Kopi TIMES

Catatan Indah Buat Para Sahabat dalam Kehidupan

Kamis, 09 November 2023 - 09:45 | 28.41k
HM. Basori MSi, Instruktur Nasional Gerakan Pemuda Ansor, - Direktur Sekolah Perubahan.
HM. Basori MSi, Instruktur Nasional Gerakan Pemuda Ansor, - Direktur Sekolah Perubahan.

TIMESINDONESIA, MALANG – Kita bertemu saat dalam buaian. Dimana kita tidak saling kenal, namun pelan-pelan mencoba untuk saling bertanya. Dari sebuah sapa melahirkan rangkaian kata hingga rangkaian kata itu tersambung hingga sekarang. Mungkin diantara kita sama sama tidak menyadari.

Saat dalam buaian. Aku tahu kamu, kamu juga tau aku, semua dibingkai dalam sebuah rajutan bersama dengan sebuah kata yang namanya sahabat. 

Kebersamaan melahirkan kepercayaan, walau kita sama-sama pernah menipu dan membohongi. Kebersamaan melahirkan rasa solidaritas walau kadang kamu melupakan perjuanganku. 

Kebersamaan melahirkan kompetisi walau kita sama-sama pernah nanya dan nyontek saat ujian. Kebersamaan membuat kita seperti saudara, karena kopiku kopimu walau kadang uangku, uangku sendiri.

Kebersamaan dalam suka dan duka saat dalam buaian proses pembelajaran yang namanya aktifis pergerakan membuat kita sadar begitu berartinya sebuah proses untuk mencapai cita-cita sampai sarjana. Walau ada yang tidak sampai mendapatkan gelar.

Ketika sudah selesai kuliah kita tetap sahabat. Sahabat yang sama-sama bingung setelah kuliah. Bingung mau berbuat apa? namun tidak ada apa-apa. Dalam Pikiran hanya pengen bagaimana ada aktifitas. Masa seorang sarjana klontang-klantung.

Pelan tapi pasti akhirnya dirimu memiliki pekerjaan, walau aku belum. Yang pasti kamu bisa mentraktir walau secangkir kopi dan sepiring nasi pecel. Sekali lagi masih dalam bingkai sahabat. Cerita di atas adalah sebuah gambaran sederhana seorang sahabat baik dalam proses maupun bagaimana menuju sukses. Berikut kami mencoba memberikan refleksi bagaimana menjadi sahabat dunia akhirat.

Ingatlah Ketika Susah dan Berjuang 

Kita semua saat kuliah dan berproses sebagai aktifis pasti mengalami beratnya berjuang untuk mendapatkan gelar sarjana. KH. Mansyur Adnan PW NU zaman tahun 90-an menyampaikan “Menjadi Sarjana itu hebat, karena cara memperolehnya saja sudah sulit dan penuh perjuangan”.

Maka kita jangan pernah lupa bagaimana kita berjuang menuntut ilmu dengan berbagai dinamikanya. Pasti kita bersama sahabat. Maka jangan pernah lupa dengan sahabat mu saat kuliah dan berjuang di organisasi pergerakan 

Ingatlah Kesuksesanmu bukan Usahamu Sendiri 

Perjuangan ibarat menanam padi, kita akan memetik buahnya sesuai dengan apa yang kita tanam, pupuk dan memeliharanya. Oke lah mungkin anda hebat, namun anda pasti butuh orang lain dalam mencapai apa yang sudah kamu raih. Maka jangan pernah lupa bersama siapa anda bisa sukses, sadar bahwa kesuksesan kita karena ada orang lain di dalamnya.

Membangun Komitmen Sukses Bersama 

Sahabat kita adalah keluarga kita. Perjalanan panjang dalam persahabat, harus kita pahami sebagai kebersamaan untuk menuju kemapanan. Maka menanamkan komitmen untuk mapan bersama adalah sebuah komitmen yang harus kita pegang agar persahabatan bukan hanya sekedar kebersamaan semu.

Membagi Peran 

Kita memiliki kemampuan yang berbeda, kita memiliki keahlian yang berbeda. Bahkan isi otak kita juga tidak sama. Maka sahabat pergerakan harus membagi peran sesuai dengan keahlian kita masing masing. Menempatkan sahabat pada pekerjaan yang layak adalah wajib, karena kita ingin mapan bersama. 

Saling Menguatkan 

Sahabat pergerakan itu sebuah ikatan lahir batin seorang kader. Jangan pernah melepas ikatan emosional agar persatuan menuju kemapanan tetap kokoh. Kita akan menuju sebuah pertamanan indah yang di bingkai dalam kebersamaan, maka jangan pernah melepas ikatan. Namun, bagaimana saling menguatkan walau mungkin kita berbeda profesi.

Jangan Sombong 

Ketika Allah memberikan kedudukan jangan pernah silau, hingga lupa asal usul, lupa sahabat bahkan lupa saudara. Kesombongan itu ibarat bara api yang bisa membakar semuanya. Jabatan dan kekuasaan hanya sementara. Maka berbaik baiklah dengan sahabatmu yang dulu pernah berproses bersamamu. 

Berpenampilan sederhana dan merasa tidak memiliki jabatan lebih menyelamatkan hati dan Pikiran kita dari post power syndrome. Post power syndrome atau sindrom pasca kekuasaan adalah kondisi ketika seseorang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan yang pernah dimilikinya dan belum bisa menerima hilangnya kekuasaan itu. Post power syndrome sering dialami oleh orang yang baru saja memasuki masa pensiun.

Berpikir Kemaslahatan Bersama 

Hidup itu harus belajar berpikir untuk orang lain. Maka bagi kita yang diberi anugerah berupa kekuasaan atau kelonggaran Rizqi kita mesti harus belajar berbagi pada orang yang membutuhkan. Manajemen amal shaleh oleh diri Kita sendiri harus kita desain agar keseimbangan dunia akhirat bisa tercapai. Kemaslahatan orang banyak harus menjadi visi kader pergerakan agar hidup kita memberi arti pada sesama manusia.

Mendesain Kader Masa Depan Penerus Perjuangan 

Sebagai aktifis kita memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang baik pada kader untuk menerus estafet perjuangan. Maka jangan pernah racuni kader dengan gagasan dan pemikiran yang sektarian. Tidak cerdas dan membesarkan ambisi pribadi atau kelompok.

Kita akan dikenang dan catat sebagai pahlawan pergerakan karena visi, misi, gagasan dan aktualisasi diri kita kepada kader kader kita. Maka memberikan pendidikan kader yang baik adalah sebuah keharusan.

Memahami Kesulitan Sahabat 

Roda kehidupan berputar, maka ketika di atas jangan pernah lupa kalau dibawah itu tidak enak. Kalimat ini harus benar benar kita resapi dan lakukan. Kita harus memiliki komitmen untuk memberikan Support kepada kader siapa saja, yang memiliki masalah mulai ekonomi maupun masalah lainnya. 

Empati atas kesulitan sahabat merupakan bagian dari komitmen diri untuk mapan bersama. Kita semua tidak ingin susah atau kena masalah, namun ketika Allah memberikan cobaan kepada sahabat kita, maka kita harus memberikan Support.

Paham Kan Hatimu Hidup di Dunia Hanya Sementara 

Allah melahirkan kita ke dunia bukan tanpa tujuan, maka sebagai kader kita harus faham tentang itu. Hidup yang sementara harus kita jalani dengan kebaikan dan amal sholeh. Yang kita petik, sesuai dengan yang kita tanam. 

Maka jangan pernah melepaskan Allah dalam hati kita. Kekuasaan dan jabatan hanya atribut dunia yang kelak akan kita lepas. Jika kita ingin bahagia di akhirat, maka di dunia banyaklah melakukan kebaikan, amal soleh dan beribadah kepada Allah. 

Demikian refleksi pesan sahabat ini kami sampaikan. Semoga memberikan inspirasi dan motivasi kepada siapa saja yang merasa sebagai pejuang agama Allah dimana saja berada. 

***

*) Oleh : HM. Basori MSi, Instruktur Nasional Gerakan Pemuda Ansor, - Direktur Sekolah Perubahan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES