Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Kisah Perjalanan Ramadhan dalam Membentuk Kecerdasan Intelektual

Selasa, 12 Mei 2020 - 17:30 | 54.51k
Kukuh santoso, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Ketua Takmir Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).
Kukuh santoso, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Ketua Takmir Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Bulan Ramadan beserta keistimewaannya telah datang. Membahas mengenai salah satu keistimewaan bulan Ramadan, yaitu puasa. Tahukah Anda jika puasa membawa banyak kebaikan? Simak penjelasan berikut ini.

Salah satu manfaat dari puasa adalah meningkatkan kecerdasan intelektual. Puasa dapat membuat Anda tambah cerdas. Ada kajian menarik terkait hal ini. Seperti yang dikutip dari buku The Miracle of Fast, di Universitas Florida, Amerika Serikat, pernah diadakan kajian mengenai manfaat puasa. Hasilnya, salah satu manfaat puasa adalah dapat menjernihkan pikiran dan meningkatkan kecerdasan seseorang. Kira-kira kenapa bisa begitu ya?Saat sedang berpuasa, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang. Dengan begini, efek kadar darah dan oksigen yang biasa masuk ke pencernaan banyak berkurang. Kemudian, darah dan oksigen itu akan lebih maksimal memasuki bagian-bagian tubuh manusia yang lebih membutuhkan, terutama otak.Darah yang disalurkan ke pencernaan akan dikurangi untuk dipakai organ lain, termasuk otak. Otak merupakan organ paling penting bagi proses berpikir sehingga kinerja otak jadi lebih maksimal.Adapun saat perut kekenyangan, akan ada banyak darah yang disalurkan ke pencernaan. Belum lagi dengan efek rasa kantuk dan letih karena perut kekenyangan, konsentrasi pun bisa berkurang.Manfaat puasa ini sudah dirasakan oleh orang-orang terdahulu. Salah satunya adalah ulama besar Imam Asy-Syafi'i yang telah mengakui kehebatan puasa saat beliau sedang menuntut ilmu.Ia mengatakan, "Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun. Karena kekenyangan akan memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membuat kantuk, dan melemahkan manusia dari beribadah kepada Allah."Pepatah yang mengatakan bahwa ilmu dan akal tidak mungkin bersama dalam lambung yang penuh makanan sepertinya memang benar adanya. Jadi, yuk kawan-kawan  yang semangat puasanya di bulan Ramadan  ini. Ada banyak manfaat luar biasa yang bisa kita dapatkan dari ibadah puasa yang kita lakukan di bulan penuh berkah ini.       

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Orang yang berpuasa juga harus mampu menahan emosi dan seluruh anggota badannya dari perbuatan dosa yang bisa merusak nilai puasa. Maka dari itu,tidak  salah bila Ramadhan disebut sebagai ajang melatih diri dan mencerdaskan emosi juga spiritual.Hal ini, antara lain, diyakini oleh Ozhi (45 tahun). Dia mengaku, merasa lebih dekat dengan Allah saat Ramadhan. Keinginan nya untuk beribadah semakin menguat.Padahal, di bulan biasa, ia malas mengerjakan perintah Allah. “Saya jarang tahajud, membaca Al-Quran, dan lain-lain kalau di hari biasa. Akan tetapi saatbulan Ramadhan, semuanya itu ingin saya lakukan,” ujarnya.Setiap hari dia sibuk mengurus warung makan miliknya sehingga merasa tak sempat untuk beribadah selain shalat fardhu.Hanya saja dibulan Ramadhan, dia berusaha menyempatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesibukan tidak lagi menjadi alasannya.Bapak dua orang putri inipun lebih tenang dan mampu mengendalikan diri sebagai penderita darah tinggi ringan, beliau memang mudah marah. Bila sedikit saja ada hal yang tidak sesuai menurutnya maka emosinya memuncak. “Di bulan Ramadhan ini, saya merasa lebih sabar dan lebih rileks menghadapi orang lain. Saya percaya Allah memberikan kesabaran lebih kepada orang yang berpuasa,” tuturnya.

Intelektual Muslim Prof Dr M.Quraish Shihab menjelaskan,puasa meningkatkan kesadaran dan menghiasi diri dengankecerdasan spiritual dan emosional. Kecerdasan spiritual itu lah yang akan melahirkan iman dan kepekaan mendalam. Sedangkan ke
cerdasan emosi, mampu mengendalikan nafsu dan bukan malah membunuh nafsu.
Menurutnya, emosi dan nafsu diperlukan setiap manusia untuk membangun dunia sesuai tuntunan Allah. Melaluikecerdasan itu lah, manusia dapat mengarahkan emosi atau nafsu ke arah positif atau negatif sekaligus mengendalikannya agar tak terjerumus ke dalam kegiatan negatif.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Psikolog Universitas Indonesia (UI)Arief Witjaksono menyatakan sangat setuju jika puasa mampu mengendalikan emosiseseorang. Baginya, perintah agama memang bertujuan agar pemeluknya dapat mengekang hawa nafsu. Sehingga,bila itu
dijalankan maka mampu mengontrol berbagai penyakit hati dan emosinya stabil.“Melalui puasa atau menyucikan jiwa maka stres atau niat-niat melanggar norma yang ada dalam diri, dapat ter atasi,”jelasnya. Beliau menambahkan, saat puasa orang menyadari tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Maka dari itu,semangat
spiritual nya meningkat dan dapat merasa lebih tenang. Arief mengatakan, para Muslim harus menjadi positif, tidak  hanya di bulan Ramadhan, melainkan harus konsisten di bulan-bulan selanjutnya. Bila manusia terbiasa berbuat baik dan menjalankannya secara tepat maka dapat terbawa sehingga memberikan aura positif kesetiap orang.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Kukuh santoso, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI), Ketua Takmir Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES