Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Nyawa Lebih Berharga Dari Pada Sepak Bola

Selasa, 04 Oktober 2022 - 12:55 | 41.42k
Nyawa Lebih Berharga Dari Pada Sepak Bola
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Apa arti nyawa untuk kita semua? Nyawa termasuk kata benda, nyawa termasuk benda, benda yang tidak kasat mata, benda yang tidak diketahui seperti apa bentuknya, benda yang tak dapat diukur seberapa lama nilai gunanya, dan nyawa adalah benda yang tidak diketahui terbuat dari apa, tetapi satu yang kita tahu nyawa hanya diberikan oleh Tuhan kita masing-masing. Denyut nadi, kedipan mata adalah aktivitas kecil yang memberi pertanda besar bahwa manusia itu masih bernyawa. Nyawa bagaikan manusia itu sendiri, manusia tanpa nyawa hanyalah benda mati, begitupun dunia tanpa manusia tidaklah hidup. Kita yang saat ini hidup dan yang pernah hidup adalah manusia-manusia yang dipilih Tuhan untuk menjalankan system organisme tubuh untuk menjalankan system organisme dunia.

Allah memberikan nyawa kepada manusia sebagai senjata untuk turun ke medan perang berupa dunia. Tidak hanya tugas yang diberikan tetapi juga pertanggung jawaban. Apabila manusia sudah dipilih sebagai orang yang harus lahir ke dunia, dari saat itulah tugas dan tanggung jawab sebagai manusia untuk berperikemanusiaan dimulai. Manusia yang bernyawa diberi pikiran dan perasaan sehingga manusia itu sendiri dapat menjalankan rangkaian proses hidupnya di dunia. Orang yang lebih dulu terlahir ke dunia akan melalui proses panjang hingga menantikan sosok manusia agar terlahir ke dunia yang didambakan, siapa lagi kalau bukan orang tua.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Seberapa penting? Seberapa berharganya sebuah nyawa? Hal apa yang pantas dipertaruhkan dengan nyawa? Tanpa ditanya semua yang hidup mengharapkan dan menjaga nyawa. Tidak usah ditanya tidak ada yang dengan mudah merelakan sebuah nyawa. Mungkin kalau diri kita sendiri yang merasakan sudah berada dipenghujung nyawa akan bisa ikhlas, tapi bagaiamana dengan orang-orang disekitar kita, orang tua kita, anak kita yang mengharapkan lebih panjang lagi waktu untuk hidup bersama. Bahkan jika memang sudah waktunyapun akan rela karena terpaksa. Bahkan orang yang sakit parah diharapkan untuk sembuh agar kembali beraktivitas bersama seperti sedia kala, orang yang sudah sangat tua diharapkan berumur lebih panjang agar bisa menyaksikan kelahiran cucu cicitnya. Lantas bagaiamana dengan tragedy Liga 1 Arema vs Persibaya 01 Oktober 2022 di stadion Kanjuruhan malam itu? Siapa yang rela, nyawa melayang tidak terduga, tidak hanya satu manusia tetapi 170 lebih manusia yang sudah berada dipenghujung nyawa HANYA KARENA SEPAK BOLA. Tidak semua orang hidupnya berubah membaik karena sepak bola, tetapi sepak bola yang seharusnya membaik karena manusia.

Siapa yang menyangka siapa pula yang mengira ± 170 orang disiang atau sore itu berpamitan pada ibu bapaknya, berpamitan pada kakek neneknya, berpamitan pada temannya, kepada tetangganya akan pergi menghibur diri dengan menyaksikan sepak bola Liga 1 Arema vs Persibaya akan pulang tanpa nyawa. Tataplah tragedy ini, apa yang keliru? Siapa yang akan disalahkan? Siapa yang rela? Siapa yang tega? Pada kenyataannya kata “Sepak Bola” yang harus menerima kenyataan untuk disalahkan. Satu orang orang ibu yang bertaruh nyawa untuk kelahiran sang buah hati pun berat merelakan, apalagi ini... pantaskah seratus lebih nyawa hanya untuk sepak bola, sepak bola yang tidak memberikan kontribusi apapun pada hidup mereka, tetapi merekalah yang berkontribusi kepada sepak bola Indonesia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Apabila ditinjau dari segi kronologi tentu ada kebenaran ada pula kesalahan, tidak pula menekan atau memojokkan salah satu pihak. Namun disinilah titik ego dan kemanusiaan harus diperankan sesui perannya. Supporter sebagai pemilik ego seharusnya memiliki kendali, kalah menang dalam pertandingan adalah hal wajar, reaksi hingga turun ke arena pertandingan tidak akan mengubah apapun. Mereka yang berkedok sebagai supporter sudah seharusnya berperan sebagai supporter, supporter yang akan merangkul saat dibawah dan tetap bergandengan saat diatas. Lantas tim keamanan yang ditunjuk dan didelegasikan sebagai pembawa keamanan, sudah seharusnya mereka memberikan rasa aman dengan mengayomi dan menebar prinsip kemanusiaan. Tega hingga menembakkan gas air mata mungkin memang terpicu dari ego supporter yang semakin brutal, tapi berpikir panjang itu penting. Lalu bagaimana dengan mereka yang hanya duduk terdiam menyaksikan kekalahan terciduk sebagai korban penyemprotan gas air mata.

Dari anak-anak hingga lansia, nyawa, luka, trauma tertekan menjadi satu malam itu. Ini buka bencana yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Jika dibilang umur dan apes ada ditangan Allah, setidaknya harus ada pelajaran, pertanggung jawaban, dan perbaikan moral setelah tragedy 01 Oktober 2022 ini. Perlakuan-perlakuan di malam itu telah diatur dalam Undang-Undang FIFA yang menandakan perlakuan terseebut membahayakan. Tuhan kita masing-masing tidak bosan-bosan menjelaskan larangan membahayakan hidup satu sama lain. Allah telah menjelaskan “...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Maka barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memlihara kehidupan manusia semuanya.”(Q.S al-Maidah:32)

Dari firman diatas, orang yang pantas dibunuh adalah orang yang telah membunuh, mari refleksikan dengan tragedy malam itu... pantaskah mereka bahkan yang tidak terlibat dalam kericuhan ikut serta sebagai korban? Siapa yang akan bertanggung jawab? Dan pertanggung jawaban seperti apa yang setimpal dengan 170 nyawa manusia itu? Karena pada dasarnya nyawa terlalu berharga untuk ditukar dengan kehidupan dunia dan seisinya. Lantas apakah dengan bukti adanya korban bisa disebut sebagai aman?... seharusnya keamanan adalah bukti dari implementasi nilai kemanusiaan. Rest In Peace J

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. Kukuh Santoso,  M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES