Kopi TIMES

The Art of War di Zaman Silikon

Selasa, 31 Oktober 2023 - 14:45 | 28.93k
M. Bagus Adil Indra Irawan, Penulis & Asisten Notaris.
M. Bagus Adil Indra Irawan, Penulis & Asisten Notaris.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – The Art of War atau seni berperang adalah buku klasik yang pernah ada dalam sejarah peradaban Tiongkok sejak 2500 tahun yang lalu. Buku ini memiliki nilai sejarah dan filsafat yang tinggi dikarenakan buku ini hadir ketika masa-masa kejayaan Tiongkok. 

Buku The Art of War juga merupakan buku ilmu perang pertama di dunia yang banyak digunakan dalam perang-perang besar setelahnya. Konon ada sebuah organisasi dan perusahaan raksasa di dunia mewajibkan seluruh anggota dan stafnya membaca buku karya Sun Tzu ini.

Sun Tzu adalah seorang jenderal perang pada masa-masa kerajaan Tiongkok kuno dahulu, ketika dirinya dipertemukan dengan Raja Wu Wang, maka Sun Tzu mempersembahkan buku ini kedepannya dalam rencana operasi militer untuk menghadapi Negara Chu dengan jumlah pasukan sebanyak 30.000 menghadapi 200.000 pasukan dari negara musuh.

Berkat strategi dari mahakaryanya ini dirinya telah berhasil membuat keajaiban dengan mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya 7 kali lipat dari pasukannya sendiri. Mampu merebut kemenangan dalam 5 kali pertempuran dan 5 kali menang. Sehingga dirinya diberi penganugerahan jasa perang tertinggi dari Raja Wu Wang.

Selang beberapa abad kemudian karya Sun Tzu banyak digunakan sebagai panduan dalam strategi militer maupun perang konvensional dan modern. Seperti halnya perang gerilya Vietkong, perang Sam Kok, Gulf War di Iraq kurang lebihnya menggunakan teori dan konsep dalam buku ini sebagai panduan.

Namun di era hari ini dimana teknologi dan informasi yang serba cepat bahkan mampu mengubah persepsi dan opini seseorang hingga masyarakat dalam waktu singkat, tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam menyikapi kemajuan zaman yang serba instan dan cepat.

Tentu buku ini dapat dikatakan sangat relevan untuk memandu kita dalam bertahan hidup hingga mampu mencapai tujuan dan meraih kemenangan di era dimana masyarakat saling berkompetisi satu sama lain. Hari ini buku karya Sun Tzu tidak semata-mata ditafsirkan sebagai strategi pertempuran konvensional atau fisik karena sangat tidak relevan. 

Jika diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kesemua hal di dalamnya cukup cocok jika dimanfaatkan dalam memandu kehidupan. Entah apapun bidang yang ditekuninya, baik itu bisnis hingga politik. Maka sangat pas jika buku ini dijadikan sebagai panduan dalam kesemua bidang tersebut.

Istilah Silikon merujuk kepada Silicon Valley di Amerika Serikat. Tempat ini merupakan pusat inovasi teknologi yang mana di dalamnya banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Google, dan perusahaan besar lainnya terhimpun dalam satu kawasan ini. Hari ini teknologi menjadi acuan masyarakat dalam beraktivitas, baik itu teknologi fisik maupun non fisik.

Kata kunci dari kesemua hal itu di era moderenisasi sekarang adalah efisiensi atau tepat cara. Sehingga bagaimana caranya dengan berbagai macam tools atau alat yang dimiliki seseorang. Orang tersebut bisa mencapai tujuannya atau bahkan bisa memenangkan persaingan jaman.

Pertama, Hitunglah Keuntungan dan Kerugiannya. Sama halnya pada salah satu bait dalam The Art of War "keuntungan dan kerugian saling bergantung, ketahui dulu kerugiannya, maka kamu akan tahu keuntungannya." 

Seringkali seseorang dalam menentukan sikap dan tindakan tidak didasari oleh pilihan-pilihan rasional dan menguntungkan. Namun didasari atas kehendak selera, intuisi, dan beragam hal subjektif lainnya.

Hal ini pastinya akan menimbulkan kerugian terhadap orang tersebut jika tidak dihitung lebih dahulu dampak dan apa yang akan dirinya peroleh atas tindakannya tersebut. Kelangsungan hidup dan kejatuhan karir tergantung dari pengambilan sikap atas sebuah pilihan. Maka dari itu, hal ini memang betul-betul dikaji dengan cermat.

Kedua, Relevan Untuk Organisasi Modern. Jika dalam sebuah organisasi, maka ada 5 hal yang harus dipegang teguh bagi seorang pimpinan dan organisasi untuk tetap bisa menjalankan roda organisasinya dengan ideal. Yakni jalan, cuaca, medan, kepemimpinan, dan disiplin.

Dimaksud jalan yaitu bagaimana cara-cara organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya dan hal apa saja yang harus dilaluinya. Cuaca adalah kondisi internal dan eksternal organisasi. Medan yaitu apa saja yang menjadi halangan, tantangan, dan rintangan yang harus ditempuh.

Kepemimpinan adalah bagaimana cara seorang ketua mengakomodir bawahannya, dan disiplin adalah nilai hingga doktrin yang ada dalam organisasi tersebut supaya tetap berjalan stabil.

Ketiga, Mengasah Kita Menjadi Decision Maker Yang Baik. "Beberapa orang menang karena mengandalkan kecepatan, meski mereka biasa-biasa saja" di era kompetisi seperti sekarang ini tentu jika tidak cepat dalam menyelesaikan konteks kompetisi tertentu, maka hal demikian akan menjadi sebuah kompetisi yang menjemukan hingga banyak menguras tenaga. 

Jika kemenangan itu diraih dalam jangka waktu yang lama, maka sebenarnya tidak ada untungnya bagi kita. Karena untuk sampai pada hal itu banyak sekali pengorbanan yang dilakukan. Baik itu waktu, tenaga, pikiran, dan lainnya, yang mana kesemua hal tersebut bisa kita alokasikan kepada hal lain yang lebih bermanfaat.

Keempat, Seni Dalam Problem Solving. Terkadang yang menjadi lawan dalam era hari ini adalah bukan manusia ataupun makhluk bernyawa lainnya. Tetapi sebuah masalah. "Jika seseorang mengetahui bahwa mereka akan mendapat banyak hadiah ketika mereka berhasil mengalahkan lawannya, maka mereka akan senang hati untuk terjun ke medan perang." 

Dalam konteks ini nilai tawar yang akan didapat dan diberikan tentu menjadi barometer dalam setiap pengambilan solusi atas permasalahan tersebut. Usahakan hadiah yang diberikan ada dalam batas kewajaran. Namun dalam pemaknaan "banyak" sehingga mereka tidak merasa ditipu dan mau terjun langsung ke medan pertempuran.

Dengan demikian bait-bait strategi pertempuran yang dulunya ditulis di atas kulit bambu ini memang harus dimaknai sesuai dengan konteks dan jamannya. Karena akan sangat membantu dalam meraih kemenangan di era persaingan hari ini. 

Menjadi suatu keniscayaan bahwa buku ini mengajarkan untuk tidak meremehkan lawan selemah apapun lawan itu. Sebab, dengan meremehkan lawan di era yang serba cepat ini, maka kita telah mengundang bencana besar. Yaitu kehilangan pusaka kemenangan.

***

*) Oleh: M. Bagus Adil Indra Irawan, Penulis & Asisten Notaris.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES