Kopi TIMES

Belajar dari Gerakan FIRE Movement, Sebagai Solusi Bertahan dari Jurang Resesi Ekonomi

Minggu, 13 November 2022 - 00:25 | 34.56k
Belajar dari Gerakan FIRE Movement, Sebagai Solusi Bertahan dari Jurang Resesi Ekonomi
Ach. Muzajjad, SE.,M.Si, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Darul 'Ulum Jombang.

TIMESINDONESIA, JOMBANG – Saat ini dunia memperbincangkan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi yang berdampak terhadap negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dikutip dari cnbcindonesia.com (30/09/2022), Presiden Joko Widodo dalam pengarahan kepada seluruh jajaran kementerian, Kepala Daerah, kepala lembaga, Pangdam dan Kapolda, menyampaikan, kondisi ekonomi dunia mengalami ketidakpastian di tahun 2023, jurang resesi telah nampak didepan mata, beberapa negara telah mengalami inflasi, bukan tidak mungkin Indonesia akan terkena dampaknya, jika pemerintah tidak kompak dan saling bersinergi dalam menjaga stabilitas ekonomi hulu hingga hilir.

Resesi adalah kondisi dimana mulai melemahnya aktivitas ekonomi sektor riil atau terjadi penurunan  PDB (Produk Domestik Bruto) secara berturut-turut, selama dua kartal dalam 1 tahun berjalan di suatu negara. Hal tersebut sejalan menurut A, Mundzir dkk dalam bukunya

“Peningkatan Ekonomi Masyarakat Menuju Era Society 5.0 Di Tengah Pandemi Covid-19” tahun 2021, resesi adalah suatu kondisi ekonomi riil tumbuh secara negatif, ditandai dengan melemahnya ekonomi global, menurunnya MEC (Marginal Efficiency Of Capital), menurunnya tingkat ekspor, investasi, penerimaan negara dan tingginya angka pengangguran yang mempengaruhi ekonomi domestik negara-negara di seluruh dunia..

Menurut beberapa pengamat ekonomi, isu terjadinya resesi di tahun 2023 pemicunya adalah semakin tingginya tingkat inflasi global di beberapa negara, dan salah satunya adalah dampak dari konflik Rusia dan Ukraina. Seiring peningkatan laju inflasi yang terjadi, beberapa bank sentral di Negara Eropa dan Amerika mengeluarkan kebijakan dengan menaikan tingkat bunga acuan, sehingga mempengaruhi kebijakan yang harus diambil oleh beberapa bank sentral di negara lain.

Kebijakan peningkatan bunga acuan berdampak terhadap biaya modal dan bunga kredit, tentunya hal demikian akan sangat memberatkan para pelaku pasar. Sehingga jika dampak tersebut terus berlanjut, maka para pelaku pasar akan khawatir dengan isu resesi ekonomi global yang benar-benar akan terjadi. Kekhawatiran inilah yang dapat melemahkan mata uang lokal terhadap mata uang asing, sehingga daya beli masyarakat akan menurun karena dampak peningkatan harga barang, khususnya harga kebutuhan pokok.

Bukan tidak mungkin Indonesia akan terkena dampaknya, walaupun berdasarkan pengalaman Indonesia mampu bertahan menghadapi masalah ekonomi pada masa pandemic covid-19. Dikutip dari beberapa media online, Menteri Keuangan Sri Mulyani berulang kali menjelaskan terkait kondisi ekonomi global sedang tidak baik. Hal ini disebabkan tingkat permintaan dunia terhadap komoditi utama seperti batubara, timah, nikel, gas alam, dan minyak kelapa sawit yang semakin menurun diakibatkan ledakan harga.

Bahkan pada Kontrak Newcastle diawal bulan September harga komoditas batu bara sempat menyentuh puncak tertinggi $458 per ton, namun perhari ini sudah nampak melandai atau turun sebesar $308,2 Perton. Kita tahu Indonesia selama ini cukup mengandalkan penerimaan dari sektor komoditas utama, sehingga penurunan harga dan permintaan komoditas dunia akan menjadi sinyal berbahaya terhadap penerimaan Negara.

Isu ketidakpastian ekonomi yang berdampak terhadap resesi tersebut cukup memicu kekhawatiran besar diantaranya para pelaku bisnis dan masyarakat luas. Keterbukaan informasi media sosial juga cukup menambah ketidakpastian tersebut semakin menjadi-jadi. Sehingga memancing kegelisahan masyarakat untuk mencari solusi mempersiapkan diri agar dapat bertahan di jurang resesi yang terjadi.

Apa yang harus dipersiapkan oleh masyarakat jika isu resesi benar-benar terjadi. Masyarakat tidak perlu panik dan khawatir terhadap isu yang berkembang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada faktor eksternal yaitu ekspor saja, bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor hanya berkontribusi 23,2% pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di kuartal ke II tahun 2022. Kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi lebih kecil dibandingkan konsumsi rumah tangga dan Investasi. Konsumsi rumah tangga mencapai sebesar 56% dan Investasi kisaran 27-30%. Sehingga diperkirakan dampak terhadap penurunan ekonomi global masih dapat diatasi dengan pengelolaan tingkat konsumsi masyarakat dan memulai untuk berinvestasi.

Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah Fire Movement merupakan singkatan dari Financial Independence Retire Early atau gerakan mandiri secara finansial. Istilah Fire Movement mulai dipopulerkan oleh seorang ahli keuangan Amerika Serikat Robert T. Kiyosaki melalui topik kebebasan finansial (Financial Independence). Gerakan ini merupakan dedikasi untuk program tabungan dan investasi ekstrimis. Jadi orang yang sudah dikatakan mandiri secara finansial berarti sudah memiliki tabungan yang cukup untuk membiaya hidup, tanpa harus khawatir secara finansial akan masa depannya. 

Orang-orang yang mengikuti gerakan Fire Movement, berusaha mengalokasikan 70% pendapatan mereka untuk tabungan dan dana pensiun (investasi), setelah tabungan dan investasi mereka mencapai 30% dari total pengeluaran tahunan, mereka akan memutuskan untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan atau pensiun, dan mereka akan hidup dari hasil portofolio tabungan dan investasi mereka selama beberapa dekade. Bahkan ada beberapa yang melakukan pensiun dini di usia mereka antara 35-45 tahun. Penganut gerakan Fire Movement, selalu berusaha untuk menjaga pengeluaran mereka agar tetap rendah dan meningkatkan pendapatan mereka, artinya semakin tinggi pendapatannya dan semakin rendah pengeluarannya, maka akan semakin cepat mencapai kemandirian financial.

Walaupun kedengarannya agak beresiko, akan tetapi ada beberapa jenis Fire Movement yang dapat dilakukan mulai yang cukup ringan hingga yang ekstrim. Mungkin tidak semua orang dapat mempraktekkan gerakan Fire Movement ini, akan tetapi masyarakat dapat belajar dari gerakan ini. Fire Movement mengajarkan untuk mulai mempersiapkan masa pensiun, tidak memperdulikan apa dan dimana kita bekerja.

Masyarakat dituntut untuk fokus mengelola keuangan terhadap tingkat konsumsi dan meningkatkan investasi untuk masa pensiun. Melalui gerakan ini bukan tidak mungkin masyarakat akan bertahan dari jurang resesi. Sebagai contoh dampak resesi diantaranya adalah PHK dan penurunan pendapatan, jika masyarakat tidak mempersiapkan dana cadangan yang cukup, maka dikhawatirkan akan kesulitan dalam memenuhi biaya hidup yang semakin tinggi. Salah satu solusinya adalah memulai merencanakan dana pensiun, menghemat pengeluaran, meningkatkan penghasilan, menabung, dan berinvestasi pada aset yang tepat.

***

*) Oleh: Ach. Muzajjad, SE.,M.Si, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Darul 'Ulum Jombang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES