Kopi TIMES Piala Dunia 2022

Pesan Kemanusiaan dan Piala Dunia 2022

Jumat, 18 November 2022 - 18:13 | 44.24k
Pesan Kemanusiaan dan Piala Dunia 2022
Yunan Syaifullah Penikmat Bola, Penulis buku Filosofi Bola, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang 
FOKUS

Piala Dunia 2022

TIMESINDONESIA, JAKARTASEPAK BOLA adalah pesona kemanusiaan. Piala Dunia 2022 dipastikan bergulir dan dihelat di Qatar 
Kendati diwarnai pro kontra dan ketidakpstian. Termasuk sejumlah kontroversi. Piala Dunia 2022 dibuka dan dimulai, semenjak , 20 Nopember 2022 hingga puncaknya 18 Desember mendatang.  

Ragam pesona itu mementaskan berbagai hasrat dan harapan. Hasrat kemenangan. Hingga, gagalnya harapan berupa kekalahan. Kekalahan dan kesedihan adalah hasil dari harapan yang sedang dikecewakan.

Sepak bola dari dulu hingga kini, ditasbihkan dan menjadi panggung hasrat dan kemanusiaan yang mempertontonkan berbagai pesona kemanusiaan.    Didalamnya, selalu memperagakan strategi dan taktik seolah perang untuk merebut kuasa dan pengaruh; krisis; bencana; dan, berbagai skandal penghianatan terhadap fair play. 

Meski selalu diwarnai drama menyedihkan. Sepak bola tidak pernah usang, lapuk bahkan mati. Justru makin mengundang daya tarik dan pesona. Bahkan hiburan bagi seluruh umat manusia diberbagai belahan dunia. Tanpa mengenal perbedaan status dan kelas sosial. 

Sepak bola adalah dunia para hero yang mempertontonkan sekaligus daya pamer atas segala bakat, kemampuan diatas lapangan hijau. 

Para hero di lapangan hijau memamerkan segala kemampuan dan bakatnya bukan sekadar untuk permaianan namun untuk merebut kuasa dan pengaruh berupa kemenangan. 

Ragam dan unjuk kebolehan yang dipamerkan para hero seolah seperti panggung opera sabun. Disinilah, wajah sepak bola yang seakan terus hidup tanpa ada keinginan untuk mati. Panggung seperti inilah, sepak bola seolah terus mampu menghibur dan menghipnotis para penonton. 

Pergulatan yang dilakukan para hero tidak selalu berakhir dengan hasil akhir gemilang berupa kemenangan. 

Sepak bola senantiasa memberikan pelajaran menarik bagi setiap penonton tentang arti dan makna realisme nasib.  

Gifty Akita, penulis ternama, menulis suatu kalimat menarik dan layak direnungkan, tulisan itu berbunyi  "The tagedy is not the failure but lack of faith." 

Perasaan sedih bisa diredam orang tiap hari, misalnya kehilangan benda yang disayangi. Tapi, tragedi melampaui itu. Ia bukan sekadar kehilangan, namun memunculkan penderitaan dan kesengsaraan, bahkan kerap tak tertanggungkan. 

Sungguh pun begitu, banyak tragedi yang terjadi dalam pusaran waktu. Perang, virus, kerusuhan, bencana, dan masih banyak lainnya amat sering menyapa manusia dan menyapu semesta. Tragedi sebagian besar lahir bukan oleh sebab semata "kesalahan", namun karena kerapuhan "keyakinan." Otoritas yang memproduksi pengetahuan dan membikin kebijakan tidak tegak berjalan dengan panduan "iman."

Olahraga diciptakan untuk membangun sikap paling vital dalam kehidupan: elan sportivitas. Sikap adil terhadap sesama adalah alas kerjasama. Kompetisi diselenggarakan untuk membangun keunggulan. Pengakuan atas keunggulan orang atau pihak lain hanya bisa dirayakan oleh warga yang memegang teguh sportivitas. Kompetisi pada ujungnya bukan untuk memisahkan, namun menyatukan. Inilah yang menjadi sebab olahraga menjadi salah satu opsi paling masuk akal manusia untuk mengetatkan tali hidup bersama.

Naasnya, sejarah kompetisi olahraga lazim menganakkan "chauvinisme." Sikap mengagungkan kepunyaan/pujaan sendiri sambil merendahkan pilihan orang lain sering sengaja dipertontonkan. Tragedi Heysel di Inggris (1985) merupakan salah satu yang paling dikenang dan diharapkan tidak pernah diulang. 

Sepak bola dengan tegas mengajak dan melibatkan para penonton pada dua pilihan tegas yang wajib dipilih, yakni untuk berada pada pihak kemenangan ataukah kekalahan. 

Menariknya, panggung Piala Dunia 2022 sesungguhnya menyisipkan dan bicara mengenai masa depan dan kesadaran melalui sepak bola. 

Ikrar dan jiwa yang utuh yang melebur jadi satu itulah idealisme para hero. Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasi-kan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu. 

Pesan itu menyadarkan kita semua. Kenapa harus dibuat tegang dan penasaran oleh hasil pertandingan. Karena bicara sepak bola bisa apa saja. Itu sah-sah saja. 

Piala Dunia 2022 adalah penawar rindu para pecinta, penikmat bola dunia bisa terjawab.  Meski kerinduan publik bola terkesan setengah hati. Hal ini tidak lepas adanya pertarungan fenomena menarik dengan berbagai logika terbalik yang bisa ditelusuri.

Piala Dunia 2022 adalah penawar luka. Melupakan duka sejenak. Perhatian terpusat pada sepak bola. Sepak bola adalah lentera ditengah lorong gelap ekonomi dunia yang sedang turun. Terlebih bagi para kontestan yang dinegaranya sedang terlilit masalah ekonomi dan politik.

Ada sejumlah logika terbalik atas berbagai fenomena menarik dan layak dikemukakan. Pertama, sejak awal terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. 

Kedua, kekuatiran yang berlebihan tentang Qatar sebagai negara kecil yang menyelenggarakan Piala Dunia. Sepak bola adalah masalah besar. 

Ketiga, berubahnya jadwal pertandingan di akhir tahun yang mematahkan tradisi Piala Dunia dilangsungkan. 
Olahraga diciptakan untuk membangun sikap paling vital dalam kehidupan, yakni elan sportivitas. Sikap adil terhadap sesama adalah alas kerjasama. 

Kompetisi diselenggarakan untuk membangun keunggulan. Pengakuan atas keunggulan orang atau pihak lain hanya bisa dirayakan oleh warga yang memegang teguh sportivitas. Kompetisi pada ujungnya bukan untuk memisahkan, namun menyatukan. Inilah yang menjadi sebab olahraga menjadi salah satu opsi paling masuk akal manusia untuk mengetatkan tali hidup bersama.

Karena itu, Piala Dunia 2022 dengan segala kontroversinya sesungguhnya adalah membangun keunggulan dan untuk menyatukan. 

Sepak bola modern --dan sampai kapanpun-  harus disadari adalah permainan kolektif yang melibatkan semua unsur sehingga kebersamaan menjadi etos dirinya. Sepak bola bukan permainan individual yang mengasingkan diri dari lingkungan. 

*) Penulis: Yunan Syaifullah Penikmat Bola, Penulis buku Filosofi Bola, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES