Kopi TIMES

Refleksi Hari Santri: Meneropong Kejayaan Peradaban Islam

Selasa, 25 Oktober 2022 - 07:24 | 31.27k
Refleksi Hari Santri: Meneropong Kejayaan Peradaban Islam
Muhammad Najihul Huda, S.Pd., M.Pd, Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang.

TIMESINDONESIA, JOMBANG – Sudah sangat umum pembahasan tentang pengertian santri, semenjak diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 15 Oktober 2015 setiap tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan Hari Santri Nasional dilakukan melalui penandatanganan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Hal ini terjadi setelah banyaknya pondok pesantren mengusulkan adanya momentum yang memperingati peran santri dan kiai dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Selain itu peran pondok pesantren dalam memperjuangkan dan mengajarkan keilmuan bagi masyarakat Indonesia saat dan pasca penjajahan patut diberikan apresiasi dalam kaitannya mencerdaskan kehidupan Bangsa.

Di momen yang sakral ini selayaknya menjadi pengingat juga bagi generasi masa kini untuk kembali melihat perjuangan ulama dan masyarakat terdahulu didalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Kita perlu flashback membicarakan tentang perkembangan peradaban agama islam semata-mata agar di momen hari santri tidak hanya menjadi ajang seremonial peringatan semata.

Membicarakan perkembangan agama islam bisa dimulai dengan membagi masa keislaman menjadi tiga periode. Periode pertama di zaman Rasulullah dimana islam masih menjadi agama minoritas di kalangan jazirah Arab. Penyebaran agama islam yang diawali di Kota Mekkah menemui penolakan oleh kaum Quraisy, dikarenakan melekatnya kepercayaan mereka terhadap menyembah berhala. Islam baru bisa menyebar saat Rasulullah SAW hijrah ke Kota Madinah. Disinilah agama islam menemukan formulasinya sehingga bisa berkembang mulai dari penyebaran ajarannya hingga ilmu pengetahuan.

Islam di masa Rasulullah dan Sahabatnya masih fokus pada pengajaran Al-Quran dan Hadits dengan membentuk halaqah-halaqah di Masjid. Sehingga ajaran agama islam mampu masuk dan melekat dalam hati setiap pengikutnya.

Di era selanjutnya di masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kejayaan islam mulai tumbuh terutama di bidang ilmu pengetahuan. Di masa Khalifah Al-Manshur, Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun kejayaan islam berada di atas angin. Karena tiga khalifah ini sangat memperhatikan ilmu pengetahuan dengan membangun perpustakaan yang diberi nama Baitul Khikmah. Di perpustakaan ini, buku-buku karangan ilmuwan terdahulu diterjemahkan kedalam bahasa Arab, seperti bukunya Socrates, Plato dan banyak ilmuan yang lainnya. Dengan adanya keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan yang didukung oleh negara, melahirkan para tokoh yang terkenal di bidang ilmu pengetahuan, terutama di bidang sains. 

Tokoh yang hingga kini masih diakui oleh dunia seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi dan Al-Farabi. Masa keemasan islam ini bertahan hingga terjadinya serangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Pada tragedi ini terjadi pembantaian besar-besaran dan juga penghancuran Baitul Hikmah. Buku-buku yang ada di dalamnya dibakar, ditenggelamkan ke sungai sehingga arsip keilmuan yang dimiliki oleh umat islam menjadi hilang.

Sejarah telah mencatat bahwa umat islam memiliki masa keemasan di bidang ilmu pengetahuan. Hal ini sejatinya menjadi dorongan semangat bagi santri generasi masa kini untuk kembali menghidupkan kejayaan islam. Tentunya dengan melakukan langkah-langkah pendidikan untuk menggali ilmu pengetahuan.

Di pondok pesantren yang merupakan pusat ilmu pengetahuan, pastinya banyak kitab ataupun buku yang bisa dijadikan bahan bacaan dan kajian untuk menambah wawasan. Terlebih dengan peran Kiai yang pastinya cinta dan senang dengan urusan keilmuan selayaknya bisa kembali membangkitkan masa kejayaan islam lagi.

Selamat hari santri, santri abadi hingga kiamat nanti.

***

*) Oleh: Muhammad Najihul Huda, S.Pd., M.Pd, Dosen Universitas Darul 'Ulum Jombang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES