Kopi TIMES

Membongkar Tipu Muslihat Berbasis Wacana Feodalisme-Relasi Kuasa-Struktur Metafisis

Sabtu, 24 September 2022 - 12:34 | 30.88k
Membongkar Tipu Muslihat Berbasis Wacana Feodalisme-Relasi Kuasa-Struktur Metafisis
Andre Anugrah, Mahasiswa Doktoral Linguistik, Pemelajar, Pengajar dan Peneliti Bahasa, serta Kritikus Susatera.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tidak terbantahkan lagi sumbangan besar seorang filsuf bernama Jacques Derrida (1930-2004) yang merupakan pelopor gerakan Post-Structuralism. Kritikan beliau terhadap proposisi 'Penanda' (Signifiant) dan 'Petanda' (Signifie) nya Bapak Linguistik Modern Ferdinand De Saussure (1857-1913). Penanda-Petanda ini kemudian melahirkan lagi konsep 'Langue dan Paraloe', Competence dan Performance (Chomsky).

Bagi Derrida tidak ada istilahnya penanda dan petanda yang ada hanya penanda dan penanda. Jika kita katakan sebuah lukisan apel (signifiant) adalah buah apel (signifie) berarti kita memastikan bahwa setiap yang terlihat seperti apel adalah buah apel. Padahal, de facto, bisa jadi yang terlihat seperti apel adalah entitas yang secara riil sangat berbeda.

Kaidah Penanda dan Petanda ini kerap disalah gunakan untuk pelpagai bentuk tipu daya maupun dominasi diskriminatif penuh muslihat. Artikel sederhana ini ditulis untuk melatih seni berpikir kristis ala Post-Structuralist dalam menyikapi beragam fenomena penipuan berbasis wacana relasi kuasa (feodalisme secara luas).

1. Membalikkan logika biner (Logika Paradoks oleh Derrida)

Ibu-Anak, Ustadz/Pendeta-Jama’at, Dosen-Mahasiswa, Guru-Murid, dan seterusnya. Pasangan tersebut merupakan contoh-contoh dari realisasi lakon Logika Biner. Peletakan Ibu sebelum Anak, Ustadz/Pendeta mendahului jama’at dan seterusnya secara implisit memberitahu kita sebuah kedudukan atau struktur atas bawah (Struktur Metafisis), atau relasi kuasa (Dominan-Determinan), feodalisme (Penguasa- yang dikuasai).

Perhatikan dalam hubungan biner ini sudah nampak ketidakberesannya, dominasi usur pertama terhadap yang kedua, bobot kekuatan, dan potensi tirani unsur satu terhadap unsur dua. Saya beri contoh jika seorang Ustadz/Pendeta berkata 'tidak mungkin saya menipu jamaat karena saya adalah tokoh agama, guru, dan pengayom'.

Logika seperti ini sarat dengan relasi kuasa, maka kita harus membalik posisi biner ini dan melakukan penundaan dan pembedaan (difer  differ) untuk mengarahkan sebuah simulasi 'hiperrealitas' ke kondisi riilnya. Jika anda merupakan guru berarti anda pengajar, pengendali dan pendistribusi pengetahuan. Di dalam prefiks peng- dan pen- menimbulkan konsekuensi di-. Jika anda pengendali pasti ada yang dikendalikan, jika anda pengajar pasti ada yang diajar, dan jika anda pendistribusi atau distributor pengetahuan pasti ada kondisi yang diberikan (didistribusikan).

Pembalikkan logika biner bertujuan melihat potensi kekerasan atau muslihat yang bisa dilakukan oleh unsur pertama pada yang kedua. Dengan penerapan logika paradoks ini, kita dipersenjatai untuk melihat kemungkinan terdekat posisi pendominasian penuh muslihat serta kerusakan yang menyertainnya. 

2. Manipulasi Tanda (Simulasi Citra oleh Jean Baudrillard)

Keadaan berpikir yang tidak rasional dan kritis bisa mengakibatkan seseorang terjebak di dalam hiperrealitas. Ketika citra dianggap realitas itu sendiri, seduksi simulakra muncul. Kerap terjadi dan kita saksikan seorang pemeran antagonis di dalam sebuah sinetron dipukuli oleh sejumlah orang yang menonton sinetron tersebut. Mereka memukuli si aktor/aktris karena yang mereka lihat pemeran merupakan orang jahat. Mereka tidak mampu melihat dan membedakan masa sebuah lakon yang sedang diperankan dan mana kehidupan nyata.

Contoh lainnya, pemeran dokter di dalam sebuah drama dimintai resep obat oleh orang yang sedang sakit, pintu di dalam lukisan dipaksa dobrak oleh manusia di luar lukisan dan banyak macam contoh lainnya. Pencitraan ini sangat menguntungkan para penipu terlebih-lebih ia menduduki struktur atas dari struktur metafisis.

Terlebih-lebih oleh tokoh agama yang kerap wara wiri diundang di ragam acara yang masyhur, memiliki pelanggan youtube yang berlimpah. Citra sengaja dibangun seperti ia menampakkan aneka aktifitas filantropis bersedah ratusan juta, menggunakan aneka ayat-ayat kitab suci yang sebetulnya semuanya digunakan untuk membentuk sebuah citra manipulatif berfungsi sebagai instrumen penipuannya.

Terlebih-lebih wacana populisme agama seakan-akan menutup rapat semua jenis rasionalitas mana yang bisa buruk atau baik. Persepsi yang muncual adalah semuanya akan baik karena itu terlontar dari mulut pemuka agama yang membawakan ayat-ayat metafisis untuk sarana mewujudkan kehendak (yang diistilahkan rasionalitas instrumental oleh Jurgen Habermas). 

3. Membongkar Naluri Tirani (Nietzche)

Prinsip eksterioritasnya Nietzhe (1844-1900) mengatakan bahwa di balik pengetahuan atau klaim kebenaran bersembunyi permainan naluri tirani. Kehendak untuk berkuasa adalah naluri utama setiap makhluk bukan hanya manusia. Perkataan Nietzche 'To know is to power' sangatlah benar dikarenakan kehendak untuk mengetahui sama dengan kehendak untuk berkuasa. Misalnya, mengapa sesorang mengambil strata satu (S1) karena ia ingin berkuasa atau pendidikan di bawahnya, mengapa seseorang mengambil S2 karena ia ingin berkuasa akan S1, mengapa seseorang mengambil S3 karena ia ingin berkuasa atas S1 dan S2 dan seterusnya.

Di setiap afirmasi kebaikkan biasanya ada kehendak untuk pamrih. Di dalam kepamrihan ini bersembunyi permainan kejahatan tirani. Hal ini sejalan dengan model pengawasan terus menerusnya Foucault yang disebut dengan panotism. Inti dari panotism adalah perwujudan mengetahui dan diketahui. Jika di dalam ruangan diberi sisi TV, mana yang berkuasa, antara yang mengendalikan sisi TV tersebut atau yang berada di dalam ruangan.

Kehendak untuk tahu yang berselubung tipu daya muslihat ini semakin canggih di era digital 4.0 ini dimana informasi-informasi terkait aktifitas-aktifas kita bisa dilacak jejak digitalnya memungkinkan para penipu semakin berkuasa karena mereka mengetahui hal ihwal luar dalamnya kita sehingga strategi penipuanpun semakin mutakhir dengan presisi yang semakin akurat.

Pembalikan logika biner, pengetahuan tentang manipulasi tanda dan juga mekanisme kekuasaan berbasis pengetahuan adalah di antara ikhtiar kita untuk membongkar berbagai jenis dominasi diskriminatif penuh muslihat manifestasi dari relasi kuasa/feodalisme/struktur metafisis. Tidak selamanya penggunakan logika induktif dan deduktif bisa bekerja dalam memahami kekerasan maupun penipuan berbasis relasi kuasa.

Logika abduksi yang lebih menekankan pada potensi-potensi makna di luar logika biner tentu lebih dibutuhkan terlebih-lebih dalam menjalani kehidupan digital di era disrupsi 4.0. 

***

*) Oleh: Andre Anugrah, Mahasiswa Doktoral Linguistik, Pemelajar, Pengajar dan Peneliti Bahasa, serta Kritikus Susatera.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES