Kopi TIMES

Perubahan, Petugas Partai atau Mengabdi pada Rakyat?

Selasa, 14 November 2023 - 14:16 | 35.97k
Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Menarik memperbincangkan ketiga kata yang digaungkan calon presiden. Anies dengan kata Perubahan, Ganjar dengan istilah Petugas Partai dan Prabowo dengan istilah Mengabdi untuk rakyat. Mari kita simak bersama.

Sejak awal Anies sudah memproklamirkan dirinya akan perubahan. Namun apakah perkataannya itu akan terbukti? Dulu, awal menjadi gubernur, Anies selalu berkata bahwa akan mengatasi banjir. Kenyataannya apakah mampu? 

Dalam lima tahun memimpin Jakarta, ia ternyata belum mampu mengatasi akan hal itu. Mengapa? Jakarta terlalu padat penduduknya. Meski sudah membuat ribuan sumur resapan, namun hal itu ternyata tidak manjur. Jakarta tetap banjir, baik sekarang ataupun yang akan datang. 

Ganjar sebenarnya semboyannya sangat bagus, "Tuanku ya rakyat, gubernur hanya mandat." Sayangnya, dalam bahasa PDI-P, setiap kepala daerah hanyalah "petugas partai". Hal itu sering diucapkan oleh ketua umum partainya, Megawati Soekarno Putri. 

Jangankan gubernur, yang Pak Jokowi sebagai presiden saja masih dianggap "petugas partai". Artinya, meski Presiden Jokowi mempunyai hak prerogatif, namun di mata ketua umum partai tidak begitu berarti. Presiden Jokowi ibarat "boneka politik" yang kemana-mana harus selalu taat pada atasan partai. 

Sementara Prabowo, mempunyai pedoman mengabdi untuk rakyat. Bagaimana caranya mengabdi kepada rakyat? 

Sudah dua kali Prabowo nyalon presiden. Tahun 2014 ia berpasangan dengan Hatta Rajasa dari PAN. Tahun 2019 nyalon lagi dan berpasangan dengan Sandiaga Uno. Ternyata juga kalah. Yang jadi Pak Jokowi terus. 

Namun dari itu beliau tetap "legowo". Pak Jokowi masih tetap dianggap teman meski sebenarnya lawan politiknya. Ketika ditawari jadi menteri pertahanan, beliau juga masih siap menerimanya. 

Bagi orang yang bijak, mungkin bisa menentukan pilihannya yang terbaik. Perubahan, Petugas Partai atau Mengabdi untuk rakyat? 

Bila memperbincangkan masalah harta, Prabowo lah yang paling kaya. Tanahnya berada di berbagai tempat. Dari harta yang kaya ini kemungkinan beliau tidak akan korupsi. Umpama korupsi, mungkin prosentasenya hanya kecil. 

Ibarat bendahara dalam sebuah RT, biasanya yang ditunjuk adalah orang yang kaya duit. Mengapa? Yang sudah kaya duit biasanya tidak akan mudah tergoyah untuk melirik duit. Duit kas RT pun akan aman. 

Lain halnya ketika orang yang tidak berduit ditunjuk menjadi bendahara RT. Awal mulanya mungkin aman. Karena kurang ekonomi dan sering melihat uang kas RT, akhirnya tertarik. Maka memang benar apa yang dikatakan oleh Bang Napi bahwa kejahatan terjadi bukan karena ada niat, melainkan karena ada kesempatan. 

Bila kita membahas Anies Baswedan, maka kita lihat rekam jejaknya. Anies memang seorang akademisi. Pernah juga menjabat sebagai Mendikbud era awal Presiden Jokowi. Setelah itu ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 2017-2022. 

Apa yang terjadi? Organisasi sekongkolannya yaitu FPI akhirnya dibubarkan oleh pemerintah. FPI dianggap terlalu brutal dan mempunyai jaringan dengan ISIS. Sekarang pun FPI sudah bubar, namun mantan pengikutnya masih cukup banyak. 

Sementara bila kita memperbincangkan Ganjar, sebenarnya sangat baik. Rekam jejak kebaikannya sudah terbukti dan teruji. Pernah menjadi anggota DPR-RI dan Gubernur Jateng dua periode (2013-2018 dan 2018-2023). 

Namun dari itu, bagi atasan, Ganjar hanyalah petugas partai yang harus loyal kepada pimpinannya. Apapun yang dilakukannya seakan-akan tidak ada wibawanya karena hanyalah petugas partai. Orang yang cerdas pilih yang mana? Perubahan, Petugas Partai atau Mengabdi untuk rakyat? Semoga bermanfaat. 

***

*) Oleh : Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES