Kopi TIMES Universitas Islam Malang

"Dunia Baru" Gaya Barnard Shaw

Jumat, 29 Mei 2020 - 21:00 | 31.96k
bdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku hukum dan agama.
bdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku hukum dan agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Di era pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, sangat bijak jika kita sering-sering menggungat diri sendiri, saudara, keluarga, dan kolega-kolega dengan pertanyaan, benarkah mental kita selama ini memang mendukung terwujudnya pembebasan bangsa ini? Tidakkah mental kita justru masih rentan atau cenderung mudah mengeroposkan dan menghancurkan bangunan negeri ini, bukan hanya hancur karena bisa terbelah menjadi kepingan, tetapi meluncur cepat menuju kehancuran totalitasnya?

Tentu saja yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah kita, pasalnya kitalah yang menentukan disain dan konstruksi negara ini, yang kesemua ini berelasi dengan sikap atau kekuatan mentalitas kita sebagai anak bangsa. Mentalitas kita yang bisa “membahasakan” tentang kesejatian arah bangsa ini. Jika Ketika dihadapkan dengan pandemi Covid-19 ini, kita bisa menjadikanya untuk membangun “dunia baru” atau memulai perubahan besar-besaran, maka resikonya kita memang harus menjawabnya sebagai tantangan logis.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau dikembalikan pada jati diri bangsa, yang secara filosofis berpijak pada nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, maka idealnya setiap segmen bangsa ini adalah pribadi yang di dalam dirinya menunjukkan konsistensi antara ucapan, sikap dengan aksi yang bermuatan pembangunan dan pemberdayaan pola hidup berpolitik, berekonomi, berbudaya, berpendidikan, dan bersosial yang berbasiskan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan  keadilan, keadaban, dan demokrasi

Jika manusia Indonesia mampu membangun pribadinya di tengah pandemi Covid-19 dengan muatan nilai-nilai keagungan atau adiluhung tersebut, maka bangsa ini tidak akan banyak ditimpa krisis berat dan komulatif. Kemamapuan ini tidak lepas dari keberanian menjatuhkan pilihan, termasuk berani merelakan bercerai dengan pola lama yang sudah tidak seirama dengan kondisi ”dunia baru” yang dimasuki dan dibutuhkannya.

Krisis berlapis di berbagai sektor strategis akibat pandemi Covid-19 bisa saja terjadi dan akan terus terjadi jika  dalam diri manusia Indonesia masih membiarkan dirinya mempertahankan mentalitas yang tidak berbasis nilai-nilai adiluhung. Nilai-nilai ini juga sangat dimungkinkan berkembang atai diperkuat dengan nilai-nilai baru yang dibutuhkan di ”dunia baru” tersebut.

Nilai-nilai adiluhung dan progresifitasnya tersebut seharusnya menjadi kekuatan moral setiap elemen bangsa yang tidak sebatas sebagai modal membangun dan memperluas wawasan kebangsaan, tetapi juga sebagai pondasi yang meykainkan dan memperkuat langkah-langkah strategis untuk mewujudkan setiap aspirasi rakyat dalam menghadapi atau membebasja diri dari pandemi Covid-19.

Krisis berlapis-lapis yang diprediksi (terbaca) masih akan menguji bangsa ini diantaranya dapat dinilai sebagai indikasi kegagalan kita dalam mewujudkan nilai-nilai adiluhung tersebut. Artinya  nilai-nilai keagungan ini sebatas kita kenal sebagai bagian dari doktrin di atas kertas dan belum sepenuhnya kita jadikan sebagai kekuatan yang hidup dalam perilaku bermasyarakat dan bernegara, sehingga dengan kesalahan sebelumnya atau selama ini, saat memasuki ”dunia baru” nilai-nilai adiluhung menjadi cahaya yang hidup dan mencerahkan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGIwww.unisma.ac.id

“Orang yang dapat menghadapi hidup adalah mereka yang bangkit dan mencari keadaan seperti yang diinginkan. Bila tidak menemukannya, mereka menciptakan keadaan tersebut”, demikian ungkap George Bernard Shaw, yang mengandung ajakan untuk bangkit dengan membangun “dunia baru” sesuai yang diekspektasikannya.

Kebangkitan yang diingatkan Bernard Shaw itu kebangkitan yang berwujud adanya aktifitas untuk menciptakan “dunia baru” atau meninggalkan beragam penyakit lama, yang di dalam “dunia baru” ini lebih mencerminkan adanya perubahan yang membuat kehidupan diri dan masyarakat bermakna.

Hal itu menunjukkan, bahwa kita diberi pelajaran Bernard Shaw  tentang kesejatian diri sebagai subyek bangsa yang ditentukan oleh peran-peran yang dimainkannya sendiri. Kebermaknaan hidup hanya bisa diraih dengan cara mencari dan menciptakan keadaan baru sesuai yang dicita-citakan atau diobsesikannya.

Menciptakan “dunia baru” dengan meninggalkan beragam penyakit lama seperti pesan Bernard Shaw  itu setidaknya sudah ditunjukkan oleh Boedi Oetomo (BO) dan kawan-kawan. BO telah memberikan teladan bersikap militan berupa keberanian meninggalkan pola  pementingan diri, kelompok, dan kedaerahan demi kebersamaan membangun negeri. 

Pelajaran dari BO itu merupakan warisan historis yang jika dipijaki atau dijadikan literasi nasionalisme oleh masyarakat, dapat menjadi investasi moral membangun komitmen berbangsa yang kuat di saat pandemi Covid-19, diantaranya dengan menciptakan “dunia baru”.

Kecintaan masyarakat sekarang ini pada negaranya tidak akan menjadi kemustahilan jika benar-benar mau belajar pada pesan sejarah tersebut. Pandemi Covid-19 hanya salah satu virus yang mengeksaminasi ketangguhan atau militansi komitmen berkebangsaan, termasuk dalam menghadang terbentuknya “dunia baru”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku hukum dan agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES