Kopi TIMES

Indahnya Hidup Jika Kita Saling Memaafkan

Selasa, 26 Mei 2020 - 06:40 | 286.23k
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Saling meminta maaf adalah budaya yang baik saat iedul fitri. Hampir semua ummat muslim di dunia ini melakukannya. Tidak ada yang merasa benar sendiri. Tidak ada pula yang merasa dendam atas kesalahan dan kekhilafan orang lain. Semua saling rela untuk meminta dan memaafkan. Sungguh ini pemandangan yang indah untuk diabadikan.

Seandainya saja ini terjadi tidak hanya disaat iedul fitri, hidup ini akan terasa jauh lebih tenang dan tenteram. Tak perlu lagi ada pertikaian yang berkepanjangan hanya karena kepentingan yang sifatnya sementara. Tak perlu ada pertengkaran, karena adanya perbedaan. Tak perlu juga terjadi peperangan, hanya karena beda keyakinan. 

Advertisement

Islam sangat menghargai kedamaian dalam kehidupan. Bahkan dalam urusan beragamapun, ummat manusia diajarkan untuk saling menghormati, asal tidak melakukan penyerangan. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Demikianlah yang ditanamkan dalam ajaran Islam.

Salah satu cara untuk mencapai pola kehidupan seperti ini, salah satu caranya dengan membangun silaturrohmi yang baik diantara ummat manusia. Ini adalah peradaban dimana ummat manusia saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Jika ada salah satu fihak yang merasa bersalah, bersegeralah untuk meminta maaf. Dilain fihak juga harus dengan rela hati untuk memaafkan.

Memang ini tidaklah mudah, tetapi inilah yang harus mulai dijadikan pilihan dalam berhubungan dan membangun dasar kemanusiaan. Memberi maaf harus dipandang sebagai perbuatan yang mulia, sebagaimana diajarkan dalam Islam dalam surat al a’raf ayat 199 : Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang orang yang bodoh. Begitu juga dalam surat An Nur ayat 22 : Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah swt mengampunimu? Dan Allah swt adalah maha pengampun lagi maha penyayang. Ayat ini turun saad sayyidina Abu Bakar sempat bersumpah tidak akan memaafkan  dan tak lagi memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatasag yang dianggap telah memfitnah putri tercintanya Aisyah r.a (istri Rasulullah saw) telah melakukan perzinahan. Dengan turunya ayat tersebut, sayyidina Abu Bakar memberi maaf dan menafkahi Mistah seperti sebelumnya, dengan berucap : Ya demi Allah, sesungguhnya aku senang jika Allah swt mengampuniku. Aku juga tidak akan mencabut nafkah darinya. 

Begitu juga dalam hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani : Barang siapa memaafkan saat dia mampu membalas, maka Allah swt memberinya maaf pada hari kesulitan. Hadist lain : Jika hari kiamat tiba, terdengarlah suara panggilan “manakah orang orang yang suka mengampuni dosa sesama manusia ? Datanglah kamu kepada Tuhanmu dan terimalah pahala pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk syurga (HR Adh dhahak dari Ibnu Abbas r.a)

Memaafkan adalah sifat kesatria yang harus ada pada sebagian besar ummat manusia. Taka ada untungnya menahan dendam dan amarah. Begitu juga taka ada ruginya jika kita mau memberi maaf. Rasulullah saw pun telah memberikan banyak contoh yang baik dengan tidak memelihara dendam dan mau memaafkan kesalahan orang lain. 

Kalau Rasulullah saw telah memberikan tauladan, maka tidak ada pilihan lain selain menjadikannya sebagai pedoman. Tidak ada orang yang paling benar dan tidak ada juga orang yang selalu salah. Jika ada kesalahan bersegeralah untuk meminta dimaafkan. Begitu juga jika ada yang meminta maaf, bersegeralah untuk memberikan. Bagaimana dengan anda ??

***

*)Oleh : Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES