Kopi TIMES

Bandwagon Effect di Media Sosial

Selasa, 21 November 2023 - 07:35 | 59.24k
Hendrikus Harum, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang.
Hendrikus Harum, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Peran medsos dalam persoalan dukung mendukung capres dan cawapres di tahun 2024 sudah sangat marak di berbagai Platform. Seperti Tiktok, Instagram, Facebook dan media lainnya. Melalui sejumlah akun medsos yang berpengaruh (Influencer) yang meyakinkan setiap para pengguna media sosial bahwa kandidat tertentu adalah calon terbaik di pemilu 2024 mendatang. 

Dalam Konteks medsos, ulah para Influencer itu menjadi rujukan. Di saat orang terdekat, sahabat, komunitas, atau kelompok tertentu ikuti tren, dan sangat berpengaruh pada pemilihan kandidat. Tekanan tekanan tersebut yang dapat memiciu terjerat orang lain untuk ikutan. Apalagi sebagai generasi muda pasti mengambil peran penting di dalamnya, karena beranggapan agar tidak ketinggalan Tren. 

Media sosial sebagai salah satu produk perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat luas di era modern sekarang. Dimana media sosial seolah menjadi kebutuhan primer bagi kehidupan manusia tak terkecuali bagi anak muda di era sekarang. Bahkan anak muda sekarang sangat lincah dan fasih dengan teknologi yang sudah di sediakan saat ini. Sehingga mereka dengan cepat dapat informasi terbaru serta tren yang sedang viral di media sosial. Sebut saja pasangan pak Prabowo dan Gibran yang sedang ramai ramai di perbincangkan oleh para Netizen saat ini. 

Efek bandwagon atau sering disebut efek ikut-ikutan ini sebetulnya kecenderung yang terjadi pada individu untuk mengikuti gaya, perilaku, atau sikap tertentu yang orang lain melakukannya juga. Efek ini adalah fenomena yang terjadi pada saat tingkat penyerapan, ide dan tren akan terus meningkat terjadi di media sosial. 

Sehingga anak muda kehilangan arah kehidupan mereka, karena mereka selalu mengikuti tren yang selalu di tampilkan di media sosial. Hal ini menjadi menurun kereativitas anak muda di media sosial. Yang awal mereka adalah untuk mencari informasi di media sosial, kini mereka di pengaruhi dan terlibat langsung dalam media sosial tersebut.

Efek Bandwagon cenderung lebih banyak dialami oleh kalangan anak muda atau di sebut dengan generasi Z, hal ini dikarenakan tingginya penggunaan media sosial pada saat ini terutama di Indonesia. Hal tersebut diperkuat dengan data yang ada. Dimana menurut survei dari Napoleon Cat, rentang usia pengguna media sosial tertinggi saat ini di Indonesia dimulai dari rentang umur 18-24 tahun. Jadi tidak heran bila saat ini banyak sekali anak muda yang mengikuti tren yang ada di dalam media sosial.

Pengaruh dari media sosila inilah, membuat anak muda sekarang kurang menggunakan skil, inovasi dan kreatif dari dalam dirinya. Bahkan mereka juga menikmati dengan ikutan tren yang ada di media sosial saat ini. Mayoritas anak muda memiliki sifat dan pemikiran yang belum benar-benar matang. Kecenderungan anak muda berperilaku atau bertindak tanpa berpikir untuk jangka waktu panjang juga menjadi salah satu alasan mengapa anak muda lebih mudah terpengaruh tren yang ada. 

Keinginan untuk mencari jati diri pada anak muda juga membuat mereka berusaha untuk bisa sama dengan orang lain. Karena perasaan takut dikucilkan, takut berbeda, dan takut tertinggal dari orang lain. Hal tersebut membuat generasi Z lebih mudah terpapar oleh pengaruh gaya hidup ikut-ikutan tersebut.

Menurut Harvey Leibenstein efek bandwagon merupakan suatu kasus dimana seorang individu menginginkan suatu komoditas yang sama dengan individu lain. Artinya, orang akan berpengaruh dengan gaya seseorang atau perilaku seseorang, maka orang yang melihat hal ini juga mengikutinya. 

Efek bandwagon juga dilihat dari lingkungan sosialnya, kalau lingkungan sosialnya tidak terlalu mengikuti trend di media sosial maka lingkungan itu tidak berpengaruh dengan hal yang terjadi di media sosial. Kalau lingkungan sosialnya sangat mengikuti gaya atau trend di media sosial, maka lingkungan tersebut akan di pengaruhi dengan efek bandwagon tersebut. Karena mereka mencoba hal yang baru terjadi di media sosial dan menerapkan di kehidupan nyata mereka.

Seorang remaja atau anak muda yang pemikirannya masih labil cenderung membeli sesuatu hanya untuk ikut-ikutan tanpa berpikir mengenai manfaatnya untuk jangka panjang. Berdasarkan analisis data, dapat kita simpulkan bahwa mayoritas anak muda atau remaja lebih mudah tertarik oleh promosi serta tren yang sedang banyak dibicarakan di media sosial. Kecenderungan dan keinginan agar bisa menjadi seperti idolanya pun terkadang membuat seorang remaja dapat berperilaku konsumtif. 

Seharusnya hal ini tidak terjadi pada diri anak muda, hal ini menghambat perkembangan pola pikir dan tingkah laku mereka di media sosial. Bahkan anak muda jaman sekarang seringkali mereka menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri mereka di media sosial, baik itu tentang percintaan maupun masalah pribadinya. Hal ini terjadi, karena efek media sosial yang selalu menampilkan artis yang selalu mengeluh dengan kehidupan ekonominya, keluarga serta masalah perselingkuhan. 

Pengaruh dari media sosial ini, yang menghambat segala kreativitas anak muda untuk berkembang dari segi mental yang sering ikut-ikutan tren yang ada di media sosial. Contohnya anak muda yang mengikuti tren artis yang membeli barang brand yang lagi viral di media sosial serta mereka mengikuti artis idola mereka layaknya seperti idola mereka tersebut. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada diri mereka, ini akan merusak citra mereka sebagai anak muda. Akibat dari hal ini menjadi mental mereka menurun dalam hal berprestasi. 

Anak muda seharusnya memberikan edukasi yang baik di media sosal, bukan sebaliknya. Tak heran sekarang anak muda lebih memilih jalan instan untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya tanpa ada kerja keras dalam dirinya. Dimana anak muda sekarang lebih suka ikut-ikutan trend di media sosial. Hal ini akan menjadi kurangnya inovasi anak muda sekarang, karena tidak membuat kreativitas dari dirinya sendiri dan mereka lebih nyama menikmati karya orang lain. Seharusnya anak muda lebih inovatif dan kreatif dalam segala hal, karena anak muda menjadi tolak ukur perkembangan bangsa dan negara kedepannya.

Bandwagon effect dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh faktor seperti adanya tekanan lingkungan sosial. Dimana faktor ini akan mempergaruhi anak muda yang ingin menang dalam hal apapun, hal inilah mengapa anak muda lebih ikut-ikutan yang terjadi di media sosial dan di lingkungan sosial mereka sehari-hari. Dan mereka juga membentuk kelompok sosial, membentuk konformitas untuk mengikuti trend di media sosial. 

Maka hal inilah, yang menimbulkan impresi bagi kesehatan mental anak muda dan  paling benar melakukan bandwagon effect untuk dilakukan oleh mereka. Faktor bandwagon effect ini, karena adanya tekanan untuk ikut terlibat. Anak muda cenderung tidak menyukai yang berbeda dibandingkan dari yang lain. Sehingga melakukan hal yang sama dengan kelompok sosial akan dilihat sebagai cara untuk terlibat dan diterima secara sosial.

Efek Bandwagon ini akan sangat bias, tergantung pada jumlah tindakan orang yang mendukungnya. Semakin banyak pendukungnya, semakin tinggi pula kemungkinan orang lain juga akan mendukung tindakan tersebut. Ini adalah efek yang sangat umum terlihat hampir di semua orang. Ini juga digunakan secara luas dalam pemasaran dan politik. 

Menghindari efeknya adalah suatu keharusan agar kita dapat memproses peristiwa dengan benar secara ringkas. Harapannya para generasi muda jangan mudah tertarik dengan berbagai tindakan yang hanya dilandasi dengan rasa ikut-ikutan atau sekedar trend semata.

Bandwagon effect ini juga salah satu fenomena sosial yang ada di masyarakat itu terjadi karena di pengaruhi oleh sosial dan lingkungan. Dilansir dari Investopedia, efek bandwagon adalah kecenderungan individu untuk memperoleh gaya, perilaku, atau sikap tertentu karena semua orang melakukannya. Effect bandwagon ini juga di pengaruhi oleh media sosial, dimana anak muda lebih menyukai hal kekinian atau yang terbaru di media media sosial. 

Mereka lebih mengikuti hal tersebut dibandingan dengan kreatif dalam diri mereka. Akibat dari hal ini menjadi mental anak muda menurun. Efek bandwagon ini cenderung terjadi dalam kehidupan media sosial, dimana anak muda lebih nyaman dan ikut trend yang sedang viral di media sosial mereka masing.

Jadi, efek bandwagon ini harus di cegah dan atasi dengan baik agar anak muda tidak mudah ikut-ikutan trend yang di media sosial. Maka peran orang tua di sini sangat penting untuk memberi pemahaman tentang dampak dari bandwagon yang dilakukan oleh anaknya. Salah satunya adalah mereka kurang belajar dan hai ini mempengaruhi masa depan mereka kedepannya. Efek bandwagon bisa terjadi karena orang-orang dipengaruhi oleh tekanan yang bisa mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan di media sosial, salah satunya yaitu perilaku anak muda di media sosial.

Perilaku anak muda di media sosial, ini terjadi karena sering menonton fenomena yang terjadi tren di media sosail yang membuat dirinya untuk mengikutinya serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu saja, efek bandwagon ini juga sering terjadi karena kita cenderung ingin menjadi sama seperti banyak orang. Kecenderungan manusia adalah ingin diakui. Itulah sebabnya kita cenderung nyaman jika orang lain melihat dan mengakui kita dalam sebuah kelompok sosial sehingga kita merasa semakin diterima dengan menjadi sama dengan orang lain.

Hal ini menjadi kurangnya percaya diri anak muda dalam berkarya, karena keseringan mengikuti karya orang lain serta menikmatinya. Seharusnya hal ini tidak terjadi yang menghambat anak muda untuk berkembang dalam melakukan karyanya. Tapi pada kenyataan anak muda sekarang malah senang untuk menikati hasil karya orang lain di media sosial. 

Media sosial mejadi tempat berlabuh anak muda untuk mencurahkan segala keluh kesanya, agar dapat di perhatikan oleh publik. Dan kemudian di sanjuang dan menjadi viral. Hal semacan ini seharusnya tidak terjadi pada anak muda. Efek dari ini akan membiasakan diri mereka untuk hal konyol atau luar nalar untuk menjadi terkenal di media sosialnya.

Untuk menghindari dari efek bandwogan ini, jangan mudah percaya terhadap saran dari orang lain serta mempertimbangkan dengan matang dan lakukan evaluasi secara mandiri atau bersikap kritis agar tidak terjadi dengan hal yang tidak diinginkan. Jangan terburu-buru mengambil sebuah keputusan dan beri jeda waktu untuk berpikir sejenak agar keputusan yang di buat tidak mencelakai diri sendiri di kemudian hari. Dan tidak memaksakan diri serta keadaan untuk mengikuti suatu kelompok. 

Pilihlah lingkungan serta kelompok yang memang sesuai dengan keadaan kita dan jangan memaksakan diri untuk menjadi orang lain yang dapat merugikan diri kita sendiri nantinya. Baik itu dari segi nilai yang dipegang serta pola perilaku yang ada dalam diri kita.

***

*) Oleh : Hendrikus Harum, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES