
TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Abu ar-Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni, seorang cendekiawan muslim dan tokoh terkemuka di zamannya. Beliau dilahirkan di Khawarizm Asia Tengah kini berada di wilayah Uzbekistan pada 4 September 973 M (362 H).
Nama al-Biruni berasal dari kata Birun yang dalam bahasa Persia berarti pinggiran kota, sesuai dengan tanah kelahirannya yang berada dipinggiran Kota Kats yang merupakan pusat Kota Khawarizm. Dunia barat mengenal al-Biruni dengan sebutan Aliboron. Karena kontribusinya yang sangat besar, beliau dianggap sebagai ilmuwan terbesar dalam sejarah Islam.
Advertisement
Bahkan, sebagian ahli tanpa ragu menyebutnya sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada. Namanya sangat dikenal luas jauh melampaui zamannya, baik di dunia Islam maupun barat. Sebagaimana ilmuwan muslim lainnya yang muncul pada abad pertengahan, al-Biruni juga seorang ilmuwan yang multidisipliner.
Beliau tidak hanya jenius di bidang astronomi, melainkan juga menguasai beberapa ilmu lainnya, seperti ilmu fisika, antropologi, geografi, geodesi, geologi, matematika, farmasi, dan filosofi. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai kritikus ilmu kimia dan astrologi, penyusun ensiklopedi, penjelajah, sekaligus seorang ulama yang ber-akidah Asy’ariyyah (Ahlussunnah Wal Jama’ah).
Al-Biruni juga adalah ilmuwan muslim pertama yang secara khusus mempelajari seluk beluk tradisi dan kehidupan bangsa India sehingga dinobatkan sebagai bapak Ideologi. Beliau juga didapuk sebagai bapak Geodesi dan Antropologi pertama di dunia.
Sedangkan dalam bidang metode eksperimen ilmiah, Al-Biruni merupakan salah satu pelopor yang menerapkan metode tersebut dalam ilmu mekanika. Beliau juga ilmuwan pertama yang menggunakan berbagai eksperimen yang berhubungan dengan fenomena astronomis dan seorang pelopor dalam bidang psikologi eksperimental.
Out Of The Box
Think beyond the box atau out of the box merupakan cara berpikir di luar kebiasaan. Gaya berpikir ini cukup unik, pasalnya ia harus keluar dari pola-pola yang biasa, pemikiran monoton yang “itu itu saja”. Tentu untuk bisa berpikir di luar kebiasaan bukanlah hal yang mudah, satu hal yang harus dilakukan adalah keluar dari zona nyaman.
Zona nyaman adalah zona kebiasaan yang telah biasa kita nikmati. Zona yang tidak menuntut kita untuk berpikir lebih atau berupaya lebih dari biasanya. Tentu hal ini bukan semata untuk menyiksa diri, melainkan dalam rangka membuat diri kita semakin berkembang.
Pemikiran out of the box berarti pemikiran yang bebas, fleksibel, dan tidak terikat akan suatu hal yang bisa membatasi perkembangan pikiran. Pemikiran yang bebas akan memungkinkan kreativitas dapat melejit tanpa batas. Gaya berpikir inilah yang dilakukan oleh Al-Biruni, sosok yang dikenal sebagai pemikir out of the box.
Ahli yang berasal dari kota Khawarizm ini hidup satu masa dengan Abu Nashr Manshur Seorang astronom Khurasan yang menguasai karya-karya klasik seperti Ptolomeus dan Menelaus.
Di masa tersebut, pemikiran filsafat Yunani adalah pemikiran yang paling populer dan berkembang. Banyak tokoh kala itu yang merujuk pada filsafat Yunani sebagai dasar pemikirannya. Berbeda dengan al-Biruni, beliau memiliki pemikiran yang fleksibel dan tidak terikat dengan batasan-batasan tertentu, bahkan beliau enggan terkungkung dalam ilmu pengetahuan yang biasa dan umum digunakan sebagai landasan berpikir saat itu.
Beliau belajar dengan bebas dan dan mengembangkan pemikirannya dengan bebas pula, padahal beliau juga belajar ilmu astronomi kepada Abu Nashr Manshur yang meskipun pengkaji filsafat tapi pemikirannya tidak merujuk pada kajian filsafat Yunani semata. Dari Abu Nashr Manshur inilah, cara berpikir kreatif out of the box diwariskan dan membuat al-Biruni menjadi sosok dengan pemikiran yang bebas.
Meski demikian, al-Biruni tidak lantas meng-copy pemikiran Abu Nashr Manshur seluruhnya, justru al-Biruni meniru gaya berpikir bebasnya, sehingga beliau pun tak terikat pula dengan pemikiran gurunya.
Semasa hidupnya, al-Biruni dikenal sebagai sosok yang senang berpikir bebas dan fleksibel. Hal ini membuatnya tampak keras dalam menyikapi fenomena filsafat Yunani. Beliau mengembangkan pemikiran dan analisa yang tajam sehingga sering dijuluki sebagai sosok kritikus yang keras terhadap filsafat Yunani.
Tentu, hal ini karena al-Biruni berpikir out of the box. Beliau terbiasa menyaksikan berbagai hal melalui banyak kacamata serta berupaya melihat satu hal tidak hanya dari satu sudut pandang saja.
Inilah yang membuatnya tidak terbawa arus umum para pemikir masa itu yang hanya mengagung-agungkan filsafat Yunani. Al-Biruni berusaha melihat dari sisi lainnya, sehingga beliau mampu menemukan masukan dan solusi untuk mengembangkan berbagai hal yang tidak bisa terjawab oleh filsafat Yunani.
Pemikiran luas al-Biruni juga bisa dilihat dari kemauannya yang kuat dalam mempelajari berbagai ilmu. Beliau sangat antusias untuk belajar berbagai ilmu baru dan tidak pernah membatasi dirinya hanya pada satu bidang ilmu saja, apalagi hanya dari satu sudut pandang.
Dengan berbagai pengetahuan serta kemampuan menalar yang dimilikinya, al-Biruni mampu menggagas ide-ide baru yang di antaranya adalah teori heliosentris atau yang menyatakan bahwa bumi lah yang mengelilingi matahari. Padahal, teori yang paling populer dan diakui pada masa itu adalah teori geosentris yang menyatakan bahwa matahari yang mengelilingi bumi.
Sekali lagi, al-Biruni tidak terkungkung dengan informasi yang menjadi keyakinan publik, beliau justru berusaha mengembangkan pemikirannya sendiri dengan gaya berpikirnya yang Beyond The Box atau lebih dikenal Out Of The Box.
***
*) Oleh: Alfan Jamil, Dosen Kajian Fiqh Ulama Nusantara di Ma'had Aly Nurul Jadid dan pengajar di PP. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Hainorrahman |
Publisher | : Rochmat Shobirin |