Kopi TIMES

Sistem Pemilu Proposional Tertutup Solusi Menuju Domokrasi Substansial

Minggu, 08 Januari 2023 - 03:22 | 37.24k
Haekal Saniarjuna, Peneliti di The Indonesian Democracy Initiative.
Haekal Saniarjuna, Peneliti di The Indonesian Democracy Initiative.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Wacana mengembalikan sistem pemilu Indonesia kepada proporsional tertutup seperti pada Pemilu 2004 adalah langkah baik untuk menciptakan demokrasi yang lebih substansial. Hal ini akan menciptakan pemilu berbiaya murah dan memperkuat pelembagaan partai politik

Singkatnya, pada sistem pemilu proporsional, masyarakat tidak lagi memilih figur Calon Legislatif (Caleg), melainkan memilih partai politik. Penentuan peraih kursi parlemen tidak lagi berdasarkan suara terbanyak, akan tetapi berdasarkan perolehan suara partai dan nomor urut kandidat.

Advertisement

Sistem pemilu proporsional tertutup akan mendorong lahirnya pemilu berbiaya murah. Dengan sistem pemilu proporsional tertutup, para kandidat tidak perlu lagi mengalokasikan dana untuk membayar saksi menjaga suara di TPS. Caleg cukup mengandalkan saksi yang sudah disediakan oleh partai. 

Lebih lanjut, dalam sistem pemilu proporsional tertutup ada kemungkinan lahirnya kerja politik kolektif. Dimana para Caleg dapat berkerja sama untuk memperoleh suara tanpa ada rasa khawatir tidak mendapatkan kursi. Kerja kolektif ini dapat menekan biaya politik. 

Politik berbiaya murah akan melahirkan ekosistem politik yang terbuka bagi setiap orang untuk bergabung tanpa harus memiliki uang besar. Selain itu, politik berbiaya murah juga secara tidak langsung menjadi salah satu upaya pencegahan tindak korupsi.

Selain menciptakan politik berbiaya murah, sistem pemilu proporsional tertutup akan mendorong partai politik memperkuat pelembagaan partai. Hal ini terjadi karena pada sistem pemilu proporsional tertutup melibatkan peran partai yang sangat dominan dalam penentuan anggota legislatif di parlemen. Partai akan terdorong membenahi kinerja para anggota legislatif yang mereka miliki dengan cara m melakukan kaderisasi lebih optimal. 

Apabila kinerja kader partai di parlemen buruk, maka masyarakat akan secara langsung dapat mengevaluasi partai politik pada pemilu selanjutnya karena telah gagal mencalonkan kader terbaiknya pada pemilu.

Kondisi ini akan menciptakan kompetisi antar partai untuk menjadi partai yang lebih baik karena masyarakat akan cenderung mengevaluasi partai pada pemilu apabila berkinerja buruk karena telah salah menempatkan kader pada pemilu. Kondisi juga secara tidak langsung akan meningkatkan Party ID di Indonesia.

Ibarat kata pepatah, no pain no gain, sistem proporsional tertutup jelas tidak luput dari sisi negatif. Sistem proporsional tertutup dapat menurunkan ikatan politisi kepada rakyat dan lebih memilih memelihara kedekatan dengan partai. Hal ini terjadi karena para politisi dipilih oleh partai. Akan tetapi, kembali ke sistem pemilu proporsional perlu ditempuh untuk meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia agar lebih substansial. (*)

***

*) Oleh: Haekal Saniarjuna, Peneliti di The Indonesian Democracy Initiative.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Khodijah Siti
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES