Kopi TIMES

Miras Bukan Solusi dari Permasalahan

Rabu, 22 November 2023 - 14:37 | 31.00k
Gregorius Gunawan Labar, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.
Gregorius Gunawan Labar, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Kasus 24 juni 2023 sebagai bukti nyata dari dampaknya miras. Keisnael Murri seorang mahasiswa Universitas Tribhuwana Tungga Dewi di keroyok hingga mati, dikarenakan pertikaian darah yang berawal dari minuman keras di hari raya kelulusan kakaknya.

Kita berpikir bahwa semua itu hal yang baik tetapi tidak dengan sadar bahwa anda suda masuk dalam lingkaran setan. Anda punya masalah, dan titik akhir dari masalah anda adalah sebotol miras, apakah kita pernah berpikir sebotol miras itu punya pikiran untuk memperbaiki masalah? tentu tidak kawan, yang kita rasakan hanyalah sebuah halusinasi untuk menghilangkan beban sesaat ketika efek miras sudah tidak ada tentu kita merasakannya lagi.

Ada sebuah keanehan mental yang membahayakan pikiran anda, dan jika itu terus di pelihara, dapat membuat anda kurang waras. Anda merasa berantakan dengan pikiran anda ketika menghadapi sebuah masalah dalam hidup, dan pada saat itu kecemasan mulai terlihat, dari hal itu kita mulai bertanya tanya mengapa kita begitu cemas dengan beban pikiran yang kita hadapi sekarang, padahal kecemasan itu yang membuat kita tidak percaya diri, untuk bisa bertanggung jawab akan hal apa yang terjadi.

Kemudian amarah kita yang terlihat seperti singa mulai redah, sekarang lihat diri anda apakah itu sebuah solusi? Kaca lemari yang menjadi saksi seusai kita meninju sebuah dinding. Ingat kawan sekeras kerasnya minuman yang disebut miras dia hanyalah penenang tapi bukan sebagai solusi.

Kita juga gampang kesal atas kebodohannya kita sendiri tanpa tau alasannya mengapa hal itu terjadi, dan faktanya kita gampang marah dan sekali kita marah kebodohan kita sangat terlihat jelas, dan kita benci akan hal itu.

Atau kita begitu sulit tidak bisa melakukan hal dengan baik sehingga kita begitu khawatir tentang betapa besar kekhawatiran kita, atau kita  pernah merasa bersalah baik itu dengan teman kerabat pacar atau keluarga tentang betapa besar kesalahan kita, atau kita merasa sedih kesepian sehingga sering membuat kita lebih dari sedih dan kesepian hanya karena memikirkannya.

Kita bisa mengalaminya beberapa kali atau lebih dan mungkin  kita mengalaminya langsung, ya tuhan saya seorang pengecut karena saya tidak bertanggung jawab akan apa yang terjadi dalam hidup saya, saya berhenti menjadi seorang pecundang. 

Tenang kawan, percayalah ini anehnya menjadi manusia, hanya beberapa orang di bumi ini yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan meyakinkan diri sebelum melakukan sesuatu.

Itulah mengapa bukan miras solusinya, karena alasannya mengapa kita dibikin bodoh dan terpengaruh dari air berwarna warni itu, satu yang perlu diingatkan satu hari kamu merasakan keburukan dalam hidupmu sampai lupa bahwa ada 29 hari untuk merubah keburukan itu menjadi suatu kebaikan.

Sekarang permasalahan kita saat ini jika ada masalah, media sosial dijadikan ajang pamer, ada 10 ribu postingan di Facebook “Bagaimana menjadi bahagia” padahal itu letak kekeliruan kita itu hanyalah postingan sampah karena kalau kita terus mencari kebahagiaan pastikan kita tidak menemukan arti dalam sebuah kehidupan.

Kita sebagai manusia sudah diberi keistimewaan untuk dapat berpikir tentang pikiran kita, misalnya saya dapat berpikir dibalik leluconnya dunia ada kehidupan yang keras yang perlu kita lewati, dan saya pastikan itu nanti, sungguh itulah keajaiban dari sebuah kesadaran. 

Sebenarnya sangat gampang. Anda hanya membutuhkan pikiran yang jernih untuk mengetahui dan mengatasi masalah yang datang bertubi tubi dan membelit hidup anda. 

Ada beberapa cara untuk mengatasi hal itu cukup berpikir positif dan berbenah diri mencari tau agar permasalahan yang kita hadapi itu seperti apa. Dari cara itu kita mendapatkan ketenangan batin berserah diri kepada sang maha kuasa dan jangan pernah memikul sendiri atas permasalahan yang sedang dihadapi.

Kekuatan manusia itu ada batasnya, berserah diri bukan berarti kita tidak melakukan apa apa, berserah diri adalah bagaimana cara kita untuk bisa menemukan solusi dari apa yang kita hadapi, kepada siapa lagi kita meminta pertolongan selain kepada dia sang maha pencipta. Itulah satu satunya jalan keluar yang kita miliki bukan miras yang kita hadapai melainkan Tuhan yang kita percayai.

***

*) Oleh : Gregorius Gunawan Labar, Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES