Kopi TIMES

Meski Suasana Beda, Silaturrohmi Tetap Bermakna

Rabu, 27 Mei 2020 - 05:49 | 56.65k
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.
Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Usai sholat sunnah iedul fitri, saya mendapat panggilan video call dari pemilik usaha Ayam Goreng Nelongso dan mendapat ucapan Selamat Iedul Fitri. Usai itu, saya baru teringat kalau hari raya kali ini harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Tidak lagi seperti tahun tahun sebelumnya.

Sholat iedul fitri yang biasanya dilakukan di masjid atau di tempat terbuka (lapangan, pelataran, dan lain sebagainya), kini dianjurkan dilakukan di rumah saja. Anjang sana sebagai pertanda sambungan silaturrohmi, juga dianjurkan menggunakan media lain. Bisa facebook, instagram, twitter, Whatsapp, telepon langsung maupun via skype, dan sejenisnya.

Advertisement

Pendek kata, hal hal yang memungkinkan sebagai media penularan covid 19 sedapat mungkin dihindari. Pertemuan langsung yang melibatkan banyak orang, perkumpulan, dan lain sebagainya jika harus dilakukan, mesti menggunakan protocol kesehatan yang ketat, sebagai upaya agar semuanya dapat selamat.

Lebaran kali ini memang berbeda situasinya. Indonesia dan hampir seluruh Negara di dunia, lagi diuji oleh Allah swt melalui datangnya covid 19. Mahluq Allah swt yang tidak terlihat kasat mata, akan tetapi mampu menyerang kekebalan tubuh (imun) manusia dengan cepat. Begitu juga persebarannya. Dimulai dari Wuhan, hanya dengan waktu beberapa bulan sudah menjadi pandemic di sebagian besar Negara di dunia ini. 

Meski ada juga Negara yang mampu menekan serangan ini, seperti Negara Vietnam, tetapi sebagian besar Negara masih sulit untuk mengatasinya, termasuk Indonesia yang kita cintai bersama. Bahkan Negara maju sekalipun. Amerika Serikat dan Eropa, justru malah menunjukkan korban dalam jumlah yang besar.

Namun demikian, manusia tetap tidak boleh kehilangan makna dalam hidup ini. Ummat manusia tetap membutuhkan berhubungan satu sama lain. Saling membantu memenuhi kebutuhan, tetap masih harus dijalankan. Saling memaafkan kesalahan, harus tetap dilestarikan. Semangat hidup dan bergotong royong juga harus tetap ditumbuhkan. Tidak ada yang bisa hidup sendiri, tanpa membutuhkan orang lain.

Oleh karenanya meski dengan cara yang berbeda, momentum iedul fitri harus tetap jadi media yang mempersatukan sebagian besar ummat manusia. Saat iedul fitri adalah saat terbaik membangun dan memulai peradaban baru. Bagi ummat muslim, melalui iedul fitri tidak ada yang lagi merasa paling benar. Semua dengan sukarela meminta dan memberi maaf. Meski tidak harus bertatap muka secara langsung, ummat manusia telah saling rela untuk berhubungan. Jarak dan media tidak lagi dipandang sebagai penghalang, justru sekarang dijadikan sarana utama penghubung antar sesame manusia.

Ini yang bisa jadi sekarang menjadi makna silaturrohmi yang sesungguhnya. Bukan pertemuannya yang diutamakan, akan tetapi bertemunya dua keinginan dalam kesatuan niat menjadi saudara, sahabat, teman, dan yang sejenis lainnya. Dengan ini, meski tangan tak mesti bersalaman, pipi tak harus saling ditempelkan, esensi silaturrahminya tetaplah jalan. 

Dengan pola baru ini kita tetap berharap, agar tetap menjadi bagian dari hadits Rasulullah saw : Barang siapa yang ingin dilapangkan rizqi dan dipanjangkan umurnya, maka perbanyaklah silaturrohmi. Bagaimana dengan anda ??

***

*)Oleh : Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES