Kopi TIMES

Lingkaran Setan Demokrasi

Kamis, 24 November 2022 - 13:05 | 30.44k
Lingkaran Setan Demokrasi
Zaynur Rozikin, Sekretaris Cabang PMII Bondowoso.

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Demokrasi menjadi salah satu sistem  pemerintahan terbanyak yang dianut oleh negara di dunia, meskipun sistem demokrasi yang dibangun oleh suatu negara tertentu memiliki perbedaan atau ciri khas dengan negara lainnya.

Ciri dari sistem pemerintahan demokrasi selalu sama, Adanya keterlibatan masyarakat ataupun wakil masyarakat dalam mengambil keputusan politik dan memiliki perlindungan terhadap hak-hak sosialnya. Seiring berjalannya waktu, demokrasi berevaluasi dan mengalami perbaikan setiap masanya, demokrasi beradaptasi dengan kondisi sosial, ekonomi masyarakat pada suatu negara tertentu sehingga menciptakan bentuk negara demokrasi yang bermacam-macam di dunia.

Di Indonesia, demokrasi parlementer menjadi konsensus awal yang membuka pintu persetujuan bersama bahwa negara ini menganut sistem pemerintahan yang demokratis. Perkembangannya begitu pesat ketika rezim orde baru runtuh pada tahun 1998, partisipasi dan suara masyarakat menjadi pertimbangan besar pada kala itu. Terbukti dengan jatuhnya Soeharto sebagai pemimpin tertinggi negara selama 32 tahun, Demokrasi menjadi gerbang paling depan sebagai alasan masyarakat bersuara dan mengutarakan pendapat.

Sistem demokrasi juga mencirikan suatu pemilihan umum. Momentum pemilihan umum menjadi bukti dari pesta demokrasi, meskipun pada perkembangannya memiliki banyak tantangan yang membuat substansi dari demokrasi perlahan mulai terkikis. Salah satu tantangan yang marak terjadi pada saat momentum tersebut yaitu praktek Money politics.

Menurut Juliansyah (2007), Money politics atau Politik uang adalah suatu upaya mempengaruhi orang lain dengan menggunakan imbalan materi atau dapat juga diartikan jual beli suara pada proses politik dan kekuasaan dan tindakan membagi-bagikan uang baik milik pribadi atau partai untuk mempengaruhi suara pemilih (voters). Masalah tersebut merupakan tantangan awal yang menjadikan pemilu dalam demokrasi menjadi cacat akibat adanya praktek-praktek kecurangan. Fenomena ini di Indonesia semakin mengakar pada masyarakat sehingga praktek tersebut seakan-akan perlu untuk dilakukan oleh oknum calon atau pasangan calon.

Berangkat dari money politics inilah yang menjadi ancaman dalam rusaknya nilai-nilai demokrasi, secara tidak langsung praktek money politics menciptakan seorang pemimpin yang pragmatis, berpikiran dangkal dan sempit yang menganggap politik bukan lagi kepada membangun sebuah daerah tetapi politik dijadikan sebagai lahan untuk membangun kapitalisasi kekuasaan dan uang. Menurut James pollock (1992) menyatakan bahwa relasi uang dengan politik akan terus menjadi persoalan besar dalam demokrasi dan pemerintahan.

Cermin dari Negara Demokrasi sendiri adalah membolehkan setiap warganya untuk mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin di daerah tertentu. Melihat dari relasi ini, maka pertama yang akan terjadi dari fenomena money politics adalah individu yang memiliki modal materi besar lebih berkesempatan maju mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, sementara menjadi seorang pemimpin dalam menjalankan kepemerintahannya harus memiliki kualitas dan kapabilitas diri untuk membangun suatu daerah atau lembaga dalam memimpin.

Dari fenomena tersebut jelas dengan adanya money politics relasi kekuasaan dan uang hanya tergerus pada oknum-oknum kapitalis yang memiliki modal besar dan berkeinginan maju mencalonkan diri, dengan segala kekuatan ekonominya mempengaruhi masyarakat untuk dapat memilihnya.

Hal tersebut juga akan menciptakan seorang calon pemimpin tidak lagi dari ketangkasannya dalam memimpin, tetapi akan menjadikan seorang pemimpin tirani yang keutamaannya adalah mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Sementara itu, individu yang memiliki kualitas diri mumpuni untuk memimpin kehilangan kekuatan mereka dalam pertarungan politik karena kurangnya materi.

Ini yang menjadi titik imbas dalam demokrasi bukan lagi menciptakan seorang pemimpin yang paham akan bagaimana cara memimpin suatu daerah. Imbas dari itu semua yang terjadi akan memunculkan pemimpin-pemimpin populis yang tidak berlandaskan pada jiwa kepemimpinan yang kuat serta sains yang kurang mumpuni dalam diri mereka untuk memimpin dan membangun daerah mereka nanti.

Inilah bahaya awal dari money politics yang akan menjadi lingkaran setan demokrasi. Ketika money politics menjadi kekuatan kemenangan seseorang dalam memimpin daerah maka tidak akan menutup kemungkinan akan adanya praktik-praktik korupsi ataupun grativikasi dengan dalih untuk mencapai tujuan mereka dalam mengembalikan modal politik yang mereka keluarkan ketika masa mencalonkan diri.

Ini menjadi lingkaran setan yang harus diputus, tidak boleh terjadi terus-menerus. Perubahan ini bisa dilakukan dengan membentuk kesadaran, kesadaran dari semua yang berperan dalam menegakkan demokrasi, mulai dari konstituen, partai politik, penyelenggara pemilu bahkan kepada individu calon. Perlu adanya penyampaian edukasi dan penyadaran sosial tentang imbas dari money politics yang sangat berbahaya bagi kesehatan demokrasi kita.

Mengutip dari perkataan Winston Churchill bahwa Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang buruk, namun tidak ada yang lebih baik dari itu. Demokrasi bukan tujuan, bukan juga sistem pemerintahan yang final. Maka dari itu perlu adanya perbaikan-perbaikan untuk menciptakan sistem demokrasi yang sesuai dengan tujuan dari demokrasi itu sendiri dan sesuai dengan substansi dari empat pilar demokrasi.

***

*) Oleh: Zaynur Rozikin, Sekretaris Cabang PMII Bondowoso.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

KOPI TIMES