Kopi TIMES

Mengurangi Resiko Stunting Melalui Pengasuhan Positif

Kamis, 02 November 2023 - 12:42 | 26.79k
Dr. Ike Herdiana, M.Psi (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya)
Dr. Ike Herdiana, M.Psi (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Stunting merupakan salah satu bentuk malnutrisi kronis yang sulit diubah dan dapat menyebabkan masalah yang lebih serius jika tidak segera dicegah. Kondisi tersebut ditandai dengan gizi buruk yang mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal. 

Penting bagi kita untuk memahami faktor yang menyebabkan stunting, karena intervensi yang akan dilakukan nanti tentu disesuaikan dengan faktor risiko yang teridentifikasi. 

Dr. Wong Jih Eiin (2018) dalam artikelnya berjudul "Healthy Nutrition Prevents Stunting" menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami stunting. Yakni; Pertama, kesehatan dan gizi ibu yang buruk sebelum, selama, dan setelah kehamilan yang dapat menghambat pertumbuhan awal anak mulai dari konsepsi atau pembuahan.

Kedua, faktor ibu lainnya, seperti kehamilan remaja dan jarak kelahiran yang pendek dapat mengganggu ketersediaan nutrisi pada janin.

Ketiga, praktik pemberian makan yang buruk, antara lain pemberian Asi non-eksklusif dengan mengenalkan makanan atau air terlalu dini, serta pemberian makanan pendamping Asi yang tidak memadai, tidak memenuhi gizi yang seimbang, tidak sesuai usia, atau tidak tepat waktu.

Keempat, infeksi dan penyakit berulang. Misalnya diare karena kebersihan dan sanitasi yang buruk, dan penyakit-penyakit lainnya. 

Kelima, faktor psikososial lainnya seperti kemiskinan, kerawanan pangan, penelantaran dan kurangnya stimulasi dari orang tua atau pengasuh, buruknya akses terhadap fasilitas kesehatan, dan pemberian makanan yang tidak responsif. 

Kondisi stunting yang dialami oleh anak memiliki efek jangka panjang yang harus diwaspadai. Masih menurut Eiin (2018), stunting dapat menyebabkan;

Pertama, perkembangan kognitif dan fisik yang lebih lambat, berkurangnya kemampuan mental dan kapasitas belajar, serta menyebabkan kinerja yang buruk di sekolah.

Kedua, meningkatkan risiko kelebihan berat badan, obesitas, dan penyakit kronis terkait nutrisi lainnya (misalnya diabetes, penyakit jantung) di kemudian hari, yang dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas di masa dewasa karena kesehatan yang buruk.

Ketiga, menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah. Sehingga mengakibatkan lebih banyak "sakit" baik di masa kanak-kanak maupun di masa dewasa. Mengingat dampak jangka panjang tersebut, maka upaya preventif jauh lebih perlu dikembangkan dibandingkan upaya kuratif. 

Mengubah mindset masyarakat. Terutama masyarakat rentan, tentu membutuhkan upaya keras dan terus menerus untuk mensosialisasikan pentingnya merencanakan pernikahan, mempersiapkan kesehatan diri dan reproduksi saat konsepsi atau memutuskan akan memiliki anak. 

Mengubah pola hidup kurang sehat dalam pernikahan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memeriksakan kondisi kesehatan fisik secara reguler sejak konsepsi hingga kehamilan trimester akhir. 

Mempersiapkan kelahiran yang aman, dan mempersiapkan fisik juga mental menjadi orang tua dan belajar mengembangkan pengasuhan positif yang dibutuhkan oleh anak agar orang tua memberikan perhatian pada kesehatan fisik dan mental anak. 

Memastikan anak mendapatkan nutrisi yang sehat dan cukup merupakan dasar dari proses pengasuhan terkait dengan upaya mencegah stunting. Setelah itu barulah bisa dikembangkan pola-pola pengasuhan yang secara positif mendukung perkembangan anak pada aspek lainnya.

Pengasuhan Positif dalam Konteks Stunting

Kurangnya stimulasi sosial menjadi penjelasan penting dari terapan pengasuhan yang kurang tepat. Sehingga mendorong terjadinya kondisi stunting pada anak.  

Disisi lain, peran orang tua bagi tumbuh kembang anak adalah vital dan tindakan orang tua yang abai terhadap kondisi fisik dan mental anak merupakan indikator dari pola asuh yang buruk. Oleh sebab itu pengasuhan positif, bagaimanapun aplikasinya dalam kehidupan setiap rumah sangat diperlukan untuk mencegah kondisi stunting.  

Cara Goodwin, PhD (2021) dalam artikelnya berjudul "5 Evidence-Based Ways to Practice Positive Parenting" menjelaskan bagaimana pengasuhan positif ini diterapkan, antara lain; 

Pertama, hormati otonomi dan kemandirian anak (pada anak yang lebih besar). Memberikan kesempatan kepada anak membuat pilihan dan belajar dari kesalahan sendiri membuat anak mandiri dan dihormati secara pribadi.

Kedua, memberikan kesempatan bermain dan belajar pada anak yang sesuai dengan perkembangannya. Mengajarkan anak-anak  keterampilan baru, dan bagaimana mereka mengelola emosinya. 

Tetapkan batasan dan perbaiki perilaku mereka bila perlu. Dalam konteks stunting, orang tua dapat memperbaiki perilaku makan anak dan menerapkan metode penguatan perilaku yang sesuai. 

Jika anak tidak menyukai sayuran atau protein, maka stimulasi memberikan makan sayur atau protein secara menyenangkan atau sambal bermain dapat dicoba dan pujilah jika anak melakukannya dengan benar.

Ketiga, peka terhadap isyarat dari anak, sadar dan responsif terhadap emosi mereka. Merespon secara konsisten terhadap komunikasi mereka (atau upaya komunikasi, jika mereka belum berkomunikasi menggunakan kata-kata). 

Dalam kaitannya dengan stunting, kepekaan orang tua terhadap kondisi tumbuh kembang anak menjadi penting. Jika anak memperlihatkan kondisi fisik yang kurang sehat, tidak menunjukkan selera pada makanan apapun yang diberikan, maka orang tua segera mencari jalan keluarnya. 

Keempat, bersikaplah hangat dan penuh kasih sayang dengan anak. Tunjukkan kasih sayang dan cinta secara teratur. Dalam konteks stunting, mengembangkan perasaan cinta dan sayang pada anak akan mendorong orang tua memperhatikan semua kebutuhan-kebutuhan dasar anak. Termasuk kebutuhan nutrisi, sanitasi bersih dan lingkungan yang sehat untuk anak. 

Anak yang mengalami perilaku makan yang sulit tidak lantas direspon dengan dimarahi. Sehingga kegiatan makan menjadi momen menakutkan bagi anak.

Kelima, hadir dan berinteraksi dengan anak sesering mungkin. Ikatan emosional positif yang terbangun antara orangtua dan anak akan meningkatkan kesehatan mental anak. 

Dengan kondisi mental yang sehat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah untuk dikendalikan. Mau mencoba banyak hal, eksplorasi terhadap beragam nutrisi dan terhindar dari perilaku sulit, salah satunya adalah gangguan makan.

Selain terapan pengasuhan positif diatas, penting juga untuk mengembangkan kerjasama ibu dan ayah dalam pengasuhan. Ayah yang masih memiliki pola hidup yang kurang sehat, seperti merokok, sebaiknya mulai berpikir untuk menghentikan kebiasaan tersebut. 

Anak membutuhkan ruang yang sehat untuk mendukung kegiatan eksplorasi lingkungannya. Keluarga yang memiliki komitmen untuk hidup sehat demi anak-anak adalah upaya preventif paling berharga untuk menjamin kelangsungan hidup sehat anak-anak mereka.

***

*) Oleh : Dr. Ike Herdiana, M.Psi (Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES