya sebatas meraih stigma saleh eksklusif dan gagal mencapai tahapan saleh sosial (kemanusiaan).

Dalam kondisi serangan pandemi Covid-19 ini, mereka itu wajib kita praduga sedang jalani hidup yang dari waktu kewaktu makin ”lapar”, pasalnya mereka imbas Covid-19 ini menumbalkan banyak aspek secara berlapis dan masif, sehingga bagi siapapun yang kondisi perekonomiannya bersumber dari pendapatan ”ala kadarnya”, sangatlah berat menghadapi problem fundamental di bulan ramadan ini. Hal inilah menuntut kesadaran semua elitis ekonomi untuk mewujudkan spiritualias sosialnya dengan mengembalikan (menegakkan) apa yang menjadi hak orang lain.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. Moh. Muhibbin, SH.MH, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis sejumlah Buku.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES